Angin dari Teluk Tokyo membawa bau asin yang bercampur dengan aroma minyak dari deretan food truck di sisi area festival. Matahari musim panas belum turun, tetapi panasnya sudah menempel di kulit seperti lapisan tipis yang tidak mau pergi. Dari balik tirai hitam panggung utama Odaiba Summer Music Fest, suara puluhan ribu orang bergerak seperti gelombang yang tidak pernah benar-benar berhenti. Teriakan, musik dari panggung lain, pengumuman panitia, suara roda koper peralatan yang diseret melintasi lantai logistik, semuanya bertumpuk menjadi satu dengung besar.
Rin berdiri di antara rak kostum dan kotak peralatan audio dengan sebotol air dingin di tangan. Embun dari permukaannya membasahi telapak tangannya. Rambutnya yang ditata panjang bergerak sedikit setiap kali angin menerobos celah belakang panggung. Di bawah lapisan riasan tipis, kulit wajahnya mulai terasa hangat.
Ia menelan ludah.
Di depan mereka ada lautan manusia.
Bukan beberapa ratus penggemar yang mengenali warna lightstick ECLIPSE. Bukan orang-orang yang sudah menghafal nama masing-masing anggota. Bukan penonton handshake event yang sengaja datang karena ingin bertemu Rin.
Mereka adalah penonton festival.
Orang-orang yang datang untuk musik.
Dan bagi sebagian dari mereka, ECLIPSE hanyalah nama asing yang muncul di layar jadwal.
"Sepuluh menit."
Suara staf panggung terdengar dari sisi kiri.
Aoi langsung memeriksa ear monitor-nya. "Oke."
Yuka menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan pipi menggembung.
"Kenapa lebih tegang daripada debut?"
Mei tertawa kecil sambil membetulkan ujung pita di rambutnya. "Karena kali ini kita enggak tahu siapa yang bakal nonton."
Chino berdiri di sebelah mereka dengan kedua tangan menggenggam ujung rok kostumnya. Ia mengintip melalui celah tirai.
"Ramai banget..."
Rin mengikuti arah pandangnya.
Dari sela hitam tirai, ia bisa melihat sebagian area penonton. Beberapa orang membawa kipas festival. Sebagian duduk di atas alas piknik. Ada kelompok anak muda yang sibuk mengobrol sambil menunggu artis berikutnya. Ada pula orang-orang yang berdiri dengan ekspresi datar, seolah penampilan pembuka hanyalah suara latar sebelum nama besar berikutnya muncul.
Di layar raksasa, logo ECLIPSE muncul.
Reaksi yang datang tidak serempak.
Ada yang bertepuk tangan.
Ada yang bersorak kecil.
Namun di bagian tengah, beberapa suara terdengar lebih keras.
"Siapa mereka?"
"Idol lagi?"
"Yang berikutnya siapa?"
Tawa kecil terdengar.
Bukan suara yang cukup besar untuk disebut keributan, tetapi cukup jelas untuk sampai ke belakang panggung.
Chino menurunkan pandangannya.
Aoi melihat ke arah Rin.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Rin hanya menutup botol airnya.
Klik.
Suara kecil itu terasa sangat jelas di telinganya.
Ia mengangkat wajah.
"Jangan lihat mereka sebagai orang yang menolak kita."
Keempat anggota lain menoleh.
Rin tersenyum tipis.
"Mereka cuma belum punya alasan untuk menyukai kita."
Yuka mengedip.
"Itu..."
Mei tersenyum lebih dulu. "Kedengarannya seperti Rin."
"Memang aku Rin."
"Ya, tapi maksudku cara ngomongnya."
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Ketegangan tidak hilang. Namun bahu Chino sedikit turun.
Aoi mengangguk.
"Kalau begitu, kasih mereka alasannya."
Rin mengangkat satu tangan.
Lima telapak tangan bertemu di tengah.
"Semangat."
"ECLIPSE."
Suara mereka bertumpuk.
Lalu staf panggung mengangkat tangan.
"Stand by."
Jantung Rin berdetak lebih cepat.
Satu langkah menuju panggung.
Kemudian langkah kedua.
Cahaya sore menghantam wajahnya ketika mereka keluar dari balik tirai.
Panas langsung terasa berbeda.
Lampu panggung menyala meskipun matahari masih tinggi. Pantulannya membuat pandangan Rin sedikit menyipit. Di depannya, lautan manusia membentang sampai pagar pembatas. Tidak semuanya memperhatikan.
Sebagian masih mengobrol.
Sebagian sedang membeli minuman.
Sebagian bahkan membelakangi panggung.
Dan dari sisi kanan terdengar suara seseorang yang cukup keras.
"Ini siapa?"
Temannya menjawab sambil tertawa.
"Entah. Idol baru kayaknya."
Rin mendengar.
Aoi mendengar.
Yuka juga.
Namun musik intro sudah dimulai.
Nada pertama menggema.
Kelima anggota berdiri dalam formasi.
Rin memegang mikrofon.
Beberapa detik pertama adalah milik mereka.
Ia menarik napas.
Lalu tersenyum.
Bukan senyum yang meminta izin.
Senyum seorang Center yang sudah memutuskan bahwa panggung itu miliknya untuk beberapa menit ke depan.
"Selamat sore, Odaiba!"
Suara Rin keluar jernih melalui pengeras suara.