[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #56

Email Anonim

Pagi di kantor Vivid Prominence biasanya dimulai dengan suara mesin kopi.

Hari itu tidak.

Ryuuto datang lebih awal dari biasanya.

Jam di dinding baru menunjukkan pukul 07.18 ketika ia membuka pintu kantor yang masih setengah gelap. Lampu koridor belum seluruhnya menyala. Meja-meja staf kosong, kursi belum bergeser, dan pendingin ruangan mengeluarkan dengung rendah yang terdengar terlalu jelas dalam kesunyian.

Ia meletakkan tas di atas meja.

Biasanya ia akan langsung memeriksa jadwal ECLIPSE.

Kontrak tur.

Penawaran sponsor.

Anggaran venue.

Penjualan merchandise.

Tetapi pagi itu tangannya justru bergerak menuju laptop dengan gerakan yang lebih cepat daripada pikirannya.

Ada sesuatu yang tidak beres sejak semalam.

Email itu.

Subjeknya masih teringat jelas.

Siapakah Rin yang Sebenarnya?

Ryuuto menyalakan layar.

Satu notifikasi baru muncul.

Ia berhenti.

Alamat pengirimnya kembali tidak dikenal.

Jantungnya berdetak sekali dengan keras.

Kemudian sekali lagi.

Ryuuto membuka email tersebut.

Tidak ada salam.

Tidak ada identitas.

Hanya satu kalimat pendek.

Sepuluh juta yen. Dua minggu.

Di bawahnya terdapat beberapa foto.

Ryuuto menekan gambar pertama.

Wajah seorang pemuda muncul.

Rambut pendek.

Pakaian mahasiswa.

Tas di bahu.

Wajah yang sangat ia kenal meskipun hampir tidak pernah melihatnya dalam bentuk seperti itu.

Ren.

Jarinya berhenti di atas touchpad.

Ia membuka foto berikutnya.

Rin.

Di atas panggung.

Senyum.

Lampu.

Kostum.

Foto ketiga memperlihatkan keduanya berdampingan.

Ryuuto menatap layar tanpa bergerak.

Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa terlalu kecil.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi.

Tangannya bergerak ke wajah.

"Brengsek..."

Kata itu keluar nyaris tanpa suara.

Selama ini ia mengetahui rahasia Rin sebagai kartu yang membuatnya dapat mempertahankan pengaruh.

Ia tahu rahasia itu berbahaya.

Tetapi selama rahasia tersebut hanya berada di tangannya, ancamannya dapat dikendalikan.

Sekarang ada orang lain.

Dan orang itu tidak menginginkan kontrak.

Tidak menginginkan posisi.

Tidak menginginkan panggung.

Ia menginginkan uang.

Ryuuto menggulir layar.

Pesan berikutnya muncul.

Jika pembayaran tidak diterima dalam waktu dua minggu, materi akan disebarkan.

Tidak ada ancaman berlebihan.

Tidak ada kata-kata emosional.

Justru kesederhanaan itu membuatnya terasa nyata.

Sepuluh juta yen.

Dua minggu.

Ryuuto menatap angka tersebut.

Untuk perusahaan sebesar agensi besar, jumlah itu mungkin bisa dianggap biaya darurat.

Untuk Vivid Prominence, jumlah tersebut jauh lebih menyakitkan.

Tur nasional ECLIPSE baru saja diumumkan.

Investasi promosi telah meningkat.

Pembayaran venue.

Produksi merchandise.

Transportasi.

Tim pendukung.

Semua membutuhkan uang.

Sepuluh juta yen bukan angka yang bisa dikeluarkan tanpa konsekuensi.

Dan jika uang itu dibayar, tidak ada jaminan pemerasan akan berhenti.

Ryuuto menutup email.

Kemudian membukanya lagi.

Ia tidak bisa berhenti melihat foto tersebut.

Wajah Ren.

Wajah Rin.

Dua sisi yang selama ini ia simpan dalam kepalanya sebagai rahasia paling berharga.

Sekarang keduanya berada di layar dengan jarak beberapa sentimeter.

Ryuuto menghabiskan hampir satu jam berikutnya mencoba mencari jalan keluar.

Ia memeriksa informasi teknis yang tersedia pada email.

Mencari jejak.

Membandingkan data.

Mencoba menelusuri asal koneksi.

Hasilnya tidak memberi apa yang ia inginkan.

Alamat pengirim tidak memberikan identitas yang jelas.

Jejak teknis yang tersedia tidak mengarah langsung kepada seseorang.

Ryuuto mengumpat pelan.

Ia menyandarkan kedua telapak tangannya di meja.

"Siapa kau?"

Lihat selengkapnya