[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #36

Ruang Ganti yang Sempit

Akihabara pada malam hari memiliki suara yang berbeda.

Bukan suara kota yang tenang setelah matahari terbenam, melainkan dengung listrik yang terus hidup dari papan reklame, toko-toko elektronik, kereta yang melintas beberapa blok dari sana, dan kelompok anak muda yang bergerak dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain. Di sebuah gang sempit yang hampir tidak menarik perhatian dari jalan utama, sebuah papan kecil bertuliskan nama live house menyala merah di atas pintu.

Di lantai bawah, suara bass sudah terasa bahkan sebelum pintu dibuka.

Dum.

Dum.

Dum.

Lantai beton di bawah sepatu Rin bergetar tipis.

Begitu pintu backstage tertutup di belakang mereka, dunia berubah menjadi ruang yang terlalu kecil untuk lima orang.

Ruang ganti ECLIPSE bahkan tidak pantas disebut ruang.

Sebuah ruangan persegi dengan dinding abu-abu, satu cermin besar yang bagian bawahnya sudah retak, beberapa gantungan pakaian, rak logam, dua kursi lipat, dan sebuah kipas kecil yang berputar dengan suara berderit. Di salah satu sudut terdapat meja dengan botol air, handuk, kabel charger, kosmetik, dan kotak-kotak kecil perlengkapan panggung.

Tidak ada bilik.

Tidak ada sekat.

Tidak ada ruang privat yang benar-benar bisa ditutup.

Di pintu ditempel selembar kertas dengan tulisan tangan.

ECLIPSE — 5 MIN.

Rin baru saja selesai mengusap keringat dari leher ketika seorang staf membuka pintu.

"Lima menit menuju sesi kedua."

"Sudah?" Yuka langsung menoleh.

"Baru tiga menit sejak kita turun panggung!"

"Jadwalnya memang seperti itu."

Staf mengangkat tangan.

"Set kedua dimulai tujuh menit lagi. Kalian punya tiga menit untuk ganti kostum dan dua menit untuk touch-up."

Pintu kembali tertutup.

Semua orang terdiam.

Kemudian Mei mengangkat kedua tangannya.

"Oke."

Ia menarik napas.

"Jangan panik."

"Aku tidak panik."

Yuka sudah menarik resleting kostumnya.

"Aku panik."

Chino tertawa kecil sambil mencari pakaian berikutnya di gantungan.

Aoi memeriksa urutan aksesori.

"Yuka, sepatu yang putih."

"Sudah."

"Yang kanan punya pita."

"Ini?"

"Yang itu."

"Ah."

Ruang kecil tersebut langsung berubah menjadi mesin yang bergerak terlalu cepat.

Rin berdiri di dekat dinding.

Ia sudah memperkirakan masalah ini sejak mereka menerima rundown.

Pergantian kostum dalam waktu tiga menit bukan sesuatu yang luar biasa untuk pertunjukan kecil yang jadwal panggungnya padat. Tetapi bagi Rin, ruang tanpa sekat selalu membawa persoalan lain.

Ia tidak boleh terlihat ragu.

Tidak boleh terlalu lama berada di belakang orang lain.

Tidak boleh menarik perhatian pada gerakan yang sebenarnya tidak dilakukan anggota lain.

Dan terutama, ia tidak boleh membiarkan satu gerakan yang salah mengubah pertanyaan sederhana menjadi kecurigaan.

"Rin."

Aoi melemparkan handuk kecil kepadanya.

"Ya?"

"Kamu kostum kedua di mana?"

"Di tas hitam."

Rin menunjuk tas yang berada di dekat rak.

Aoi mengambilnya.

"Ini?"

"Iya."

Rin segera bergerak ke sudut ruangan.

Sudut tersebut berada di belakang rak pakaian dan sedikit terlindung dari cahaya cermin. Bukan tempat yang benar-benar tertutup, tetapi cukup untuk menciptakan bayangan.

Ia meletakkan kostum baru di atas tas.

Tangannya bergerak cepat.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Tidak ada kepanikan.

Hanya urutan yang sudah ia hafalkan.

Kostum panggung pertama dilepas dengan gerakan terkontrol, dilipat sekadarnya agar tidak kusut, lalu dimasukkan ke dalam tas. Pakaian yang akan dikenakan berikutnya sudah diposisikan sesuai urutan.

Rin tidak melihat ke arah cermin.

Ia tidak membutuhkan cermin.

Yang ia butuhkan hanyalah tiga menit.

Dari depan ruangan terdengar suara Yuka.

"Mei, bisa tolong?"

"Tunggu, aku sedang memasang anting."

"Bagian belakangnya susah."

"Aoi!"

"Apa?"

"Tolong bantu Yuka."

Aoi sedang memasang mikrofon kecil ke kostumnya.

"Tangan aku penuh."

Yuka menghela napas.

"Rin?"

Rin berhenti sesaat.

"Ya?"

"Bisa bantu kancing belakang?"

Rin menoleh.

Yuka sudah berdiri membelakanginya sambil menahan bagian depan gaun agar tetap pada tempatnya. Rambutnya telah disisir ke satu sisi. Bagian belakang gaunnya memiliki deretan kancing kecil yang harus dikunci satu per satu.

Rin mengangguk.

"Bisa."

Ia mengambil posisi di belakang Yuka.

"Jangan bergerak."

"Maaf."

"Diam saja."

Rin memusatkan perhatian pada kancing.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ia sengaja mengarahkan pandangan hanya pada bagian pakaian yang sedang dikerjakan.

Bukan tubuh Yuka.

Lihat selengkapnya