Suara penonton sudah terdengar bahkan sebelum lampu utama dipadamkan.
Gemuruh ribuan orang memenuhi gedung konser Shibuya, merambat dari lantai hingga ke dinding-dinding tinggi di sekitar panggung. Gelombang suara itu tidak lagi terdengar seperti kumpulan manusia yang berbicara satu sama lain. Ia telah berubah menjadi satu massa suara yang bergerak, naik dan turun mengikuti musik pembuka.
Di belakang panggung, lima orang berdiri dalam garis yang hampir sempurna.
Aoi menarik napas panjang.
Mei menggenggam kedua tangannya sendiri.
Yuka melompat kecil di tempat untuk mengusir ketegangan dari kakinya.
Chino berkali-kali memeriksa mikrofon yang sebenarnya sudah diperiksa tiga kali oleh staf.
Rin berdiri di tengah.
Tangannya dingin.
Bukan karena takut.
Setidaknya bukan sepenuhnya.
Ada sesuatu yang terlalu besar sedang menunggu mereka malam ini.
Ia mendengar suara penonton memanggil nama grup mereka.
"ECLIPSE!"
"ECLIPSE!"
"ECLIPSE!"
Rin menutup mata sebentar.
Suara itu masuk melalui tulang, bukan sekadar telinga.
Beberapa bulan lalu, nama ECLIPSE masih harus diperkenalkan kepada hampir setiap orang yang mereka temui. Sekarang, ribuan orang meneriakkannya seolah nama itu sudah menjadi bagian dari hidup mereka.
Aoi menoleh kepada Rin.
"Siap?"
Rin membuka mata.
Senyum kecil muncul.
"Siap."
Pintu panggung terbuka.
Cahaya putih menyambar.
Kelima anggota ECLIPSE berlari keluar.
Dan malam berubah menjadi suara.
Konser berjalan seperti mimpi yang terlalu cepat.
Satu lagu.
Kemudian lagu berikutnya.
Lampu bergerak di atas kepala penonton seperti bintang yang berpindah arah. Layar besar di belakang panggung menampilkan wajah mereka dalam ukuran yang membuat setiap kedipan mata terlihat oleh ribuan orang.
Rin berdiri di tengah formasi.
Tubuhnya bergerak mengikuti koreografi yang telah diulang sampai kaki mereka menghafalnya bahkan ketika pikiran mulai lelah.
Ketika musik berhenti, tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
Rin mengangkat mikrofon.
Napasnya masih sedikit tersengal.
"Terima kasih!"
Suara penonton menjawab.
Rin tertawa.
Ia menoleh kepada Aoi, lalu Mei, Yuka, dan Chino.
Mereka semua tersenyum.
Ada sesuatu yang berbeda malam ini.
Bukan sekadar jumlah penonton.
Bukan sekadar pencapaian angka.
Ada perasaan bahwa ECLIPSE telah melewati sebuah pintu yang selama ini hanya mereka lihat dari kejauhan.
MC berikutnya dimulai.
Aoi menerima mikrofon.
"Kalau boleh jujur..."
Ia berhenti.
Penonton bersorak.
Aoi tertawa gugup.
"Beberapa bulan lalu kami bahkan belum berani membayangkan bisa berdiri di panggung sebesar ini."
Mei mengangguk di sampingnya.
Yuka menyelipkan tangan ke belakang punggung karena terlalu bersemangat.
Chino menatap layar besar yang menampilkan kelima wajah mereka.
Rin memperhatikan Aoi.
Ada sesuatu dalam ekspresi leader ECLIPSE itu.
Seolah Aoi tahu bahwa kalimat berikutnya akan mengubah sesuatu.
Aoi tersenyum.
"Kami ingin mengumumkan satu hal."
Gedung langsung bergemuruh.
Rin mengerutkan kening kecil.
Ia belum tahu.
Aoi tidak pernah mengatakan apa-apa kepada mereka.
Mei menutup mulut dengan kedua tangan.
Yuka sudah mulai berteriak.
Chino memandang staf di sisi panggung dengan mata membesar.
Kemudian layar raksasa di belakang mereka menyala.
Tulisan putih muncul.
ECLIPSE
FIRST NATIONAL TOUR
Untuk sesaat tidak ada seorang pun di atas panggung yang bergerak.
Kemudian suara penonton meledak.
Jeritan.
Tepuk tangan.
Tangisan.
Suara orang-orang yang memanggil nama mereka.
Rin berdiri membeku.
"Tur..."
Suaranya hampir tidak terdengar di antara gemuruh arena.
Mei langsung menangis.
"Kita benar-benar dapat tur."
Yuka menutup wajahnya.
"Serius?"
Chino sudah menangis sambil tertawa.
Aoi memandang empat anggota lainnya.
Kemudian matanya bertemu mata Rin.
"Nasional."
Satu kata.
Rin tertawa.
Bibirnya bergetar.
Ia tidak tahu kapan air mata mulai menggenang di matanya.
"Nasional," ulangnya.
Mereka berlima saling berpelukan.
Bukan pelukan yang diatur untuk kamera.
Bukan pose yang ditentukan koreografer.
Bukan senyum yang harus bertahan selama lima detik ketika fotografer menghitung mundur.
Mei memeluk Rin begitu erat sampai Rin hampir kehilangan keseimbangan.
"Kita berhasil!"
Yuka ikut merangkul mereka.
Chino menangis di bahu Aoi.
Aoi sendiri sudah tidak mampu menyembunyikan air matanya.