Malam sudah terlalu larut ketika pintu studio latihan Vivid Prominence akhirnya terbuka.
Udara Tokyo terasa lebih dingin daripada biasanya.
Rin keluar sambil menarik resleting jaket hingga mendekati dagu. Rambut panjangnya masih terikat longgar karena baru selesai latihan. Beberapa helai menempel di pelipis akibat keringat yang belum sepenuhnya mengering. Tas latihan menggantung di bahu kirinya, cukup berat untuk membuat pundaknya sedikit turun.
"Besok kuliah jam berapa?"
Suara Yuka terdengar dari belakang.
"Jam delapan."
Rin menoleh.
"Kalau kalian pulang sekarang, tidur."
Mei mengangkat tangan.
"Kirim pesan kalau sudah sampai."
Rin tersenyum.
"Iya."
Aoi hanya mengangguk dari dekat pintu studio.
Tidak ada yang aneh malam itu.
Tidak ada firasat.
Tidak ada alasan bagi Rin untuk mengira bahwa beberapa puluh meter dari sana, seseorang sedang memperhatikannya.
Kazuma berdiri jauh dari keramaian, cukup dekat untuk melihat siluet Rin tetapi tidak cukup dekat untuk menarik perhatian. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang telah menghabiskan waktu mengikuti pola kehidupan seorang idol.
Ia tidak mendekat.
Tidak memanggil.
Hanya melihat.
Rin berjalan menuju stasiun.
Langkahnya ringan, tetapi pikirannya sudah berpindah ke jadwal esok pagi. Praktikum. Kuliah. Catatan yang belum selesai dibaca. Kemudian, jika ada waktu, latihan lagi.
Dua kehidupan itu kembali bertumpuk di dalam kepalanya seperti dua lapisan transparan yang tidak pernah benar-benar menyatu.
Malam ini ia harus pulang sebagai Rin.
Besok pagi Ren harus sudah ada di kampus.
Masalahnya bukan sekadar mengganti pakaian.
Ia harus mengganti seluruh cara dirinya hadir di ruang publik.
Rambut.
Suara.
Postur.
Pakaian.
Cara berjalan.
Cara memandang orang.
Bahkan cara memegang tas.
Semua harus berubah cukup jauh agar tidak meninggalkan celah yang mudah dikenali.
Rin memasuki stasiun bersama arus penumpang malam.
Kazuma tetap di belakang.
Toilet publik di area transit hampir sepi.
Rin berdiri di depan cermin beberapa saat setelah memastikan tidak ada orang lain di dekatnya.
Pantulan wajahnya terlihat lelah.
Makeup panggung yang tadi membuat wajahnya tampak tajam sekarang justru terasa seperti lapisan tipis yang terlalu berat.
Ia mengusap pipinya dengan kapas pembersih.
Sekali.
Dua kali.
Warna di wajahnya perlahan menghilang.
Rin memandang dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, rambut panjangnya sudah disembunyikan dan pakaian panggung diganti dengan pakaian sederhana yang biasa dipakai Ren ke kampus.
Jaket gelap.
Celana panjang.
Sepatu yang jauh lebih sederhana.
Tas kuliah.
Wajah yang hampir tidak memiliki jejak idol.
Ia memeriksa pantulan dirinya sekali lagi.
Ren.
Bukan karena Rin hilang.
Hanya karena dunia belum mengizinkan keduanya berdiri di tempat yang sama.
Ia menarik napas.
Kemudian keluar.
Lima belas menit telah berlalu.
Di sisi lain area transit, Kazuma melihat seorang mahasiswa laki-laki muda berjalan keluar dari area toilet.
Langkahnya sedikit cepat.
Kepalanya menunduk.
Tas kuliah tersampir di bahu.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya bagi kebanyakan orang.
Kazuma tidak bergerak.
Matanya mengikuti pemuda itu.