[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #44

Komedi Situasi Kamar Mandi

Malam telah turun cukup lama di atas gedung apartemen yang digunakan Vivid Prominence sebagai asrama ECLIPSE. Dari luar, bangunan itu tampak seperti salah satu blok hunian biasa yang terselip di antara deretan toko dan jalan sempit Tokyo. Tidak ada papan nama agensi. Tidak ada poster idol. Hanya beberapa jendela yang masih menyala dan suara kendaraan yang sesekali mengalir dari jalan utama.

Di lantai asrama, suasananya jauh lebih berantakan.

Keranjang pakaian menumpuk di dekat mesin cuci. Dua botol deterjen berdiri berdampingan di atas rak plastik yang salah satu kakinya sudah sedikit miring. Handuk-haduk yang baru dicuci tergantung di jemuran lipat, membuat lorong sempit itu berbau campuran sabun, pelembut pakaian, dan udara lembap.

Setelah seharian latihan, pengambilan gambar, lalu perjalanan pulang yang memakan waktu hampir satu jam, tubuh Rin akhirnya menuntut satu hal sederhana.

Sepuluh menit tanpa siapa pun.

Ia membawa pakaian ganti ke kamar mandi kecil di ujung lorong. Tangannya masih memegang ponsel ketika ia mencoba memutar kunci pintu.

Klik.

Tidak terjadi apa-apa.

Rin menatap lubang kunci itu.

Ia mencoba sekali lagi.

Klik.

Pintu tetap bisa dibuka dari luar.

"Oh, iya."

Ia baru ingat.

Kunci kamar mandi itu memang rusak sejak beberapa hari lalu.

Aoi sudah mengingatkan Ryuuto dua kali. Ryuuto sudah mengatakan teknisi akan datang. Teknisi belum datang. Dan entah bagaimana, kehidupan ECLIPSE tetap berjalan seolah pintu kamar mandi yang tidak dapat dikunci merupakan masalah kecil yang bisa ditunda.

Rin menghela napas panjang.

"Hebat."

Ia memasukkan ponsel ke saku pakaian dan memastikan pintu tertutup rapat.

Setidaknya semua orang seharusnya tahu kamar mandi sedang dipakai.

Seharusnya.

Ia berdiri di depan cermin kecil yang mulai berembun. Rambut panjangnya telah dilepas dari ikatan setelah latihan. Beberapa helai masih menempel di pelipis karena keringat. Wajahnya tampak lelah di bawah cahaya lampu putih yang terlalu terang.

Hari itu terlalu panjang.

Ia sudah mengenakan pakaian pertunjukan, berganti pakaian latihan, mengenakan kembali pakaian promosi, lalu mengganti semuanya lagi ketika pulang. Di balik semua lapisan pakaian itu, ada satu bagian dari penampilannya yang sejak pagi membuat tubuhnya terasa semakin berat.

Ikatan kain di dadanya.

Bukan sesuatu yang ingin dipikirkannya terlalu lama.

Rin menarik napas dan mulai melepaskannya dengan hati-hati.

Gerakannya pelan karena tubuhnya sudah lelah. Kain itu telah menekan sepanjang hari, dan ketika ikatannya mulai longgar, bahunya otomatis turun beberapa sentimeter.

Ia memejamkan mata.

Akhirnya.

Sedikit ruang untuk bernapas.

Ia mengambil handuk dari gantungan dan meletakkannya di dekat tubuhnya, berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang jatuh atau seseorang mengetuk pintu.

Tidak ada suara.

Hanya dengungan mesin cuci dari ruangan sebelah.

Rin kembali memusatkan perhatian pada kain yang sedang dilepas.

Pada saat yang sama, di luar kamar mandi, Aoi muncul dari ujung lorong dengan keranjang pakaian di kedua tangan.

"Aduh..."

Ia menurunkan keranjang sebentar.

Hari itu ia juga kelelahan. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi sebelumnya, dan kaus longgar yang dipakainya sudah kusut di bagian bahu. Ia memandang tumpukan pakaian di tangannya, lalu ke arah ruang cuci.

Mesin cuci berikutnya harus segera digunakan.

Aoi berjalan menuju pintu kamar mandi tanpa berpikir panjang.

Tangannya meraih gagang.

Pintu terbuka.

Hanya beberapa sentimeter.

Namun beberapa sentimeter itu sudah cukup.

Aoi melihat bayangan Rin dari samping.

Hanya sesaat.

Cukup untuk membuat keduanya membeku.

Mata Rin membesar.

Jantungnya seperti terlepas dari tempatnya.

"Ah!"

Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Handuk yang berada di dekatnya langsung diraih dan ditarik ke depan tubuh. Ia membelakangi pintu dengan gerakan terburu-buru sampai bahunya hampir menabrak dinding.

"A-Aoi!"

Pintu langsung tertutup.

"Maaf!"

Suara Aoi terdengar dari balik pintu, jauh lebih keras daripada yang diperlukan.

"MAAF!"

Rin masih memegang handuk dengan kedua tangan.

Wajahnya panas.

Napasnya pendek.

Bukan karena apa yang baru saja terlihat Aoi. Bukan semata-mata karena tubuhnya terlihat.

Yang membuat kepalanya mendadak kosong adalah kemungkinan pertanyaan yang mungkin muncul setelahnya.

Kenapa?

Apa yang sebenarnya ia lihat?

Apakah ada sesuatu yang aneh?

Apakah Aoi menyadari?

Tangannya mencengkeram ujung handuk.

Di luar, Aoi masih berdiri di tempat.

"Rin."

Tidak ada jawaban.

"Rin, aku benar-benar minta maaf."

"Aku tahu."

Suara Rin terdengar jauh lebih tinggi daripada biasanya.

Ia langsung menyadarinya.

Ia berdeham.

"Maksudku..."

Ia mencoba menurunkan nada suaranya.

"Aku tahu. Tidak apa-apa."

Hening beberapa detik.

Aoi tidak membuka pintu lagi.

"Kenapa pintunya tidak dikunci?"

Rin menatap pintu.

"Rusak."

Lihat selengkapnya