Ginza pada malam hari tampak seperti kota yang tidak pernah mengenal kata cukup.
Cahaya dari papan nama butik memantul di permukaan jalan yang masih basah oleh hujan sore. Mobil-mobil hitam berhenti satu per satu di depan restoran-restoran dengan pintu masuk yang hampir tidak pernah dilewati orang tanpa reservasi. Di antara gedung tinggi dan etalase kaca, ada tempat-tempat yang sengaja dibuat seolah-olah tidak membutuhkan papan nama.
Restoran itu salah satunya.
Tidak ada keramaian di depan pintu. Hanya seorang petugas bersarung tangan putih yang membuka pintu ketika mobil mereka berhenti.
"Jangan banyak bicara malam ini."
Itulah kalimat pertama Ryuuto ketika mereka turun.
Aoi menoleh.
"Kenapa?"
"Karena yang datang bukan penggemar."
Ryuuto merapikan kerah jasnya.
"Mereka orang-orang yang membiayai kalian."
Yuka menelan ludah.
Mei hanya mengangguk.
Chino berdiri sedikit lebih dekat kepada Aoi.
Rin memperhatikan gerakan kecil itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Mereka mengikuti Ryuuto masuk.
Restoran itu jauh lebih sunyi daripada live house tempat mereka biasa tampil. Karpet tebal meredam langkah kaki. Lampu berwarna hangat menggantung rendah di atas meja. Bau kayu, anggur, dan makanan yang dimasak dengan mentega memenuhi lorong.
Mereka dibawa ke ruang VIP di lantai atas.
Begitu pintu ditutup, Rin langsung memahami mengapa Ryuuto meminta mereka datang dengan pakaian formal.
Ruangan itu terlalu besar untuk disebut ruang makan biasa.
Meja panjang telah disiapkan dengan piring porselen, gelas kristal, dan rangkaian bunga putih di tengah meja. Beberapa pria berusia empat puluhan hingga enam puluhan sudah duduk di sana. Jas mereka tidak memiliki logo mencolok, tetapi jam tangan, cincin, dan cara mereka memperlakukan staf membuat satu hal jelas.
Mereka tidak perlu memperkenalkan diri untuk menunjukkan bahwa mereka kaya.
Ryuuto membungkuk.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Salah seorang pria mengangkat gelas.
"Oh, ini ECLIPSE?"
"Benar."
Ryuuto tersenyum.
"Kelima anggota."
Tatapan pria itu bergerak perlahan dari satu anggota ke anggota lain.
Berhenti sedikit lebih lama pada Rin.
"Yang mana Center?"
Ryuuto menunjuk.
"Rin."
Rin tersenyum.
"Senang bertemu dengan Anda."
"Ah."
Pria itu tertawa kecil.
"Jadi ini."
Nada suaranya tidak kasar.
Justru terlalu santai.
Seolah-olah Rin bukan seseorang yang baru saja diperkenalkan kepadanya, melainkan barang yang selama ini hanya ia lihat dari katalog.
Rin mempertahankan senyumnya.
"Silakan duduk."
Mereka mengambil tempat.
Tidak lama kemudian, makanan mulai disajikan.
Namun percakapan tidak benar-benar dimulai dari makanan.
"Tuangkan."
Seorang staf menunjuk botol di meja.
Ryuuto langsung memandang kelima anggota.
"Layani tamu."
Aoi terdiam sepersekian detik.
Kemudian mengambil botol.
"Baik."
Mei mengikuti.
Yuka berdiri.
Chino juga hendak bangkit, tetapi Rin menyentuh lengannya pelan.
"Tunggu."
Chino menoleh.
Rin tersenyum seolah sedang membicarakan hal biasa.
"Yang sebelah sana sudah punya."
Chino melihat gelas pria di sebelahnya.
"Oh."
Ia kembali duduk.
Rin mengambil botol lain dan berdiri.
Ia berjalan mengitari meja.
Satu gelas.
Dua gelas.
Tiga.
"Terima kasih."
"Ah, idol memang pintar melayani."
Kalimat itu disambut tawa beberapa orang.
Rin ikut tersenyum.
Namun matanya tetap dingin.
Ia sudah memahami pola malam ini.
Mereka tidak sedang makan malam bersama sponsor.
Mereka sedang mempertunjukkan kepada para sponsor bahwa kelima gadis di depan mereka bersedia menjadi bagian dari dunia mereka.
Perbedaan itu tipis.
Tetapi penting.
"Rin-chan."
Sponsor senior yang duduk di ujung meja memanggil.
Rin berhenti.
"Ya?"
"Duduk di sini."
Ia menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Rin tidak langsung bergerak.
Ryuuto memandang dari seberang meja.
Tatapannya pendek.
Namun cukup jelas.
Pergi.
Rin tersenyum.
"Maaf. Saya lebih baik tetap berdiri."
"Kenapa?"
"Kalau saya duduk, siapa yang akan menuangkan minuman?"
Pria itu tertawa.
"Kamu pintar."
"Terima kasih."
Rin menuangkan minuman ke gelasnya.
Ia tidak duduk.
Sponsor itu tampak terhibur.
Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada Chino.
"Kamu yang paling muda?"
Chino mengangguk.
"Iya."
"Berapa umur?"
"Seventeen."
Pria itu mengangkat alis.
"Masih muda sekali."
Chino tersenyum kaku.
"Iya."
"Sudah lama jadi idol?"
"Belum terlalu lama."
Percakapan terus bergerak.
Sekilas semuanya tampak normal.
Namun Rin memperhatikan tangan pria tersebut.
Terlalu dekat dengan sisi kursi Chino.