Basemen parkir studio hampir kosong ketika mobil Ryuuto menuruni ramp terakhir.
Suara mesin bergema di antara dinding beton. Lampu-lampu putih yang dipasang berjajar di langit-langit berkedip melewati kaca jendela, satu demi satu, membuat bayangan Rin bergerak di permukaan kaca seperti potongan film yang diputar terlalu cepat.
Syuting solo untuk majalah hiburan tadi berlangsung hampir empat jam.
Rin masih mengenakan pakaian yang dipilih khusus untuk konsep pemotretan. Gaun hitam dengan potongan sederhana, jaket tipis yang disampirkan di bahu, rambut panjang yang ditata jatuh melewati sisi wajah. Makeup-nya masih utuh, meski sudut matanya sudah sedikit kehilangan ketajaman akibat kelelahan.
Di dalam tasnya terdapat pakaian ganti.
Di bawah lapisan pakaian itu ada kehidupan lain yang tidak boleh terlihat.
Ren.
Rin menyandarkan kepala sebentar ke jok.
"Terima kasih sudah mengantar."
Suaranya lembut, seperti suara yang biasa digunakan Rin ketika kamera masih menyala.
Ryuuto tidak menjawab.
Mobil berhenti di salah satu petak parkir yang jauh dari pintu utama. Tidak ada mobil anggota ECLIPSE lain di sekitarnya. Beberapa kendaraan terparkir di kejauhan, tetapi sebagian besar area itu sudah kosong.
Rin membuka sabuk pengaman.
"Kalau begitu aku turun di sini."
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika terdengar bunyi pendek.
Klik.
Pintu terkunci.
Rin berhenti.
Jari-jarinya masih berada di atas gagang pintu.
Ia menoleh perlahan.
Ryuuto mematikan mesin.
Keheningan yang muncul setelah suara mesin menghilang terasa jauh lebih berat daripada suara apa pun.
"Kenapa dikunci?"
Ryuuto menatap lurus ke depan.
"Sebentar."
"Aku mau turun."
"Aku bilang sebentar."
Rin memandang panel pintu, kemudian kembali kepada Ryuuto.
Sesuatu dalam dirinya langsung menegang.
Bukan karena ia belum pernah melihat Ryuuto marah.
Justru karena malam ini Ryuuto tidak terlihat marah.
Ia terlihat terlalu tenang.
Rin menarik tangannya dari gagang pintu.
"Kalau ada urusan soal jadwal, kita bicarakan besok di kantor."
"Aku tidak mau bicara soal jadwal."
Ryuuto akhirnya menoleh.
Tatapannya berhenti terlalu lama pada wajah Rin.
"Rin."
Nada suaranya membuat tengkuk Rin dingin.
"Sudah berapa lama aku menjaga rahasiamu?"
Rin tidak menjawab.
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Jangan pura-pura bodoh."
Ada sesuatu yang berubah dalam wajah Ryuuto. Bukan ledakan emosi. Lebih buruk dari itu. Seperti seseorang yang selama ini menahan keyakinan bahwa sesuatu adalah miliknya, kemudian mulai merasa berhak menagihnya.
Rin mengembuskan napas perlahan.
"Aku tidak pernah meminta kau menggunakan rahasiaku sebagai alasan untuk apa pun."
"Tapi aku yang menanggung risikonya."
"Sebagai produser, itu bagian dari tanggung jawabmu."
Ryuuto tertawa pendek.
"Produser?"
Ia mencondongkan tubuh.
"Setelah semua yang kulakukan untukmu, kau masih mau bicara seperti itu?"
Rin mundur sedikit ke sandaran kursi.
"Jangan mendekat."
Ryuuto tidak berhenti.
"Aku yang menemukanmu."
"Aku tahu."
"Aku yang membuatmu jadi Rin."
Rin menatapnya.
Kalimat itu selalu terdengar menjijikkan ketika keluar dari mulut Ryuuto.
Seolah-olah identitas yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Rin dapat bernapas adalah hasil produksi seseorang.
"Aku yang menjadi Rin," jawabnya pelan.
Ryuuto terdiam sesaat.
Lalu tangannya terangkat.
Rin refleks memalingkan wajah.
Ciuman itu tidak pernah sampai menjadi sesuatu yang romantis. Hanya tekanan singkat yang datang tanpa izin, cukup untuk membuat seluruh tubuh Rin membeku sebelum naluri mempertahankan diri mengambil alih.
Tangannya mendorong dada Ryuuto.
"Jangan."
Ryuuto mencoba mendekat lagi.
"Kau terlalu keras kepala."
"Jangan sentuh aku."
Rin mendorongnya sekali lagi.
Kali ini lebih kuat.