Sore di Shinjuku selalu terasa seperti arus manusia yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Di lorong pertokoan bawah tanah, orang-orang bergerak dalam dua arah sekaligus. Pekerja kantoran berjalan cepat sambil menatap ponsel. Turis berhenti mendadak di depan papan petunjuk. Pegawai toko berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sudah terlatih. Pengumuman stasiun terdengar dari kejauhan, bercampur dengan bunyi langkah sepatu yang memantul di lantai.
Rin berjalan di antara semuanya.
Rambut panjangnya terikat rendah agar tidak mengganggu pandangan. Ia mengenakan mantel ringan berwarna pucat, rok sederhana, masker tipis, dan sepatu datar. Tidak ada pakaian panggung. Tidak ada aksesori mencolok. Hari itu ia hanya ingin membeli beberapa perlengkapan medis dan kembali ke asrama sebelum jadwal malam dimulai.
Tas belanja kecil menggantung di tangannya.
Ia memeriksa daftar di ponsel.
Plester.
Antiseptik.
Beberapa kebutuhan pribadi.
Tidak ada yang istimewa.
Ia berhenti di depan sebuah toko farmasi kecil yang berada di sudut lorong.
Sejenak ia merasa lega.
Tidak ada kamera.
Tidak ada penggemar.
Tidak ada Ryuuto.
Tidak ada wartawan.
Hanya orang-orang asing yang tidak tahu siapa dirinya.
Rin masuk.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan tas kecil di tangan.
Ia memasukkan ponsel ke saku mantel dan berjalan menuju tangga yang mengarah ke jalur lain.
Kemudian sebuah suara terdengar dari belakang.
“Ren?”
Langkahnya berhenti.
Bukan perlahan.
Bukan ragu-ragu.
Berhenti.
Seluruh tubuhnya seperti menerima perintah yang tidak berasal dari pikirannya sendiri.
Jari-jari Rin mengencang di sekitar pegangan tas.
Suara kerumunan tetap bergerak.
Langkah orang-orang tetap berlalu.
Pengumuman stasiun masih terdengar.
Tetapi satu nama itu menghapus semuanya.
Ren.
Dadanya mengencang.
Ia tidak langsung berbalik.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Seseorang melewatinya dari belakang dan bahunya hampir tersenggol.
“Maaf.”
Rin menunduk sedikit secara refleks.
Kemudian ia mendengar suara itu lagi.
“Ren Tachibana?”
Darahnya terasa turun dari wajah.
Ia tahu suara itu.
Ingatan datang bukan sebagai gambar lengkap, melainkan pecahan-pecahan kecil.
Seragam SMA.
Koridor kelas.
Lapangan olahraga.
Meja belakang.
Tawa anak laki-laki.
Sepatu sekolah yang dilempar sembarangan di depan loker.
Seseorang yang pernah memanggilnya Ren setiap hari tanpa berpikir bahwa suatu hari nama itu akan menjadi sesuatu yang ingin ia kubur.
Rin menarik napas.
Pelan.
Ia tidak boleh berlari.
Kalau ia berlari, orang itu akan semakin yakin.
Kalau ia tidak menoleh, mungkin ia akan pergi.
Namun suara langkah mendekat.
“Ren?”
Tubuhnya mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusun rencana.
Ia berbalik.
Seorang pemuda berdiri beberapa meter darinya.
Rambut hitam pendek.
Jaket kasual.
Tas selempang.
Wajah yang jauh lebih dewasa daripada yang diingat Rin, tetapi masih cukup familier untuk membuat perutnya terasa kosong.
Kenjiro.
Teman sekelasnya di SMA.
Bukan teman dekat.
Bukan seseorang yang mengetahui rahasianya.
Justru itu yang membuat semuanya lebih buruk.
Kenjiro menatap Rin.
Rin menatap balik.
Beberapa detik berlalu.
Kenjiro mengerutkan dahi.
“Ah...”
Rin memasang ekspresi bingung.
Ia merapikan ujung rambutnya dengan satu tangan, sebuah gerakan kecil yang sudah menjadi kebiasaan ketika berada dalam persona Rin.
“Maaf?”
Suara yang keluar lembut.
Ringan.
Perempuan.
Tidak ada sisa suara Ren yang biasa digunakan di kampus.
Kenjiro berkedip.
“Maaf. Saya kira kamu...”
Rin tersenyum sopan.
“Tidak apa-apa.”
Kenjiro masih menatapnya.
Tatapannya tidak cabul atau mengancam.
Justru terlalu biasa.
Seperti seseorang yang sedang mencoba memecahkan teka-teki sederhana.
“Wajahmu...”
Rin merasakan detak jantungnya menghantam tulang rusuk.
“Kenapa?”
“Mirip seseorang.”
Rin tersenyum.
“Begitu?”
Kenjiro menggaruk belakang kepalanya.
“Iya. Teman SMA saya.”
Rin menunggu.
“Namanya Ren Tachibana.”
Untuk sepersekian detik, napasnya berhenti.
Tetapi wajahnya tidak berubah.
Setidaknya ia berharap begitu.
“Oh.”
Hanya satu suku kata.
Kenjiro tertawa kecil.
“Maaf. Ini pasti aneh.”
“Sedikit.”
“Dia dulu teman sekelas saya.”
Rin memiringkan kepala.
“Benarkah?”
“Iya.”
Kenjiro kembali memperhatikan wajahnya.
“Kalian mirip sekali.”
Rin menahan napas.
“Siapa?”
“Ren dan kamu.”
Ia menunjuk wajah Rin dengan gerakan kecil, kemudian buru-buru menurunkan tangannya.
“Maaf. Bukan maksud saya menunjuk.”
“Tidak apa-apa.”
Senyum Rin tetap berada di tempatnya.