Sore itu, asrama ECLIPSE terasa lebih kosong daripada biasanya.
Pintu lemari es terbuka sebentar, lalu tertutup dengan bunyi pelan. Cahaya matahari masuk melalui sela tirai ruang tamu dan jatuh miring di atas meja rendah, membentuk persegi panjang keemasan di lantai. Dari balkon, suara lalu lintas terdengar seperti dengung yang jauh.
Empat anggota lainnya sedang pergi membeli kebutuhan untuk malam itu.
Rin tinggal sendirian.
Ia berdiri di dapur kecil sambil menuangkan air panas ke dalam teko.
Uap tipis naik di depan wajahnya.
Hari itu seharusnya sederhana.
Tidak ada jadwal pemotretan. Tidak ada wawancara. Tidak ada latihan sampai larut.
Hanya beberapa jam istirahat sebelum kegiatan berikutnya.
Rin mengambil cangkir dan membawanya ke ruang tamu.
Baru saja ia duduk ketika bel berbunyi.
Sekali.
Rin mengangkat kepala.
Bel berbunyi lagi.
Ia melihat jam.
Terlalu sore untuk kurir.
Mungkin Aoi lupa membawa kunci.
Rin berjalan ke pintu.
"Siapa?"
"Rin. Aku."
Suara Ryuuto.
Seketika bahunya menegang.
Tangannya masih berada di gagang pintu.
"Ryuuto-san?"
"Benar. Aku membawa dokumen."
Rin diam beberapa detik.
Kemudian membuka pintu.
Ryuuto berdiri di luar dengan map tipis di tangan.
Ia tersenyum seolah kedatangannya merupakan hal paling biasa di dunia.
"Maaf datang mendadak."
"Ada apa?"
"Persetujuan penampilan televisi."
Ia mengangkat map tersebut.
"Harus segera ditandatangani."
Rin tidak langsung mempersilakannya masuk.
Tatapannya berpindah dari map ke wajah Ryuuto.
"Kenapa tidak diberikan ke manajemen?"
"Aku kebetulan lewat."
Jawabannya terlalu mudah.
Rin akhirnya membuka pintu lebih lebar.
"Silakan."
Ryuuto masuk.
Pintu tertutup di belakangnya.
Klik.
Suara pengunci itu terdengar lebih keras daripada seharusnya.
Ryuuto meletakkan map di meja.
"Yang ini."
Rin duduk berseberangan dengannya.
Ia membuka halaman pertama.
Nama ECLIPSE.
Nama agensi.
Jadwal.
Stasiun televisi.
Beberapa halaman berikutnya.
Rin membaca cepat.
"Ini bukan cuma persetujuan penampilan."
"Memang ada beberapa klausul tambahan."
"Kenapa tidak disebutkan sebelumnya?"
Ryuuto bersandar di sofa.
"Karena kalau dijelaskan semuanya dari awal, kau akan terlalu banyak bertanya."
Rin mengangkat mata.
"Memangnya itu masalah?"
Ryuuto tertawa pendek.
"Kadang-kadang."
Rin menutup map.
"Aku akan membacanya dulu."
"Kau bisa percaya padaku."
"Justru karena ini menyangkut kontrak, aku harus membaca."
Ryuuto menatapnya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Kemudian ia bangkit.
Rin mengikutinya dengan mata.
"Ryuuto-san?"
"Aku cuma ingin bicara."
"Silakan bicara dari sana."
Ada jeda.
Ryuuto berdiri beberapa langkah dari sofa.
"Kau selalu seperti ini."
"Seperti apa?"
"Selalu menjaga jarak."
Rin tidak menjawab.
Ryuuto berjalan mendekat.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Rin berdiri.
Jarak di antara mereka menyempit.
"Jangan terlalu dekat."
Nada suara Rin tetap lembut.
Tidak tinggi.
Tidak gemetar.
Ryuuto tersenyum.
"Kau takut padaku?"
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa?"
"Karena aku tidak nyaman."
Jawaban itu sederhana.
Tegas.
Ryuuto berhenti.
Namun bukan berarti ia mundur.
Tangannya bergerak ke arah pinggang Rin.
Rin langsung menahan pergelangan tangannya.
Gerakannya cepat.
"Jangan."
Untuk pertama kalinya, senyum Ryuuto berubah.
Bukan menjadi marah.
Justru menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Senyum seseorang yang merasa baru menemukan celah.
"Kau terlalu tegang."
"Aku bilang jangan."
Ryuuto menarik tangannya perlahan.
"Kita sudah bekerja bersama cukup lama."
"Hubungan kerja tidak memberi izin untuk menyentuh tubuh orang lain."