[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #58

Jejak Parfum dan Hormon

Sore itu, studio latihan Vivid Prominence masih menyisakan panas dari enam jam terakhir.

Cermin dinding dipenuhi pantulan lima tubuh yang bergerak sejak siang. Lantai kayu menyimpan bekas tapak sepatu, botol-botol air berdiri di dekat speaker, dan udara bercampur antara keringat, pelembap kulit, serta aroma parfum yang tertinggal dari sesi pemotretan promosi sebelum latihan dimulai.

ECLIPSE baru saja selesai melakukan satu putaran terakhir.

Musik berhenti.

Aoi langsung menekan remote.

"Ulang bagian bridge besok."

Yuka menjatuhkan diri ke lantai.

"Besok lagi?"

"Kalau sekarang masih ada tenaga untuk protes, berarti masih ada tenaga untuk latihan."

"Kapten kejam."

Mei tertawa sambil mengambil botol minum.

Rin hanya tersenyum.

Ia mengusap keringat di pelipis dengan handuk kecil. Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai menempel di pipi. Napasnya masih belum sepenuhnya kembali teratur.

"Jangan lupa pendinginan," katanya.

Yuka mengangkat kedua tangan.

"Iya, ibu."

"Siapa yang ibu?"

"Kau."

Rin tertawa pelan.

Aoi memperhatikan mereka sambil membereskan speaker.

Beberapa menit kemudian, studio mulai kosong.

Yuka dan Chino pergi lebih dulu untuk membeli minuman.

Mei menerima telepon dari staf.

Rin masih berdiri di depan cermin, mengikat kembali rambutnya.

Aoi melihat ke arah tas latihan Rin yang tergeletak di dekat sofa.

"Rin."

"Hm?"

"Kau masih punya handuk cadangan?"

Rin menoleh.

"Sepertinya ada satu di tas."

"Aku ambilkan."

Rin mengangguk.

"Terima kasih."

Aoi berjalan ke sofa.

Tas Rin terbuka sedikit.

Ia membungkuk.

Tangannya masuk ke dalam.

Jarinya menyentuh kain.

Kemudian sesuatu yang tipis dan kaku ikut tertarik keluar bersama handuk.

Selembar kertas.

Aoi hampir mengembalikannya tanpa melihat.

Namun satu kata di bagian atas membuat matanya berhenti.

Estradiol.

Tangannya membeku.

Aoi menatap kertas itu.

Bukan karena ia langsung memahami seluruh isinya.

Ia tidak.

Tetapi selama masa pendidikan kesehatan yang pernah ia dapatkan dan berbagai informasi yang sesekali ia baca, ia tahu nama tersebut bukan obat yang biasa ditemukan dalam tas seorang idol.

Di bawahnya terdapat beberapa catatan tangan.

Grafik.

Tanggal.

Angka-angka.

Beberapa istilah farmakologi.

Aoi mengernyit.

"Rin?"

Suara itu membuat Rin menoleh.

"Apa?"

Aoi masih memegang kertas.

"Kau punya ini?"

Rin tidak langsung menjawab.

Perubahan di wajahnya begitu kecil sehingga mungkin tidak akan terlihat oleh orang lain.

Namun Aoi melihatnya.

Senyum Rin berhenti di tempat.

Tangan yang sedang mengikat rambut diam.

"Yang mana?"

Aoi mengangkat lembaran itu sedikit.

"Ini."

Rin berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ketika melihat kertas tersebut, warna wajahnya berubah.

Tidak drastis.

Hanya sedikit terlalu pucat.

Ia mengambilnya.

"Ah."

Satu suku kata.

Terlalu cepat.

Aoi memperhatikannya.

"Ini resep?"

Rin melipat kertas tersebut.

"Ya."

"Untuk apa?"

Rin tidak menjawab.

Aoi tidak bergerak.

Suasana studio yang tadi penuh suara tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.

Lihat selengkapnya