[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #46

Penggemar Obsesif

Gedung konvensi di Chiba sudah penuh bahkan sebelum siang benar-benar datang.

Spanduk ECLIPSE tergantung di sepanjang koridor utama, bersebelahan dengan poster grup lain yang menggunakan warna, font, dan slogan berbeda. Dari lantai dua, suara pengumuman panitia terdengar berkali-kali melalui pengeras suara, bercampur dengan bunyi langkah kaki, suara plastik kemasan merchandise, dan percakapan ribuan pengunjung yang bergerak dalam antrean panjang.

Di balik panggung kecil yang digunakan untuk pembukaan acara, ECLIPSE sedang bersiap.

Rin duduk di depan cermin sambil membetulkan ujung rambutnya. Hari itu ia mengenakan pakaian promosi ECLIPSE yang relatif sederhana, rok dengan panjang sopan, atasan berwarna terang, dan aksesori kecil berbentuk bulan sabit di dekat kerah. Tidak ada kostum panggung. Tidak ada lampu sorot.

Acara handshake seharusnya lebih ringan.

Lebih dekat dengan penggemar.

Lebih manusiawi.

Setidaknya begitu yang selalu dikatakan staf.

"Jangan lupa minum."

Aoi meletakkan botol air di sebelahnya.

Rin tersenyum.

"Terima kasih."

Mei sedang membaca daftar alur acara.

"Setiap sesi lima puluh menit. Setelah itu istirahat sepuluh."

Yuka menyelipkan kepala dari balik pintu.

"Katanya antreannya sudah sampai tangga."

"Serius?"

"Serius."

Chino yang berada di belakangnya mengangkat kedua tangan.

"Semoga tidak ada yang pingsan."

Mei menatapnya.

"Jangan ngomong begitu sebelum acara."

"Kenapa?"

"Karena nanti benar-benar ada."

Chino langsung menutup mulut.

Tawa kecil muncul di antara mereka.

Rin ikut tersenyum.

Untuk beberapa saat, semuanya terasa normal.

Kemudian seorang staf datang membawa daftar tambahan.

"Rin-san."

Rin menoleh.

"Ya?"

Staf itu menyerahkan lembar kertas.

"Ada satu catatan khusus untuk sesi Anda."

Rin membaca.

Matanya berhenti.

"Seratus?"

"Ya."

"Seratus tiket?"

Staf mengangguk.

"Pembelian dilakukan oleh satu orang."

Aoi yang berdiri tidak jauh dari sana ikut melihat.

"Seratus?"

"Pembelian dalam jumlah besar diperbolehkan selama masih melalui sistem resmi."

Rin mengangkat mata.

"Namanya?"

Staf menunjuk bagian atas lembar.

Kazuma.

Tidak ada nama belakang.

Hanya nama itu.

Rin membaca angka di sampingnya sekali lagi.

Seratus.

"Dia akan masuk seratus kali?"

"Kurang lebih."

Rin tidak menjawab.

Sesuatu di dalam perutnya turun perlahan.

Aoi melihat perubahan wajahnya.

"Kamu kenal?"

Rin menggeleng.

"Belum."

Namun entah mengapa kata terakhir itu terasa tidak nyaman.

Sesi pertama berjalan normal.

Penggemar datang bergantian.

Ada mahasiswa yang gugup sampai lupa mengucapkan kalimat yang sudah disiapkannya.

Ada ibu muda yang datang bersama anak perempuannya.

Ada penggemar lama yang membawa CD debut untuk ditandatangani.

Rin tersenyum, mendengarkan, mengingat nama, dan mengucapkan terima kasih.

Itulah bagian yang sebenarnya ia sukai dari menjadi idol.

Di atas panggung, ribuan orang bisa menjadi satu suara.

Di depan meja handshake, setiap orang memiliki wajah.

Setiap orang membawa cerita sendiri.

Kemudian Kazuma datang.

Ia berbeda dari kebanyakan pengunjung.

Pria itu mungkin berusia awal tiga puluhan. Rambutnya dipotong rapi. Mantelnya terlihat mahal meskipun sederhana. Jam di pergelangan tangannya menangkap cahaya lampu setiap kali ia bergerak.

Ia tidak terlihat gugup.

Tidak terlihat bersemangat.

Ia duduk di depan Rin dengan ketenangan seseorang yang datang ke tempat yang sudah ia pesan.

"Rin."

Senyumnya tipis.

"Senang bertemu lagi."

Rin berkedip.

"Eh?"

Kazuma tersenyum sedikit lebih lebar.

"Kita sudah bertemu sebelumnya."

Rin mencoba mengingat.

Ia tidak bisa.

"Mungkin di event sebelumnya?"

"Benar."

Rin mempertahankan senyum.

"Terima kasih sudah datang lagi."

Kazuma menyerahkan tangannya.

Rin menyambutnya sesuai prosedur.

Beberapa detik.

Lalu Kazuma tidak segera melepaskan.

Jari-jarinya tetap berada di sana.

Rin merasakan tekanan kecil itu.

Tidak cukup keras untuk membuat keributan.

Cukup untuk membuatnya sadar.

Staf di belakangnya bergerak sedikit.

Kazuma akhirnya melepaskan.

"Rin selalu terlihat lebih kecil dari yang saya kira."

Rin tertawa ringan.

"Benarkah?"

"Ya."

Kazuma memandangnya tanpa berkedip.

"Di foto kelihatannya berbeda."

Senyum Rin tetap berada di tempatnya.

"Foto memang kadang berbeda dengan aslinya."

"Terutama kalau tahu bagaimana mengambil foto yang tepat."

Kalimat itu membuat Rin diam sepersekian detik.

Bel berikutnya berbunyi.

Waktu selesai.

Kazuma berdiri.

"Sampai nanti."

Rin mengangguk.

"Terima kasih sudah datang."

Ia pergi.

Rin menarik napas.

Sesi berikutnya dimulai.

Ia mencoba melupakan pria itu.

Lalu Kazuma kembali.

Nomor tiket berbeda.

Senyumnya sama.

"Ketemu lagi."

Rin kembali tersenyum.

"Terima kasih sudah datang."

"Masih ingat saya?"

"Tentu."

Jawaban profesional.

Kazuma tertawa.

"Bagus."

Ia duduk.

"Besok kamu ada kegiatan?"

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Namun Rin merasakan ujung jarinya menjadi dingin.

"Besok?"

"Iya."

Rin tersenyum.

Lihat selengkapnya