[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #50

Malam Badai Asrama

Hujan mulai turun sejak sore, tetapi tidak ada seorang pun di asrama ECLIPSE yang menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Tokyo memang sedang memasuki musim gugur. Hujan deras bukan hal aneh, begitu pula angin yang membuat papan reklame di kejauhan bergoyang dan pepohonan di sepanjang jalan membungkuk. Namun menjelang malam, suara hujan berubah. Tetes-tetes air yang semula mengetuk kaca dengan ritme teratur mulai menghantam jendela seperti kerikil yang dilemparkan dari luar. Angin menderu di sela bangunan apartemen, panjang dan rendah, sampai kaca jendela ruang tengah bergetar tipis di dalam bingkainya.

Televisi menyala tanpa ada yang benar-benar menontonnya.

Di layar, pembawa berita berdiri di sebuah lokasi yang diterpa hujan. Rambutnya terus bergerak diterpa angin meskipun ia berdiri di balik pelindung. Pita peringatan cuaca ekstrem muncul di bagian bawah layar, disusul pemberitahuan tentang pembatalan sejumlah perjalanan kereta, penutupan beberapa fasilitas umum, serta penghentian sementara berbagai kegiatan luar ruangan.

Mei duduk bersila di atas karpet sambil melipat pakaian yang baru saja diangkat dari mesin pengering.

“Besok pasti semua dibatalkan,” katanya.

Aoi yang sedang memeriksa pesan dari manajer hanya mengangkat wajah sebentar.

“Bukan pasti lagi. Sudah ada pesan dari agensi.”

“Serius?”

“Latihan dibatalkan. Semua jadwal luar ruangan ditunda. Mereka bilang jangan keluar kecuali benar-benar perlu.”

Yuka yang sejak tadi berbaring tengkurap di sofa langsung mengangkat kepala.

“Berarti kita libur?”

“Kalau definisi libur menurutmu adalah duduk di asrama sambil mendengarkan badai menggerus kota, iya.”

“Lumayan.”

Yuka menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal.

Rin yang duduk di lantai dekat meja rendah tersenyum kecil. Ia baru saja selesai membaca pesan yang sama dari ponselnya. Tidak ada latihan. Tidak ada pemotretan. Tidak ada perjalanan ke studio. Tidak ada panggung.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, kalendernya kosong.

Anehnya, kekosongan itu justru membuatnya gelisah.

Ia terbiasa mengisi setiap celah waktu. Kuliah. Rumah sakit pendidikan. Latihan. Rekaman. Perjalanan. Makeup. Panggung. Belajar. Tidur beberapa jam. Bangun. Mengulangi semuanya.

Diam terasa seperti sesuatu yang harus dicurigai.

“Rin.”

Ia menoleh.

Chino berdiri di depan jendela dengan kedua tangan menempel pada kaca. Rambutnya bergerak sedikit karena pendingin ruangan, sementara di luar sana pohon-pohon tampak seperti sedang berusaha bertahan agar tidak tercabut.

“Lihat itu.”

“Apa?”

“Pohon di depan.”

Rin ikut melihat.

Sebuah pohon yang biasanya berdiri tegak di antara gedung-gedung kini membungkuk hampir menyentuh tanah. Daunnya berputar di udara seperti serpihan kertas.

“Besok mungkin tinggal batangnya,” kata Chino.

“Jangan ngomong begitu,” sahut Mei dari belakang.

“Kenapa?”

“Karena nanti kamu yang sedih kalau benar-benar tinggal batang.”

Chino tertawa kecil.

“Kalau tinggal batang juga masih pohon.”

Rin menatapnya beberapa detik.

Kalimat sederhana itu entah mengapa menempel di pikirannya.

Masih pohon.

Masih dirinya sendiri, meskipun sebagian hal telah hilang.

Belum sempat ia memikirkan lebih jauh, lampu ruang tengah berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Televisi mati.

Pendingin ruangan berhenti.

Lampu koridor padam.

Seluruh ruangan tenggelam dalam hitam.

“Eh?”

Suara Yuka terdengar dari sofa.

“Listrik mati?”

Aoi segera menyalakan layar ponselnya. Cahaya putih kecil muncul di tengah kegelapan.

“Sepertinya.”

Mei meraba-raba meja.

“Jangan bergerak dulu. Ada gelas di sini.”

“Lihat tanganmu,” kata Aoi.

“Aku lihat.”

“Bukan tanganmu. Tanganku.”

“Kenapa?”

“Aku baru saja menabrak meja.”

Yuka tertawa dari kegelapan.

“Bagus. Kapten kita ternyata buta kalau listrik mati.”

“Diam.”

Rin menahan tawa.

Suara hujan semakin keras.

Dalam keadaan normal, mereka mungkin akan segera menghubungi manajer atau memeriksa pemutus listrik. Tetapi angin di luar terdengar cukup buruk sehingga mereka tidak ingin keluar. Jaringan internet juga mulai tidak stabil. Satu demi satu layar ponsel kehilangan sinyal.

Akhirnya Mei menemukan sebuah kotak lilin darurat di lemari.

“Siapa yang membeli ini?”

“Aku,” jawab Aoi.

“Kenapa?”

“Karena aku satu-satunya orang di rumah ini yang berpikir bahwa listrik bisa mati.”

“Terima kasih sudah menjadi ibu rumah tangga.”

“Aku bukan ibu rumah tangga.”

“Kamu punya stok obat, kotak P3K, baterai cadangan, lilin, dan selalu tahu kapan kita harus tidur.”

Aoi terdiam.

“...Aku mulai menyesal.”

Tawa kecil pecah di tengah ruangan.

Satu lilin dinyalakan.

Kemudian lilin kedua.

Cahaya kecil itu membuat ruang tengah yang biasanya terasa biasa saja berubah menjadi sesuatu yang asing. Dinding berwarna pucat tampak lebih hangat. Bayangan lima orang bergerak di permukaan tembok setiap kali api bergetar. Suara hujan menjadi lebih jelas karena tidak ada dengung elektronik yang menutupinya.

Mei membawa semua bantal dari kamar.

Yuka mengambil dua selimut.

Chino membawa camilan.

Aoi memeriksa pintu dan jendela sekali lagi.

Rin hanya duduk di tengah mereka, memperhatikan semuanya.

“Kenapa kamu bengong?” tanya Mei.

“Tidak.”

“Wajahmu bilang iya.”

Rin tersenyum.

“Cuma... jarang begini.”

“Begini bagaimana?”

“Tidak ada yang harus kita lakukan.”

Mei duduk di sebelahnya dan menyampirkan selimut ke pundak Rin.

“Kalau begitu, jangan lakukan apa-apa.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Rin merasakan sesuatu bergerak pelan di dalam dadanya.

Jangan lakukan apa-apa.

Tidak perlu menjadi Center.

Tidak perlu mengingat koreografi.

Tidak perlu tersenyum untuk kamera.

Tidak perlu menghitung berapa detik sebuah ekspresi harus bertahan.

Tidak perlu menjadi Ren.

Tidak perlu menjadi Rin.

Malam itu, untuk beberapa jam, ia hanya perlu duduk.

Mereka akhirnya membuat lingkaran kecil di lantai. Selimut menutupi kaki mereka bersama-sama. Camilan diletakkan di tengah. Lilin diletakkan di atas meja rendah, cukup jauh dari jangkauan tangan agar tidak tersenggol.

Di luar, Tokyo seperti menghilang.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada musik dari toko.

Tidak ada lampu papan iklan yang menembus jendela.

Hanya hujan.

Dan lima orang yang duduk berdekatan.

“Karena tidak bisa ke mana-mana,” kata Yuka sambil membuka bungkus biskuit, “kita main sesuatu.”

Aoi menghela napas.

“Jangan permainan bodoh.”

“Siapa bilang bodoh?”

“Kalau idenya datang darimu, kemungkinan besar.”

“Kapten!”

Mei tertawa.

“Permainan apa?”

“Pertanyaan jujur.”

Chino langsung mengangkat tangan.

“Seperti apa?”

“Pertanyaan yang tidak boleh dijawab bohong.”

Rin memiringkan kepala.

“Bukannya selama ini kita juga tidak boleh bohong?”

“Beda. Kali ini harus jujur sampai benar-benar jujur.”

Aoi menyandarkan punggung ke sofa.

“Ini akan berakhir buruk.”

“Kenapa?”

“Karena kita tinggal serumah.”

Mei tersenyum.

“Justru karena itu menarik.”

Yuka menunjuk Rin.

“Mulai dari Center.”

“Kenapa aku?”

“Karena kamu paling susah dibaca.”

Rin tertawa kecil.

Lihat selengkapnya