[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #51

Tekanan Visual Industri

Pagi itu, ruang kebugaran Vivid Prominence berbau karet, keringat, dan disinfektan.

Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi di sisi timur, memantul pada cermin-cermin besar yang memenuhi hampir seluruh dinding. Di hadapan cermin itu, tubuh lima anggota ECLIPSE berdiri dalam pakaian latihan yang seragam. Rambut diikat, wajah tanpa makeup panggung, dan tubuh mereka terlihat jauh lebih nyata daripada ketika berada di bawah lampu konser.

Rin berdiri paling ujung.

Ia menatap bayangannya sendiri.

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan sesuatu yang dapat dijelaskan dengan satu gerakan atau satu bagian tubuh. Siluetnya terasa berbeda dari beberapa bulan lalu. Garis bahu tampak sedikit lebih lunak. Distribusi massa tubuhnya tidak lagi sama. Ada perubahan kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi bagi Rin yang mengamati tubuhnya setiap hari, perubahan itu terasa seperti bahasa baru yang perlahan dipelajari tubuhnya sendiri.

Ia sebenarnya menyukai sebagian besar perubahan tersebut.

Itulah masalahnya.

Pintu ruang kebugaran terbuka.

Pelatih fisik mereka masuk membawa tablet tipis berwarna hitam.

“Semua berkumpul.”

Suara percakapan berhenti.

Aoi menurunkan botol minumnya.

Mei mengusap keringat di pelipis.

Yuka dan Chino berdiri lebih tegak.

Pelatih itu, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan tubuh atletis dan ekspresi yang jarang berubah, berdiri di depan mereka.

“Mulai minggu ini ada evaluasi berat badan mingguan.”

Yuka mengerutkan kening.

“Setiap minggu?”

“Setiap Senin pagi.”

“Kenapa?”

“Standar visual.”

Jawabannya begitu singkat sampai ruangan terasa lebih dingin.

Pelatih membuka tabletnya.

“Manajemen ingin menjaga konsistensi visual ECLIPSE. Ada perubahan kostum, kamera resolusi tinggi, jadwal televisi, dan materi promosi yang membutuhkan ukuran tubuh relatif stabil.”

Aoi menyilangkan tangan.

“Relatif stabil itu maksudnya?”

“Batas kenaikan satu kilogram dari baseline masing-masing.”

Mei langsung mengerutkan dahi.

“Kalau lebih?”

Pelatih melihat layar.

“Pemotongan insentif bulanan.”

Tidak ada yang berbicara.

Yuka tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak terdengar lucu.

“Serius?”

“Serius.”

“Karena satu kilogram?”

“Lebih dari satu kilogram.”

Chino menatap lantai.

Rin tidak mengatakan apa-apa.

Matanya tetap pada tablet di tangan pelatih.

Satu kilogram.

Angka yang begitu kecil sehingga hampir terdengar seperti lelucon.

Namun di dunia tempat tubuh mereka dijadikan bagian dari produk, angka itu bisa berubah menjadi uang.

“Berapa target BMI?” tanya Aoi.

Pelatih mengangkat wajah.

“Tidak perlu membahas angka itu.”

“Itu berarti ada angka.”

“Aoi.”

“Saya hanya ingin tahu standar yang dipakai.”

Pelatih menatapnya beberapa detik.

“Kalian tidak perlu memikirkan angka. Kalian hanya perlu menjaga tubuh tetap sesuai kebutuhan kamera.”

Kalimat itu justru membuat Rin semakin tidak nyaman.

Sesuai kebutuhan kamera.

Bukan sesuai kebutuhan tubuh.

Bukan sesuai kondisi kesehatan.

Kamera.

Rin menunduk sedikit.

Jari-jarinya mencengkeram ujung kaus latihan.

“Mulai sekarang,” lanjut pelatih, “penimbangan dilakukan sebelum latihan. Tidak sarapan sebelumnya. Kondisi harus konsisten setiap minggu.”

Rin mengangkat mata.

Kalimat itu masuk ke kepalanya sebagai informasi klinis.

Tidak sarapan.

Kondisi konsisten.

Penimbangan.

Ia tahu persis betapa mudahnya angka di timbangan berubah karena hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan bertambahnya jaringan tubuh.

Cairan.

Isi saluran cerna.

Waktu pengukuran.

Siklus biologis.

Asupan garam.

Aktivitas sehari sebelumnya.

Tubuh bukan angka tetap.

Tetapi tidak ada ruang untuk menjelaskan itu kepada orang yang sudah menetapkan angka sebagai ukuran disiplin.

“Pertanyaan?” tanya pelatih.

Tidak ada.

“Bagus. Mulai minggu depan konsekuensinya berlaku penuh.”

Ia berjalan keluar.

Pintu tertutup.

Beberapa detik kemudian Yuka mengembuskan napas panjang.

“Gila.”

Mei menatap pintu.

“Ini ide siapa?”

“Manajemen,” jawab Aoi.

“Ryuuto?”

Aoi tidak menjawab.

Rin masih diam.

Ia menatap cermin.

Tubuh yang selama ini perlahan ia kenali kembali mendadak berubah menjadi sesuatu yang harus diawasi.

Di dalam cermin itu ada Rin.

Namun di kepala orang lain, yang terlihat hanya angka.

Seminggu kemudian, Rin berdiri di atas timbangan.

Ruang kebugaran masih sama.

Cahaya pagi.

Bau disinfektan.

Cermin.

Pelatih.

Tablet.

Angka.

Ia turun setelah pelatih mencatat hasilnya.

Tidak ada komentar.

Minggu pertama masih dalam batas.

Minggu kedua juga.

Minggu ketiga, angka itu bergerak naik.

Sedikit.

Tidak sampai membuat pakaian berubah ukuran.

Tidak sampai mengganggu koreografi.

Tidak sampai mengubah penampilan panggungnya.

Namun cukup untuk membuat Rin menatap layar timbangan dua detik lebih lama.

“Masih aman,” kata pelatih.

Rin mengangguk.

Ia tersenyum tipis.

“Baik.”

Namun ketika berjalan menuju ruang ganti, telapak tangannya terasa dingin.

Ia sudah memperkirakan perubahan tersebut.

Tubuhnya memang sedang berubah.

Ia tahu itu.

Ia bahkan menyukai beberapa perubahan yang datang bersamanya.

Tetapi ketika perubahan itu mulai masuk ke dalam tabel evaluasi perusahaan, rasa suka tersebut berubah menjadi ketakutan.

Tubuh yang selama ini terasa seperti rumah kembali menjadi sesuatu yang harus ia sembunyikan.

Pada minggu berikutnya, angkanya melewati batas.

Pelatih hanya mengangkat alis.

“Naik.”

Rin menatap layar.

“Ya.”

“Insentif bulan ini dipotong.”

“Baik.”

“Jaga pola makan.”

Rin mengangguk.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada ekspresi marah.

Ia turun dari timbangan dan berjalan ke ruang ganti.

Di sana ia berdiri sendirian di depan cermin.

Tangannya naik menyentuh pinggangnya sendiri.

Tidak ada yang salah.

Ia tahu itu.

Tidak ada sesuatu yang rusak.

Tubuhnya hanya berubah.

Tetapi kalimat pelatih tadi berputar terus di kepala.

Jaga pola makan.

Rin memejamkan mata.

Ia adalah mahasiswa kedokteran.

Ia tahu bagaimana tubuh bekerja.

Ia tahu berat badan tidak identik dengan lemak.

Ia tahu perubahan cairan tubuh dapat memengaruhi angka.

Ia tahu standar industri tidak selalu sejalan dengan kebutuhan fisiologis.

Ia tahu semua itu.

Namun pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghentikan rasa takut.

Karena yang ditakutkannya bukan sekadar kehilangan uang.

Ia takut kamera mulai melihat perubahan yang menurut orang lain tidak seharusnya ada.

Takut kostumnya tidak lagi jatuh seperti sebelumnya.

Takut fotografer memperhatikan.

Takut komentar penggemar kembali bermunculan.

Takut Ryuuto menggunakan tubuhnya sebagai alasan untuk mengurangi kesempatan ECLIPSE.

Dan lebih dari semuanya, ia takut bahwa satu angka di layar bisa membuat dirinya kembali merasa seperti tubuh yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Malam itu, ia mengambil keputusan yang bahkan sebelum dilakukan sudah ia tahu salah.

Pagi penimbangan berikutnya, Rin datang lebih awal.

Lorong Vivid Prominence masih sepi.

Lampu neon menyala dingin.

Tidak ada suara musik dari studio.

Tidak ada anggota lain.

Lihat selengkapnya