[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #34

Bisikan di Koridor Kampus

Siang di fakultas kedokteran selalu memiliki suara yang sama.

Baki makan yang diletakkan terlalu keras di atas meja. Bunyi sendok beradu dengan mangkuk. Kursi yang bergeser tergesa-gesa karena seseorang harus kembali ke laboratorium sebelum dosen masuk. Percakapan tentang ujian, laporan praktikum, nilai kuis, dan pasien simulasi bercampur menjadi satu kebisingan yang terasa akrab bagi Ren.

Ia duduk di ujung meja kantin dengan punggung sedikit membungkuk, satu tangan memegang sumpit, tangan lainnya membuka layar tablet.

Di layar terdapat gambar anatomi yang sudah ia lihat tiga kali sejak pagi.

Ia membaca satu paragraf.

Menggulir.

Membaca lagi.

Tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk.

Pikirannya masih tertinggal pada jadwal sore.

Latihan.

Studio.

Kostum.

Makeup.

Kemudian panggung kecil yang mungkin akan dipenuhi orang.

Ren mengambil sepotong makanan, mengunyah perlahan, lalu kembali menatap tablet.

"Ren."

Ia tidak langsung mengangkat kepala.

"Ren Tachibana."

Kali ini suara itu terdengar tepat di samping telinganya.

Ren menghela napas pelan.

"Ya?"

Daiki menjatuhkan tubuhnya ke kursi di hadapannya. Bunyi kaki kursi bergeser cukup keras sampai dua mahasiswa di meja sebelah menoleh.

Daiki adalah tipe orang yang tidak pernah benar-benar belajar bagaimana berbicara dengan volume rendah.

"Kau makin susah ditemui."

Ren mengangkat mata dari tablet.

"Aku kuliah."

"Kita semua kuliah."

"Berarti masalahmu selesai."

Daiki tertawa.

"Masih dingin seperti biasa."

Ren kembali ke tabletnya.

Ia berharap percakapan selesai.

Tidak.

Daiki membuka kotak makanannya, kemudian menatap Ren dari atas ke bawah dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari sesuatu.

"Eh."

Ren berhenti menggulir.

"Apa?"

"Kulitmu."

Ren menatapnya.

Daiki menunjuk pipinya sendiri.

"Kelihatan makin halus."

Jari Ren berhenti di atas layar.

Hanya sesaat.

"Efek sabun."

"Sabun?"

"Iya."

Daiki menyipitkan mata.

"Sabun apa?"

"Sabun."

"Jawaban macam apa itu?"

"Jawaban yang cukup."

Daiki terkekeh, tetapi matanya belum berpaling.

"Terus kau makin kurus juga."

Ren menurunkan pandangan.

Ia tahu.

Beberapa minggu terakhir, pakaian yang dulu terasa pas mulai memberikan ruang lebih banyak di bagian tertentu. Wajahnya pun tampak lebih lembut daripada beberapa bulan lalu. Bukan perubahan yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi kecil yang baru terlihat ketika seseorang tidak bertemu dengannya setiap hari.

Daiki mungkin tidak mengetahui alasannya.

Namun Daiki cukup sering melihatnya untuk menyadari perbedaannya.

"Kau sakit?" tanyanya.

"Tidak."

"Kurang makan?"

"Tidak."

"Olahraga berlebihan?"

Ren menatapnya datar.

"Kau sedang wawancara?"

Daiki tertawa lagi.

"Serius. Kau kelihatan beda."

Ren menutup tabletnya.

"Semua orang berubah."

"Ya, tapi..."

Daiki berhenti.

Ia memiringkan kepala.

Ren langsung tahu percakapan itu akan menuju arah yang tidak ia sukai.

"Kalau dilihat dari belakang," kata Daiki sambil menunjuknya sembarangan, "kau sekarang malah kelihatan seperti cewek tomboi."

Sumpit Ren berhenti di udara.

Meja itu seolah kehilangan suara selama satu detik.

Ren menurunkannya perlahan.

Wajahnya tidak berubah.

Hanya rahangnya yang mengeras sedikit.

Daiki segera mengangkat kedua tangan.

"Eh, jangan marah. Aku cuma bercanda."

"Aku tidak marah."

"Kelihatannya marah."

"Aku hanya ingin makan."

Daiki terkekeh gugup.

"Oke, oke."

Ren mengambil air mineral.

Ia minum sedikit.

Dingin air melewati tenggorokannya, tetapi tidak menghilangkan rasa panas yang muncul di belakang telinga.

Cewek tomboi.

Kalimat sederhana.

Bercanda.

Tidak jahat.

Namun tubuh Ren bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Ia menurunkan bahu.

Merapikan kerah kemeja.

Menarik ujung lengan bajunya sedikit lebih jauh ke pergelangan tangan.

Gerakan kecil yang bahkan tidak disadari Daiki.

Ren membuka kembali tablet.

"Kau sudah mengerjakan bagian innervasi ekstremitas atas?"

Daiki mengerjap.

"Hah?"

"Tugas anatomi."

Lihat selengkapnya