[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #33

Resep Medis Gelap

Sore turun perlahan di rumah sakit universitas, tetapi bangunan itu tidak pernah benar-benar mengenal kata sepi.

Di lantai bawah, troli makanan masih bergerak melewati lorong. Di lantai atas, suara roda ranjang sesekali bergesekan dengan lantai vinil. Bau antiseptik melekat di udara, bercampur dengan aroma kopi dari ruang istirahat staf yang pintunya terbuka sedikit.

Ren berdiri di depan sebuah pintu abu-abu dengan kartu identitas mahasiswa tergantung di dada.

Tulisan kecil di samping pintu itu membuat matanya berhenti sejenak.

Pharmaceutical Storage. Authorized Personnel Only.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Di luar ruangan itu, Ren adalah mahasiswa kedokteran tahun pertama yang dikenal cukup disiplin. Nilainya bagus. Cara bicaranya tenang. Ia mampu menjelaskan suatu kasus tanpa terburu-buru dan hampir selalu mengingat apa yang dikatakan dosen.

Tidak ada yang akan menduga bahwa orang yang berdiri di depan pintu itu sedang menghitung konsekuensi dari sebuah keputusan yang bahkan tidak seharusnya dipertimbangkan.

Ren menarik napas.

Kemudian pintu terbuka.

Udara di dalam lebih dingin.

Rak-rak logam berdiri dalam barisan panjang, dipenuhi kotak dan wadah berlabel. Beberapa memiliki tanda peringatan. Beberapa lainnya disimpan di balik pintu terkunci. Setiap benda di ruangan itu seolah mengatakan hal yang sama kepadanya.

Semua tercatat.

Semua dapat dilacak.

Ren menelan ludah.

Ia tahu.

Justru karena ia tahu, langkah berikutnya terasa jauh lebih berat.

"Masih di sini?"

Suara dari ujung rak membuat bahunya menegang.

Seorang dokter muda berusia sekitar dua puluh empat tahun muncul sambil membawa clipboard. Senior laboratorium itu mengenakan jas putih yang sudah sedikit kusut setelah seharian bekerja.

Ren segera mengubah ekspresinya.

"Sebentar saja, Senpai."

"Penelitian lagi?"

Ren mengangguk.

"Endokrinologi."

Senior itu tersenyum tipis.

"Rajin sekali."

"Kalau tidak sekarang, kapan?"

Jawaban itu keluar begitu alami sehingga Ren sendiri hampir mempercayainya.

Senior tersebut tertawa kecil sebelum kembali memeriksa beberapa kotak.

Ren menundukkan kepala dan membuka catatan yang sudah ia siapkan.

Di atas kertas terdapat beberapa istilah akademis, referensi, dan catatan mengenai terapi hormon.

Semuanya benar.

Tidak ada satu pun kebohongan dalam isi penelitian itu.

Kebohongannya terletak pada alasan mengapa penelitian tersebut dibutuhkan.

Ren memandangi tulisan tangannya sendiri.

Ia sedang memanfaatkan sesuatu yang selama ini menjadi kekuatan terbesar dalam hidupnya.

Pengetahuan.

Posisinya sebagai mahasiswa.

Kemampuan membaca situasi.

Kemampuan mengetahui kapan seseorang akan melihat dan kapan seseorang akan mengalihkan perhatian.

Semua hal yang membuatnya bertahan hidup di dua dunia sekarang dipakai untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bukan untuk menyelamatkan seseorang.

Bukan untuk menjawab pertanyaan ujian.

Melainkan untuk mempertahankan keberadaan Rin.

Ren memejamkan mata sebentar.

Kalau aku kehilangan ini, aku tidak tahu bagaimana tubuhku akan terasa.

Ia membuka mata kembali.

Sebuah vial yang selama ini hanya berani ia bayangkan dari jauh berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.

Ren tidak menyentuhnya.

Belum.

Ia memeriksa sekeliling.

Senior itu masih membelakangi dirinya.

Suara kertas dibalik terdengar dari sisi lain ruangan.

Ren bergerak.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Gerakannya justru terlalu biasa, seperti seseorang yang memang sedang bekerja.

Tangannya menjangkau area penyimpanan.

Jantungnya berdetak sekali dengan keras.

Kemudian sekali lagi.

Ia mengambil sesuatu yang kecil dari antara perlengkapan yang tersedia dan segera menyembunyikannya di dalam saku jas.

Tidak ada suara alarm.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada lampu merah yang menyala.

Hanya suara pendingin ruangan.

Ren berdiri diam selama dua detik.

Dua detik yang terasa terlalu panjang.

Lalu suara langkah kaki terdengar.

"Ren?"

Tubuhnya membeku.

Senior itu muncul dari balik rak.

"Ya?"

"Sudah selesai?"

Ren mengangkat clipboard.

"Belum. Saya sedang mengecek bagian yang ini."

Senior tersebut melihat ke arah rak.

Tatapannya bergerak dari kotak-kotak di sana ke wajah Ren.

Lalu kembali ke rak.

Ren merasakan telapak tangannya mulai lembap.

"Yang itu bukannya sudah harus dipisahkan?"

Lihat selengkapnya