Malam telah melewati pukul sebelas ketika pintu belakang gedung Vivid Prominence akhirnya terbuka.
Udara Tokyo terasa lebih dingin setelah enam jam berada di dalam studio yang penuh dengan panas tubuh, lampu putih, dan suara musik yang diputar berulang-ulang. Rin melangkah keluar sambil mengenakan jaket tipis di atas kostum latihan. Rambutnya sudah dikembalikan ke bentuk yang lebih sederhana. Wajahnya masih menyimpan sisa riasan, tetapi sebagian besar telah dibersihkan. Ia membawa tas besar di satu bahu dan menundukkan kepala ketika angin malam menyentuh tengkuknya.
Di seberang jalan, sebuah mobil gelap terparkir di antara kendaraan lain.
Tidak ada yang aneh.
Setidaknya pada pandangan pertama.
Tanaka duduk di dalamnya dengan kamera yang diletakkan rendah di pangkuan. Usianya sudah lewat empat puluh, wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang dari seseorang yang bertahun-tahun hidup dengan tenggat redaksi dan telepon yang berdering pada jam-jam tidak masuk akal. Ia tidak terburu-buru.
Ia hanya mengamati.
Di layar kecil kamera, sosok Rin muncul dalam bingkai.
Bukan penampilan panggung.
Bukan Center dengan sorot lampu di wajah.
Hanya seorang gadis muda yang baru selesai bekerja.
Tanaka menurunkan kamera.
Ia sudah mengikuti ECLIPSE selama beberapa waktu. Popularitas mereka meningkat cukup cepat untuk menarik perhatian media hiburan, tetapi belum cukup besar untuk memiliki pagar pengamanan yang rapat di sekeliling kehidupan pribadi mereka.
Rin menarik perhatian lebih besar daripada anggota lain.
Bukan semata karena posisinya sebagai Center.
Ada sesuatu yang tidak cocok.
Tanaka membuka catatan di ponselnya.
Tidak banyak informasi keluarga.
Tidak ada foto masa sekolah yang cukup jelas.
Tidak ada jejak sosial yang lazim dimiliki seseorang seusianya.
Dan yang paling mengganggu rasa ingin tahunya adalah satu hal sederhana.
Tidak pernah ada keluarga yang menjemput Rin.
Tanaka memperhatikan ketika Rin berjalan menuju jalan utama.
Ia tidak langsung menuju kendaraan.
Ia berjalan cukup jauh sebelum masuk ke area transportasi umum.
Tanaka mengernyit.
"Selalu begitu..."
Ia membuka beberapa foto lama yang tersimpan di ponselnya.
Pola yang sama.
Keluar dari agensi.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada pengemudi pribadi.
Tidak ada teman yang menunggu.
Kadang pergi sendiri.
Kadang bersama anggota ECLIPSE.
Kemudian menghilang dari jalur yang biasa digunakan kebanyakan orang.
Tanaka menyandarkan kepala ke kursi.
Seorang idol independen yang semakin terkenal, tetapi kehidupan pribadinya seperti ruang kosong.
Bagi wartawan hiburan, ruang kosong selalu mengundang pertanyaan.
Dan pertanyaan adalah awal dari cerita.
Rin berjalan melewati trotoar dengan langkah sedikit lebih cepat daripada biasanya.
Ia tidak tahu mengapa.
Tidak ada alasan yang jelas.
Hanya perasaan.
Perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak berada di tempat semestinya.
Ia menoleh sekilas.
Mobil-mobil bergerak seperti biasa.
Lampu toko memantul di kaca.
Orang-orang berjalan sambil menatap ponsel.
Tidak ada siapa-siapa.
Rin kembali menghadap ke depan.
Langkahnya tetap berjalan.
Kemudian terdengar bunyi kecil.
Klik.
Ia berhenti hampir tanpa sadar.
Kepalanya bergerak sedikit ke samping.
Di antara kendaraan yang terparkir, sesuatu memantulkan cahaya.
Hanya sepersekian detik.
Kilatan putih.
Lensa tele.
Jantung Rin langsung menghantam tulang rusuknya.
Ia tidak menunggu untuk memastikan.
Tubuhnya bergerak lebih cepat.
Tas di bahunya bergeser. Tangannya mencengkeram tali tas lebih kuat. Sepatunya memukul permukaan trotoar dengan ritme yang tidak lagi santai.
Satu lampu lalu lintas.
Satu persimpangan.
Pintu masuk stasiun.
Rin turun menuju area stasiun tanpa menoleh lagi.
Ia baru berhenti setelah melewati kerumunan.
Napasnya sudah terlalu cepat.
Ia berdiri di dekat papan informasi, pura-pura membaca jadwal perjalanan.
Matanya bergerak dari satu baris tulisan ke baris lainnya.
Tidak ada satu pun yang masuk ke kepalanya.
Foto.
Kalau benar tadi foto...
Apa yang terlihat?
Wajah?
Rambut?
Tubuh?
Pakaian?
Apakah mereka tahu ia keluar dari gedung Vivid Prominence?
Pertanyaan berikutnya muncul lebih cepat daripada jawaban.
Kalau mereka mengikuti?
Kalau mereka mencari kampus?
Kalau mereka menemukan Ren?
Tangannya mulai dingin.
Rin menggenggam ponsel.
Ia membuka percakapan dengan Ryuuto.
Rin:
Ada fotografer di luar gedung.
Titik tiga muncul hampir seketika.
Ryuuto:
Serius?
Rin:
Sepertinya paparazzi.
Balasan datang.
Ryuuto:
Bagus.
Rin menatap layar.
Satu kata.
Bagus.
Ia membaca lagi.
Lalu sekali lagi.
Tangannya mulai gemetar.
Rin: