[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #38

Suara Yang Retak

Siang itu ruang rekaman Vivid Prominence terasa terlalu dingin.

Pendingin udara bekerja sejak pagi, membuat udara di dalam studio kehilangan hampir seluruh kelembapannya. Bau busa akustik, plastik kabel, kopi yang sudah lama dingin, dan sedikit aroma kayu dari panel-panel dinding bercampur menjadi satu. Di balik kaca, teknisi duduk di depan konsol dengan headphone menggantung di leher. Lampu indikator pada perangkat rekaman menyala hijau, lalu kuning ketika instrumen pembuka single baru ECLIPSE mulai diputar.

Rin berdiri di depan mikrofon dengan headphone menutup kedua telinganya.

Gaun latihan yang dikenakannya sederhana, hanya atasan putih dengan rok hitam selutut. Rambutnya diikat setengah agar tidak mengganggu wajah. Tangannya memegang lembar lirik yang sudah penuh coretan kecil dari sesi sebelumnya.

"Ayo lagi dari pre-chorus."

Pelatih vokal mereka mengangkat satu tangan dari balik kaca.

Pria itu sudah berusia awal empat puluhan dan memiliki kebiasaan mengetuk ujung pensil ke meja setiap kali mendengar nada yang menurutnya kurang tepat. Tidak pernah keras, tetapi cukup teratur untuk membuat orang di ruangan sebelah tahu kapan seorang penyanyi sedang mengalami masalah.

Rin mengangguk.

Musik dimulai.

Nada pertama keluar bersih.

Nada kedua sedikit lebih tipis.

Ia menarik napas, menjaga posisi tubuh tetap rileks, lalu memasuki bagian yang lebih tinggi. Selama beberapa minggu terakhir, bagian itu selalu menjadi titik yang paling menguras tenaga. Bukan karena Rin tidak mampu mencapai nadanya. Ia mampu. Masalahnya adalah mempertahankan kualitas suara yang sama setelah berulang kali diminta menyanyikan bagian tersebut dengan register tinggi.

Suara Rin naik.

Sedikit lagi.

Sedikit lagi.

Kemudian pada satu nada yang seharusnya menjadi puncak frase, sesuatu terasa seperti tersangkut di tenggorokannya.

Suara itu tidak pecah menjadi batuk.

Ia justru menghilang sepersekian detik.

Lalu keluar sebagai bunyi kasar yang tipis.

Krek.

Musik berhenti.

Rin membeku.

Pelatih vokal mengangkat alis.

"Ulang."

Rin menelan ludah.

"Tenggorokan saya agak..."

"Ulang."

Tidak ada kemarahan dalam suara pria itu. Justru ketenangannya membuat perintah tersebut terdengar lebih berat.

Rin menekan tombol pada headphone.

"Baik."

Musik dimulai lagi.

Kali ini ia lebih berhati-hati. Napas ditarik lebih dalam. Bahu diturunkan. Rahang dilonggarkan.

Nada-nada awal berjalan baik.

Ia memasuki bagian tinggi.

Satu nada.

Dua nada.

Pada nada ketiga, suara itu kembali pecah.

Krek.

Kali ini lebih jelas.

Rin refleks menutup mulut dengan tangan.

Di balik kaca, teknisi menurunkan volume musik.

Pelatih vokal menyandarkan punggung.

"Berapa kali kamu mau melakukan ini?"

Rin tidak langsung menjawab.

Suara yang baru saja keluar dari tenggorokannya masih terasa asing di telinga sendiri. Ada sensasi kasar ketika ia mencoba menarik napas, bukan nyeri yang tajam, tetapi cukup mengganggu untuk membuat seluruh perhatian tubuhnya tertarik ke satu titik.

"Saya bisa ulang."

"Bukan itu masalahnya."

Pelatih vokal menunjuk lembar partitur.

"Bagian ini sudah kita latih berkali-kali. Nada dasarnya tidak berubah. Tempo tidak berubah. Artikulasi juga sudah kamu kuasai. Tapi setiap kali masuk ke bagian klimaks, suaramu kehilangan kestabilan."

Rin menundukkan pandangan.

"Saya akan perbaiki."

"Kalau tidak bisa?"

Pertanyaan itu membuat jemarinya mengencang di sekitar kertas.

Pelatih vokal melanjutkan dengan nada datar.

"Saya pindahkan lead vocal bagian ini ke Aoi."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Nama itu tidak seharusnya terdengar seperti ancaman. Aoi memang vokalis yang sangat baik. Tidak ada alasan objektif untuk menganggap pengalihan bagian sebagai sesuatu yang buruk bagi grup.

Tetapi bagi Rin, kalimat itu menembus jauh lebih dalam.

Karena suara bukan sekadar bagian dari pekerjaannya.

Suara adalah salah satu dari sedikit tempat di mana dua kehidupannya bertemu.

Ren memiliki suara yang harus ia kendalikan setiap kali berbicara sebagai mahasiswa kedokteran. Rin memiliki suara yang ia bentuk menjadi sesuatu yang lebih lembut, lebih ringan, lebih tinggi. Selama ini ia menganggap perbedaan tersebut sebagai keterampilan.

Sesuatu yang bisa dilatih.

Sesuatu yang bisa dipelajari.

Sesuatu yang bisa dikendalikan.

Namun bunyi retak tadi tidak peduli pada semua itu.

Tubuh tidak mengenal kontrak.

Tubuh tidak mengenal nama panggung.

Tubuh hanya mengenal batas.

"Jangan."

Kata itu keluar terlalu cepat.

Pelatih vokal menatapnya.

Rin segera memperbaiki ekspresinya.

"Maksud saya, saya masih bisa mencoba."

"Kamu boleh mencoba. Tapi jangan memaksakan tenggorokan hanya karena takut kehilangan bagian."

Rin diam.

Kalimat itu sederhana.

Justru karena sederhana, ia terasa seperti sesuatu yang hampir mengenai rahasia yang selama ini disimpannya.

Pelatih vokal menggeser kursinya.

"Istirahat sepuluh menit."

Rin keluar dari booth.

Begitu pintu tertutup, ia tidak langsung berbicara kepada siapa pun. Ia hanya mengambil botol air dari meja dan meminumnya sedikit.

Air melewati tenggorokan dengan sensasi yang membuatnya semakin sadar pada keberadaan organ itu.

Aoi yang sedang menunggu giliran di sofa memandangnya.

"Kamu kenapa?"

Rin menggeleng.

"Enggak apa-apa."

Suara yang keluar terdengar lebih rendah dari biasanya.

Lihat selengkapnya