Jam digital di atas meja kecil menunjukkan pukul 02.07.
Asrama Vivid Prominence sudah lama tenggelam dalam kesunyian. Dari kamar-kamar di sepanjang lorong, tidak terdengar lagi suara televisi atau percakapan. Hanya dengung pendingin udara dan sesekali suara kendaraan dari jalan raya yang naik samar melalui jendela.
Mei terbangun karena ingin minum.
Ia berjalan keluar kamar dengan langkah pelan, rambutnya masih berantakan dan kaus tidur yang kebesaran menutupi sebagian tangannya. Ketika melewati ujung lorong, matanya menangkap satu garis cahaya dari bawah pintu.
Kamar Rin.
Mei berhenti.
Ia melihat jam di ponselnya.
02.07.
"Masih bangun?"
Tidak ada jawaban.
Mei mengetuk dua kali.
"Rin?"
Beberapa detik berlalu.
"Masuk saja."
Suara itu terdengar pelan.
Mei membuka pintu sedikit.
Rin duduk di atas kasur dengan punggung bersandar pada dinding. Lampu meja menyala, tetapi lampu utama dimatikan. Buku terbuka di samping paha, laptop berada dalam keadaan menyala, dan segelas air yang hampir tidak tersentuh terletak di dekat bantal.
Wajah Rin tampak pucat.
Rambutnya sudah terurai seluruhnya.
Tidak ada makeup.
Tidak ada ekspresi Center ECLIPSE yang biasanya begitu mudah muncul bahkan setelah seharian bekerja.
Mei berdiri di ambang pintu.
"Kamu belum tidur?"
Rin menggeleng.
"Belum ngantuk."
Mei menatapnya beberapa saat.
"Jam dua pagi."
"Aku tahu."
"Kamu juga tahu besok kita ada latihan."
"Aku tahu."
"Dan kamu tahu pelatih vokal bakal membunuh kita kalau datang dengan kondisi seperti zombie?"
Sudut bibir Rin bergerak sedikit.
"Hiperbola."
"Nah, masih bisa mengoreksi pilihan kata berarti belum sepenuhnya sekarat."
Mei tersenyum kecil.
Ia kemudian mengangkat sesuatu yang sejak tadi dibawanya.
"Teh."
Rin menatap cangkir di tangannya.
"Kamu bikin?"
"Kalau bukan aku, siapa? Penjaga malam?"
Rin menggeser tubuhnya sedikit.
Mei masuk dan menutup pintu.
Ia meletakkan cangkir di meja samping kasur. Uap tipis masih naik dari permukaannya. Aroma teh yang lembut segera memenuhi ruangan, bercampur dengan udara dingin dari pendingin.
Mei tidak langsung duduk.
"Kalau aku pergi sekarang, kamu bakal tidur?"
Rin menatap laptop.
"...Mungkin."
"Berarti tidak."
Mei menarik kursi dan duduk.
Rin mengembuskan napas pendek.
"Kamu tidak perlu menunggu."
"Aku tahu."
"Mei."
"Hm?"
"Aku baik-baik saja."
Mei menatapnya.
Tidak ada senyum kali ini.
"Aku juga tahu kamu tidak baik-baik saja."
Rin diam.
Mei tidak mendekat.
Tidak menyentuhnya.
Tidak bertanya apa yang terjadi.
Ia hanya mengambil cangkir tehnya sendiri yang tadi dibawa untuk berjaga-jaga, kemudian duduk dengan santai seolah mereka sedang menunggu kereta yang terlambat.
Beberapa menit berlalu.
Rin memandang layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun.
Mei sesekali menyeruput tehnya.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada "ceritakan padaku".
Justru kesunyian itulah yang perlahan membuat pertahanan Rin menjadi tidak nyaman untuk dipertahankan.
"Aneh."
Mei mengangkat alis.
"Apa?"
"Biasanya kalau orang lihat aku seperti ini, mereka langsung tanya."
"Memangnya kamu suka ditanya?"
Rin menggeleng.
"Enggak."
"Ya sudah."
Mei kembali meminum tehnya.
Rin menatapnya cukup lama.
"Kamu tidak penasaran?"
"Penasaran."
"Terus?"
"Aku bisa penasaran tanpa memaksa kamu bicara."
Jawaban itu membuat Rin menundukkan kepala.
Jemarinya bergerak perlahan di atas selimut.
Ia memegang ujung kain, melepaskannya, lalu memegangnya lagi.
"Aku..."
Suara itu berhenti.
Mei menunggu.
Rin mencoba lagi.
"Aku kadang takut."
"Aku tahu."
"Takut kalau suatu hari semua yang sekarang aku punya hilang."