[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #43

Kunjungan Tak Terduga

Telepon itu berdering ketika Ren baru saja keluar dari kamar mandi.

Sore di Shinjuku mulai turun perlahan. Cahaya jingga dari sela gedung-gedung tinggi masuk melalui jendela apartemen dan memantul pada meja belajar yang dipenuhi buku anatomi, catatan kuliah, serta beberapa lembar jadwal praktikum yang belum sempat ia rapikan.

Ren masih mengenakan kaus rumah dan celana training.

Rambutnya sedikit basah.

Ia mengangkat ponsel tanpa melihat layar.

"Halo?"

Suara di seberang membuat langkahnya berhenti.

"Ren?"

"Ibu?"

Ada jeda.

Kemudian Shizuka berkata, "Ibu di depan apartemenmu."

Ren tidak langsung memahami kalimat itu.

"Di mana?"

"Di depan pintumu."

Darah seperti turun dari wajahnya.

Ren menatap kamar.

Kemudian meja.

Kemudian kursi.

Kemudian sudut ruangan yang beberapa menit lalu masih menjadi tempat ia menyimpan barang-barang Rin.

Kosmetik.

Wig.

Pakaian.

Beberapa perlengkapan pribadi yang tidak mungkin bisa dijelaskan sebagai milik mahasiswa kedokteran.

Dan obat yang selama ini ia simpan jauh dari pandangan orang lain.

"Ibu... datang sekarang?"

"Iya. Kenapa?"

"Tidak."

Suara Ren terdengar terlalu cepat.

Shizuka tertawa kecil dari seberang.

"Kenapa suaramu begitu?"

"Baru selesai mandi."

"Oh."

Ada suara langkah di luar.

Kemudian bunyi kecil seperti seseorang memindahkan tas.

"Kalau begitu bukakan pintu."

Ren menatap jam.

Tiga menit.

Hanya tiga menit.

"Iya."

Telepon terputus.

Ren meletakkan ponsel.

Kemudian seluruh tubuhnya bergerak.

Ia tidak sempat berpikir.

Tangan mengambil benda pertama.

Kosmetik dari meja kecil langsung masuk ke dalam tas.

Wig yang tergantung di sandaran kursi dilepas.

Ren bahkan tidak sempat merapikannya.

Ia hanya memastikan tidak ada bagian mencolok yang tertinggal.

Pintu lemari dibuka.

Ditutup.

Dibuka lagi.

Satu benda ditemukan di belakang buku.

Ia memasukkannya.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya sendiri terasa berdenyut.

"Tenang."

Suara itu keluar pelan.

Namun tubuhnya tidak menurut.

Tangannya gemetar.

Ia mengambil perlengkapan medis pribadi yang tersimpan terpisah, lalu berhenti sepersekian detik.

Tempat penyimpanan.

Di mana?

Pikirannya bergerak cepat.

Tidak boleh di laci.

Tidak boleh di meja.

Tidak boleh di lemari pakaian.

Tempat tidur.

Ren berlutut.

Tangannya menyelusuri sisi bawah ranjang sampai menemukan ruang penyimpanan yang selama ini jarang digunakan.

Semua benda itu masuk ke sana.

Ia menutupnya.

Mendorong kembali bagian yang terbuka.

Berdiri.

Menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

Ada satu botol kecil di dekat jendela.

Parfum.

Ren langsung mengambilnya.

Terlambat.

Aroma lembut masih memenuhi udara.

Ia membuka jendela lebih lebar.

Udara sore masuk.

Tidak cukup.

Ia mengambil kain lap dan mengusap permukaan meja.

Tidak ada.

Cermin.

Tidak ada.

Tempat tidur.

Tidak ada.

Ia memandang dirinya sendiri.

Wajahnya pucat.

Rambut basah.

Kaus longgar.

Seharusnya aman.

Kemudian bel pintu berbunyi.

Ren tersentak.

Tangannya refleks mencengkeram ujung meja.

"Ya."

Bel berbunyi lagi.

"Ibu."

Ren menarik napas.

Membuka pintu.

Shizuka berdiri di koridor dengan dua tas belanja.

Ia mengenakan mantel tipis warna krem. Rambutnya tertata sederhana, wajahnya tampak sedikit lelah setelah perjalanan.

Begitu melihat Ren, matanya langsung turun ke rambut anaknya.

"Kamu benar-benar baru mandi."

Ren mengangguk.

"Iya."

Shizuka tersenyum.

"Aduh. Rambutmu masih basah."

Tangannya hampir terangkat untuk mengusap kepala Ren seperti ketika ia masih kecil.

Namun berhenti di tengah jalan.

Ren melihat gerakan itu.

Lihat selengkapnya