Pagi di asrama ECLIPSE selalu dimulai lebih lambat daripada dunia luar.
Matahari sudah naik cukup tinggi ketika cahaya putih masuk melalui celah tirai dapur, jatuh di atas meja makan yang penuh dengan gelas semalam, bungkus roti, dan dua botol minuman yang belum sempat dibuang. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari lorong terdengar suara pintu kamar dibuka, disusul langkah kaki seseorang yang masih mengantuk.
Chino adalah orang pertama yang benar-benar terjaga.
Ia masuk ke dapur dengan rambut sedikit berantakan dan mengenakan pakaian rumah yang sederhana. Satu tangannya mengusap mata, sementara tangan lainnya memegang ponsel. Ia hendak mengambil air sebelum bersiap untuk jadwal pagi.
Kemudian matanya menangkap sesuatu di dekat wastafel.
Sebuah botol kecil.
Bukan botol minuman. Bukan kosmetik.
Botol itu berdiri di antara beberapa benda yang biasa dipakai Rin ketika bersiap, terpisah sedikit dari tempatnya semula seolah baru saja tersenggol. Bentuknya kecil, terbuat dari kaca, dengan cairan bening di dalamnya. Label yang biasanya menempel pada kemasan obat tidak terlihat.
Chino berhenti.
Ia menundukkan kepala.
"Ini punya Rin?"
Tangannya hampir menyentuh botol itu ketika suara langkah terdengar dari lorong.
Rin muncul beberapa detik kemudian.
Rambutnya belum sepenuhnya ditata. Wajahnya masih polos tanpa riasan panggung, membuat perbedaan antara Rin yang biasa dilihat kamera dan dirinya pada pagi hari terasa jauh lebih tipis.
Ia menguap kecil sambil mengikat rambut.
"Chino, kamu sudah bangun?"
Tidak ada jawaban.
Rin melihat ke arah meja.
Lalu wastafel.
Lalu botol kecil itu.
Tubuhnya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Namun bagi seseorang yang hidup dari menyembunyikan perubahan ekspresi, sepersekian detik itu terasa terlalu panjang.
Ia mengenali botol tersebut.
Bukan karena bentuknya.
Karena ia tahu persis mengapa benda itu tidak boleh berada di sana.
Rin merasakan ujung jarinya dingin.
"Chino."
Nada suaranya tetap lembut.
Chino mengangkat botol itu sedikit.
"Ini obat kamu?"
Rin melangkah mendekat.
"Taruh dulu."
Chino menurut, tetapi ekspresinya sudah berubah.
Ia menatap botol itu, kemudian menatap Rin.
"Obat apa?"
Rin tidak segera menjawab.
Otaknya bergerak terlalu cepat.
Tidak ada waktu untuk menyusun cerita sempurna.
Tidak ada waktu untuk memikirkan semua kemungkinan.
Ia hanya membutuhkan sesuatu yang cukup masuk akal untuk membuat Chino berhenti bertanya.
Dan di situlah pendidikan kedokterannya berubah menjadi sesuatu yang membuat tenggorokannya sendiri terasa pahit.
"Vitamin."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Chino mengerutkan kening.
"Vitamin?"
"Iya."
Rin mengambil botol itu dari dekat wastafel dan meletakkannya lebih jauh dari jangkauan.
Gerakannya dibuat biasa.
Terlalu biasa.
Chino tetap memperhatikan.
"Kenapa botolnya enggak ada label?"
Rin menahan napas.
Pertanyaan sederhana.
Namun jawabannya harus lebih hati-hati.
Ia membuka lemari kecil di atas meja dan mengambil gelas.
"Karena ini bukan obat yang aku beli sebagai suplemen biasa."
Chino menatapnya.
Rin menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya sedikit hanya untuk memberi dirinya waktu.
"Aku punya masalah kelenjar sejak kecil."
Kalimat itu terasa seperti batu ketika keluar dari mulutnya.
Chino langsung berubah.
"Masalah kelenjar?"
Rin mengangguk.
"Tiroid."
Kening Chino berkerut semakin dalam.
"Serius?"
"Enggak separah yang kamu pikir."
Rin memaksakan senyum.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Chino sudah mendekat.
"Rin..."
Suaranya kecil.
Rin berhenti memutar tutup botol.
"Apa?"
"Jangan bohong sama aku."
Dada Rin terasa mengencang.
Chino menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu sakit parah?"
Rin tidak menjawab.
Air di dalam gelas di tangannya bergerak sedikit karena jemarinya menegang.