[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #45

Jerat Manipulasi Ryuuto

Siang di kantor Vivid Prominence selalu terasa lebih pucat daripada malam.

Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca yang kotor, terpecah oleh tirai venetian yang sebagian bilahnya tidak lagi sejajar. Di atas meja kerja para staf, lembar jadwal, kuitansi produksi, botol kopi dingin, dan beberapa sampel kemasan album menumpuk tanpa urutan yang jelas. Pendingin ruangan berdengung dari sudut plafon, tetapi udara di lantai dua tetap terasa pengap.

Rin berdiri di depan pintu ruang produser sambil membawa map tipis berisi jadwal latihan.

Ryuuto sudah memanggilnya dua kali pagi itu.

Tidak ada alasan yang disebutkan.

Hanya pesan singkat.

Datang ke ruangan saya. Sendiri.

Rin mengetuk dua kali.

"Masuk."

Ia membuka pintu.

Ruang itu hampir selalu membuat Rin merasa seperti memasuki ruangan yang suhunya berbeda dari seluruh kantor. Tidak ada poster ECLIPSE. Tidak ada foto debut. Tidak ada penghargaan kecil yang mereka dapatkan setelah pertunjukan. Dindingnya dipenuhi dokumen kontrak, jadwal pemasaran, dan papan tulis yang penuh angka.

Ryuuto duduk di belakang meja.

Kemejanya digulung sampai siku. Sebuah laptop terbuka di depannya.

Ia tidak langsung menatap Rin.

"Duduk."

Rin menarik kursi di seberang meja.

"Ini soal jadwal festival?"

"Bukan."

Ryuuto akhirnya mengangkat wajah.

Ia mengambil satu map cokelat dari sisi meja dan mendorongnya ke depan.

"Ini tawaran untuk kamu."

Rin tidak langsung menyentuhnya.

"Untuk ECLIPSE?"

"Untuk Rin."

Dua kata terakhir itu terdengar berbeda.

Rin membuka map.

Halaman pertama memuat logo sebuah majalah hiburan yang cukup dikenal di kalangan pembaca muda. Di bawahnya terdapat judul proyek pemotretan solo, nama Rin sebagai talent utama, jumlah halaman, jadwal produksi, serta konsep visual.

Semakin jauh matanya turun, semakin lambat gerakannya.

Busana yang tercantum dalam moodboard bukan sekadar berbeda dari gaya ECLIPSE.

Konsepnya sengaja dibangun di sekitar citra dewasa Rin.

Potongan pakaian yang terlalu terbuka.

Pose yang menonjolkan siluet tubuh.

Pencahayaan lembut dengan kamera yang ditempatkan dekat.

Bukan pornografi. Tidak mendekati itu.

Tetapi cukup intim untuk membuat sesuatu yang selama ini Rin lindungi dengan susah payah menjadi bahan konsumsi publik.

Tangannya berhenti di atas halaman.

"Ini tidak."

Ryuuto menyandarkan punggung.

"Kamu bahkan belum membaca seluruh kontraknya."

"Aku sudah membaca bagian yang relevan."

"Kamu belum membaca kompensasinya."

"Aku tidak peduli."

Nada Rin tetap tenang.

"Konsepnya tidak bisa saya terima."

Ryuuto menatapnya beberapa detik.

Dulu, ia mungkin akan tersenyum.

Membujuk.

Menggunakan kalimat-kalimat lunak yang membuat paksaan terdengar seperti kesempatan.

Hari ini tidak.

"Kenapa?"

Rin menutup map.

"Karena batas visualnya terlalu jauh dari citra yang selama ini kita bangun."

"Itu justru alasannya."

"Dan saya tidak nyaman."

"Nyaman?"

Ryuuto mengulang kata itu seperti sedang mencicipinya.

"Kamu idol."

"Benar."

"Industri ini tidak dibangun untuk kenyamanan."

Rin mengangkat mata.

"Industri juga tidak memberi hak kepada manajemen untuk menentukan batas tubuh talent tanpa persetujuan."

Ruangan mendadak sunyi.

Ryuuto menatapnya.

Tidak marah.

Itulah yang membuat tatapan itu lebih sulit dibaca.

"Kamu semakin pintar memilih kata."

"Saya hanya membaca kontrak."

"Sayangnya, kontrak tidak membayar tagihan."

Rin diam.

Ryuuto membuka laptop dan memutar layar sedikit ke arahnya.

Di sana terdapat lembar anggaran promosi album ECLIPSE.

Beberapa angka diberi tanda merah.

"Album berikutnya sudah masuk tahap promosi."

Rin melihat daftar biaya.

Video pendek.

Transportasi.

Media placement.

Event.

Venue.

Promosi digital.

Anggaran untuk beberapa penampilan panggung.

Ryuuto mengetuk salah satu baris dengan jarinya.

"Kalau kita dapat paket promosi ini, ECLIPSE bisa masuk lebih banyak event."

Rin tidak mengatakan apa-apa.

Lihat selengkapnya