[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #41

Lembar Hasil Ujian

Sabtu siang di kediaman keluarga Tachibana selalu memiliki ketenangan yang membuat Ren sulit bernapas.

Rumah besar itu tidak pernah benar-benar berisik. Bahkan ketika ada orang di dalamnya, suara selalu seperti ditahan oleh dinding kayu, karpet tebal, dan pintu-pintu geser yang tertutup rapat. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi dan jatuh dalam bentuk persegi panjang di lantai, bersih tanpa noda.

Ren duduk di ruang keluarga dengan kedua tangan di atas lutut.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang ukurannya sedikit terlalu besar, celana panjang gelap, dan jaket tipis. Pakaian itu sengaja dipilih longgar. Tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang ingin ia biarkan terlalu jelas di rumah ini.

Rambutnya telah dipotong pendek.

Wajahnya bersih tanpa makeup.

Di cermin ruang masuk tadi, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Kenji duduk di seberang meja.

Di depannya terletak sebuah map.

"Nilaimu."

Satu kata.

Ren mengangguk.

"Ya."

Kenji membuka map tersebut.

Suara kertas yang bergeser terdengar sangat jelas di ruangan.

"Anatomi cukup."

Ia membalik halaman.

"Fisiologi menurun."

Halaman berikutnya.

"Farmakologi juga."

Ren tidak bergerak.

Kenji berhenti pada satu lembar.

"Dan beberapa mata kuliah teori lain turun cukup jauh dibanding semester sebelumnya."

Ren menjawab dengan suara rendah.

"Saya sedang menyesuaikan jadwal."

Kata-kata itu keluar dengan suara yang selama berbulan-bulan semakin jarang ia gunakan.

Suara Ren.

Datar.

Lebih berat.

Tidak memiliki lengkungan lembut yang biasa ia pakai sebagai Rin.

Begitu mendengar suaranya sendiri, perutnya terasa mengencang.

Ia menahan napas sesaat.

Kenji tidak memperhatikan.

Atau mungkin tidak peduli.

"Menyesuaikan?"

Ren mengangguk.

"Jadwal kuliah dan kegiatan lain."

"Kegiatan lain."

Kenji mengucapkannya perlahan.

Bukan pertanyaan.

Lebih seperti sesuatu yang sedang ditimbang.

Ren menatap meja.

"Ya."

"Kegiatan apa?"

Ren sudah menyiapkan jawaban.

"Organisasi kampus."

Kenji mengangkat mata.

"Organisasi?"

"Ya."

"Kegiatan yang membuat nilaimu turun?"

Ren diam.

Kenji meletakkan lembar nilai di atas meja.

"Ren."

Suaranya tetap tenang.

Itulah bagian yang paling sulit.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada benda dibanting.

Tidak ada kemarahan yang dapat dilawan.

Hanya suara seorang ayah yang berbicara seperti sedang mengevaluasi seorang pegawai.

"Kamu tahu keluarga kita membutuhkan penerus."

Ren meremas ujung celananya di bawah meja.

"Ya."

"Klinik tidak akan berjalan sendiri."

"Ya."

"Kamu anak laki-laki tertua."

"Ya."

"Jadi apa pun yang kamu lakukan sekarang harus menunjang masa depanmu."

Ren mengangkat wajah.

"Memangnya semua hal harus menunjang klinik?"

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia tahan.

Ruangan langsung diam.

Kenji menatapnya.

Ren menyadari kesalahannya.

Ia menundukkan kepala.

"Maaf."

Kenji tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata, "Ya."

Satu kata.

"Setidaknya sampai kamu mampu berdiri sendiri."

Ren menelan ludah.

Ada rasa pahit di pangkal lidah.

Kenji kembali melihat lembar nilai.

"Kalau kamu punya waktu untuk kegiatan yang tidak berguna, berarti jadwalmu masih terlalu longgar."

Jemari Ren berhenti bergerak.

Tidak berguna.

Kata itu terasa seperti sesuatu yang dilemparkan langsung ke tengah dadanya.

Ia teringat lampu panggung.

Suara penonton.

Lima botol minuman yang beradu di kantor agensi pagi kemarin.

Nomor delapan di layar.

Aoi yang tersenyum.

Mei yang memeluknya ketika ia menangis.

Yuka yang selalu berisik.

Chino yang berusaha keras.

Semuanya tiba-tiba terasa sangat jauh.

Lihat selengkapnya