Studio tari utama Vivid Prominence sudah dipenuhi suara ketika Rin tiba.
Dentuman bass dari speaker besar merambat melalui lantai kayu hingga ke telapak kakinya. Dinding depan dan samping dipenuhi cermin, membuat ruangan itu terasa lebih luas daripada ukuran sebenarnya. Lima sosok berdiri di sana dalam pakaian latihan sederhana, tanpa makeup, tanpa kostum panggung, tanpa lampu warna-warni yang biasanya membantu menyamarkan segala kekurangan.
Di sini, tubuh tidak punya tempat untuk bersembunyi.
Aoi berdiri di depan dengan tablet di tangan.
"Festival tinggal sebelas hari."
Yuka mengangkat botol minumnya.
"Jangan bilang kita bakal latihan dari pagi sampai malam."
"Siang sampai malam."
"Itu lebih buruk."
Mei tertawa kecil.
Chino menunduk membetulkan tali sepatu.
Rin hanya tersenyum.
"Mulai dari intro?"
Aoi mengangguk.
"Delapan hitungan pertama. Jangan ada yang tertinggal."
Musik menyala.
Lima tubuh bergerak bersamaan.
Pada pengulangan pertama, Rin masih merasa ringan.
Langkahnya tepat.
Perpindahan formasi bersih.
Putaran terakhir berhenti tepat pada ketukan kedelapan.
"Bagus," kata Aoi. "Sekali lagi."
Mereka mengulang.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Sepuluh kali.
Pada pengulangan berikutnya, Rin mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Napasnya datang lebih cepat.
Bukan karena koreografi terlalu sulit. Ia sudah pernah melakukan rangkaian yang lebih berat.
Masalahnya ada pada waktu pemulihan.
Dulu, beberapa detik setelah bagian intens selesai sudah cukup untuk membuat tubuhnya kembali stabil. Sekarang, ketika musik masuk ke bagian berikutnya, dadanya masih bekerja keras.
Ia tetap tersenyum.
Tidak boleh terlihat.
Aoi menghentikan musik.
"Rin."
Rin menatap cermin.
"Ya?"
"Kamu terlambat."
"Bagian mana?"
"Setelah perpindahan diagonal."
Rin mengingatnya.
"Aku bisa ulang."
"Aku tahu."
Musik dimulai kembali.
Rin memperbaiki langkah.
Namun kali ini ia mulai memaksa.
Ia mengerahkan tenaga lebih besar daripada yang dibutuhkan. Langkah dibuat lebih lebar. Gerakan lengan diperpanjang. Setiap perpindahan dilakukan dengan kekuatan yang dulu bisa ia keluarkan tanpa berpikir.
Hasilnya justru lebih buruk.
Pada akhir chorus, telapak kakinya mendarat terlalu keras.
Tumitnya bergeser beberapa sentimeter.
Tubuhnya sempat miring.
Rin berhasil menahannya.
Aoi langsung mematikan musik.
"Stop."
Rin menunduk.
Keringat telah muncul di sepanjang garis rambutnya.
"Maaf."
"Jangan paksa."
"Aku tidak memaksa."
Aoi menatapnya dari cermin.
"Rin."
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
"Jangan bohong kepadaku."
Rin mengangkat wajah.
Untuk beberapa detik mereka saling menatap melalui pantulan kaca.
Kemudian Rin mengambil botol minum.
"Aku cuma belum menemukan ritmenya."
Aoi tidak membantah.
"Ulang dari chorus."
Satu jam berlalu.
Kemudian dua.
Tubuh Rin mulai berubah menjadi kumpulan sensasi yang sulit diabaikan.
Kaus latihan menempel di punggungnya. Rambut di tengkuk terasa basah. Napasnya kasar setiap kali mereka berhenti. Ada denyut kecil di pelipis yang semakin jelas.
Namun yang paling mengganggunya adalah kaki.
Bukan rasa sakit tajam.
Kelelahan yang dalam.
Otot-ototnya masih menurut, tetapi membutuhkan perintah lebih keras untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa otomatis.
Ia mulai kehilangan sedikit daya dorong ketika melompat.
Saat harus berhenti mendadak, lututnya bergetar.
Ketika melakukan gerakan yang membutuhkan perpindahan berat badan cepat, ia harus berkonsentrasi penuh.
Rin tahu apa yang sedang terjadi.
Ia sudah merasakan perubahan itu selama beberapa bulan terakhir.
Tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan yang sama.
Ia tidak ingin menyebutnya sebagai kelemahan.
Namun enam jam latihan tidak peduli pada pilihan kata.
Tubuh tetap akan menagih apa yang dipaksakan kepadanya.
"Sepuluh menit."
Aoi akhirnya memberikan jeda.
Rin berjalan ke dinding.
Begitu punggungnya menyentuh kaca, kedua lututnya hampir kehilangan tenaga.
Ia segera mengubah posisi dan duduk.
Tangannya gemetar ketika membuka tutup botol.
Ia berhenti.
Menatap tangannya sendiri.
Gemetar itu kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi ia mengenalnya.
Rin mengembuskan napas melalui hidung.
"Jangan sekarang."
Mei yang duduk beberapa meter darinya menoleh.
"Ngomong apa?"
Rin tersenyum.
"Ngomong sama kaki sendiri."
Mei memperhatikan wajahnya.
"Kamu pucat."
"Studio panas."
"Semua orang kepanasan."
Rin tidak menjawab.
Mei tidak memaksanya.
Ia hanya menggeser handuk ke arah Rin.
"Lap wajahmu."
Rin menerimanya.
"Terima kasih."
Latihan kembali dimulai.
Jam bergeser melewati pukul dua.
Tiga.
Empat.
Musik yang sama terdengar begitu sering sampai nadanya mulai terasa seperti bagian dari udara.
Aoi tidak memberi mereka kesempatan untuk menghafal kesalahan.
Begitu satu gerakan salah, musik berhenti.
Begitu formasi terlambat, diulang.
Begitu ekspresi menghilang karena kelelahan, Aoi mengingatkan.
"Jangan bawa wajah capek ke panggung."
Rin mengangguk.
Ia tersenyum.
Musik dimulai.
Chorus pertama.
Kaki kanan.
Putar.
Pindah.
Turun.
Bangkit.
Chorus kedua.
Rin mulai merasakan dadanya seperti terlalu penuh.
Ia menarik napas lebih dalam.
Tidak cukup.
Sekali lagi.
Tetap tidak cukup.