[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #57

Panggilan Dekan

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, Ren menerima pesan itu.

Bukan dari ECLIPSE.

Bukan dari Ryuuto.

Bukan pula dari keluarganya.

Nama pengirimnya membuat ibu jarinya berhenti di atas layar.

Sekretariat Dekanat Fakultas Kedokteran.

Ia membaca pesan tersebut sekali.

Kemudian sekali lagi.

Tachibana Ren-sama, dimohon hadir di ruang rapat Dekanat pada pukul 13.00 untuk membahas kehadiran dan perkembangan akademik Anda.

Tidak ada kata penting.

Tidak ada tanda seru.

Tidak ada ancaman tertulis.

Justru karena itu, perut Ren terasa mengeras.

Ia memasukkan ponsel ke saku jas laboratoriumnya dan kembali menatap layar komputer.

Slide kuliah patologi klinis masih terbuka.

Sebuah diagram yang sejak lima menit lalu tidak benar-benar ia baca.

Ren menggerakkan mouse.

Tidak ada yang masuk ke kepalanya.

Panggilan dari dekanat bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan senyum di depan kamera.

Tidak ada lampu panggung yang bisa menutupi ketidakhadirannya.

Tidak ada makeup yang bisa membuatnya menjadi Rin.

Di universitas ini, namanya tetap Ren Tachibana.

Dan nama itu mulai memiliki masalah.

Ruang rapat Dekanat berada di lantai tiga gedung administrasi, jauh dari laboratorium mahasiswa.

Udara di dalamnya lebih dingin.

Terlalu bersih.

Meja panjang dari kayu gelap berada di tengah ruangan, dengan beberapa kursi tersusun rapi di kedua sisi. Di dinding tergantung foto para profesor terdahulu, sebagian besar pria dengan ekspresi serius dan jas akademik. Di sudut ruangan terdapat lambang universitas yang dibuat dari logam mengilap.

Ren berdiri di depan pintu selama dua detik sebelum mengetuk.

"Masuk."

Suara itu berat.

Ren membuka pintu.

Dekan sudah menunggu.

Pria berusia enam puluhan itu duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertumpu di atas map berwarna biru tua. Rambutnya telah memutih hampir seluruhnya, tetapi tidak ada kesan lunak pada wajahnya.

"Silakan duduk, Tachibana."

"Baik."

Ren duduk.

Kursi itu terasa terlalu keras.

Dekan membuka map.

"Anda tahu mengapa dipanggil?"

Ren menundukkan pandangan ke meja.

"Karena ketidakhadiran saya."

"Berapa kali?"

Ren diam sejenak.

"Beberapa kali."

Dekan mengangkat mata.

"Berapa kali?"

Ren menarik napas.

"Delapan."

"Delapan kali dalam beberapa minggu terakhir."

"Iya."

"Dan beberapa di antaranya merupakan kuliah yang memiliki komponen kehadiran wajib."

Ren mengangguk.

Dekan membalik halaman.

"Patologi klinis. Dua kali. Praktikum terkait. Tiga kali. Satu sesi evaluasi. Dua sesi lain yang masih sedang diverifikasi."

Ren menelan ludah.

Setiap angka terdengar seperti batu yang dijatuhkan satu per satu ke dalam ruangan.

"Apakah ada alasan medis?"

Pertanyaan itu membuat Ren terdiam sedikit lebih lama.

Ada begitu banyak jawaban yang dapat ia berikan.

Migrain.

Kelelahan.

Jadwal kerja.

Masalah keluarga.

Gangguan tidur.

Tidak satu pun cukup aman.

"Beberapa kondisi pribadi."

Dekan menatapnya.

"Itu bukan jawaban yang cukup untuk mahasiswa kedokteran."

Ren mengangkat kepala.

"Saya memahami."

"Anda adalah mahasiswa yang secara akademis sebenarnya mampu."

Nada dekan tidak terdengar memuji.

Justru seperti seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu yang membuatnya kecewa.

"Nilai Anda tidak buruk. Bahkan dalam beberapa mata kuliah, sangat baik. Tetapi fakultas tidak hanya menilai kemampuan menjawab soal."

Dekan menutup map perlahan.

"Kedokteran membutuhkan disiplin."

Ren merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.

"Ya."

"Ketidakhadiran berulang dapat berpengaruh terhadap kelayakan Anda mengikuti evaluasi tertentu. Jika persyaratan tidak terpenuhi, fakultas tidak dapat begitu saja memberikan pengecualian."

Ren menatap permukaan meja.

Serat kayunya terlihat jelas.

Terlalu jelas.

"Apakah saya masih bisa mengikuti praktikum susulan?"

Dekan tidak langsung menjawab.

Ren mengangkat kepala.

"Saya bersedia mengerjakan tugas kompensasi. Saya juga bersedia mengganti sesi yang tertinggal."

"Tachibana."

Suara dekan menjadi lebih pelan.

"Ini bukan sekolah menengah."

Ren diam.

"Dan fakultas tidak dapat terus memberikan toleransi hanya karena nama keluarga Anda."

Nama itu akhirnya muncul.

Bukan untuk membantunya.

Untuk menekannya.

Dekan menarik napas.

"Ayah Anda adalah dokter yang sangat dikenal. Reputasi profesional keluarga Tachibana sudah lama diketahui di lingkungan akademik dan medis."

Rahang Ren menegang.

"Namun reputasi tersebut tidak dapat menyertai kelalaian akademis Anda selamanya."

Kata ayah membuat dadanya seperti ditekan dari dalam.

Ren menundukkan kepala.

"Saya tidak meminta perlakuan khusus."

"Bagus."

Dekan membuka kembali map.

"Karena saya juga tidak akan memberikannya."

Hening.

Jam dinding berdetak.

Satu.

Dua.

Tiga.

"Anda mendapatkan kesempatan terakhir."

Lihat selengkapnya