Pagi itu kantor Vivid Prominence terasa lebih berisik daripada biasanya.
Bukan karena ada rapat besar.
Bukan pula karena jadwal syuting.
Hanya sebuah angka yang muncul di layar monitor komputer milik staf promosi, tetapi angka itu membuat seluruh ruangan seolah kehilangan kemampuan untuk bersikap biasa.
Nomor delapan.
Single pertama ECLIPSE masuk sepuluh besar tangga lagu Oricon.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Yuka menjerit.
"Serius?!"
Ia hampir menjatuhkan ponselnya sendiri ketika berlari mendekati meja staf.
Chino menyusul dari belakang.
"Delapan?! Kita nomor delapan?!"
"Jangan dorong!"
"Aku tidak mendorong!"
"Kamu tadi mendorong kursiku!"
"Itu refleks!"
Mei tertawa sampai harus memegang meja.
Aoi berdiri sedikit di belakang mereka dengan kedua tangan menutup mulut. Matanya membesar ketika angka tersebut diperbarui sekali lagi di layar.
Rin hanya berdiri diam.
Nomor delapan.
Ia membaca angka itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Seolah otaknya membutuhkan pengulangan untuk menerima sesuatu yang begitu sederhana.
ECLIPSE masuk Top 10.
Single yang beberapa bulan lalu masih direkam di ruangan kecil dengan peralatan seadanya kini tercatat di salah satu tangga lagu musik paling dikenal di Jepang.
Rin menatap layar.
Untuk sesaat, ia tidak melihat grafik.
Tidak melihat nama artis lain.
Tidak melihat angka penjualan.
Ia hanya melihat lima nama yang selama ini berdiri bersamanya.
Aoi.
Mei.
Yuka.
Chino.
Rin.
"Hei."
Aoi menyenggol lengannya.
"Kamu tidak senang?"
Rin tersadar.
Ia tersenyum.
"Sangat."
Yuka langsung memeluknya dari samping.
"Kita masuk Top 10!"
Rin tertawa dan membalas pelukan itu.
"Pelan."
"Kenapa?"
"Suara."
"Oh."
Yuka langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf."
Rin menggeleng sambil tersenyum.
"Enggak apa-apa."
Suasana kantor berubah menjadi pesta kecil yang tidak direncanakan.
Ada kue dari minimarket di ujung meja. Botol-botol minuman ringan dibuka. Salah satu staf bahkan menyalakan musik debut mereka dari speaker kecil yang biasanya digunakan untuk rapat.
Ryuuto muncul sekitar sepuluh menit kemudian.
Ia tidak membawa ekspresi selebrasi sebesar anggota ECLIPSE.
Namun sudut mulutnya terangkat.
"Top 10."
Ia melihat layar.
"Bagus."
Hanya satu kata.
Tetapi kali ini tidak ada seorang pun yang mengeluh.
Bahkan Ryuuto tampak memahami bahwa pagi itu bukan waktu untuk membicarakan kontrak, jadwal, atau target berikutnya.
Mei mengangkat botol minum.
"Untuk ECLIPSE."
Aoi mengangkat miliknya.
"Untuk ECLIPSE."
Yuka ikut mengangkat.
"Untuk Top 10!"
Chino tertawa.
"Untuk single pertama!"
Rin memegang botolnya sedikit lebih tinggi.
"Untuk kita."
Kelima botol bertemu.
Bunyi kecil plastik bertabrakan terdengar hampir konyol di tengah ruangan sederhana itu.
Namun Rin menyukai bunyi tersebut.
Tidak megah.
Tidak dramatis.
Hanya nyata.
Untuk beberapa menit, ia membiarkan dirinya menikmati kemenangan itu.
Kemudian ponselnya bergetar.
Satu kali.
Rin tidak langsung melihat.
Ponselnya bergetar lagi.
Ia mengambilnya.
Nama yang muncul di layar membuat senyumnya hilang.
Ayah.
Pesannya pendek.
Tidak ada salam.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada pertanyaan mengenai kondisi kuliahnya.
Hanya instruksi.
Pulang hari Sabtu ini. Kita perlu melakukan evaluasi akademik.
Pesan berikutnya masuk beberapa detik kemudian.
Jika kamu tidak datang, biaya kuliah dan akses apartemenmu akan dihentikan.
Rin membaca kedua pesan itu tanpa bergerak.
Suara musik di belakangnya terus berjalan.
Yuka sedang bercerita tentang bagaimana ia hampir menjatuhkan kue.
Mei tertawa.
Aoi sedang mencoba menghentikan Chino mengambil potongan ketiga.
Semua suara itu terasa menjauh.
Jari Rin menggenggam ponsel lebih kuat.
Dada kirinya mulai berdenyut.
Bukan sakit.
Hanya sebuah tekanan yang perlahan tumbuh.
Ia sudah tahu ancaman seperti itu mungkin datang.
Tetapi mengetahui kemungkinan tidak membuat kenyataan terasa lebih ringan.
"Rin?"
Aoi berdiri di dekatnya.
Rin mematikan layar.
"Kenapa?"