Danau Kawaguchiko tampak seperti lembaran logam gelap ketika mereka tiba sebelum matahari terbit.
Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan air, bergerak perlahan setiap kali angin turun dari lereng Fuji. Lampu-lampu produksi berdiri di tepi jalan seperti benda asing yang dipaksakan masuk ke dalam lanskap yang masih tertidur. Kabel-kabel hitam membelah tanah yang membeku. Beberapa kru berjalan tergesa-gesa dengan jaket tebal, kedua tangan mereka dimasukkan ke dalam saku atau digosokkan satu sama lain untuk mempertahankan panas.
Di papan digital dekat kendaraan produksi tertulis angka yang membuat Rin berhenti selama beberapa detik.
2°C.
Ia menatap angka itu lebih lama daripada yang seharusnya.
“Dingin sekali,” gumam Yuka dari belakangnya.
Rin tersenyum kecil.
“Masih bisa ditahan.”
Suaranya terdengar ringan. Hampir seperti biasanya.
Padahal ujung jarinya sudah terasa dingin sejak turun dari van.
Ia menarik lengan mantel lebih rapat sebelum seorang staf kostum datang menghampiri.
“Rin-chan, wardrobe check sekarang, ya.”
Rin mengangguk.
Di dalam tenda kostum, udara sedikit lebih hangat, tetapi tidak cukup untuk membuat tubuhnya kembali nyaman. Ia duduk di kursi lipat sambil membiarkan stylist merapikan rambutnya. Cermin besar di depannya memantulkan wajah yang sudah hampir sepenuhnya menjadi Rin.
Rambut panjang.
Bulu mata yang dibentuk rapi.
Kulit yang tampak lebih pucat di bawah lampu putih.
Bibir yang diberi warna lembut.
Dan gaun tipis berwarna pucat yang jatuh sampai melewati lutut.
Cantik.
Itulah kata pertama yang muncul di kepalanya.
Lalu tubuhnya sendiri memberikan jawaban yang berbeda.
Dingin.
Rin menarik napas perlahan.
Ia sudah beberapa waktu terakhir menyesuaikan regimen hormonnya secara mandiri. Ia tahu tubuhnya sedang berada dalam fase yang tidak sepenuhnya stabil. Ada perubahan yang sulit ia ukur hanya dari angka-angka sederhana. Suhu tubuh terasa lebih mudah berubah. Energinya tidak selalu datang dengan pola yang sama. Ada hari ketika ia merasa baik-baik saja, kemudian beberapa jam berikutnya tubuhnya seperti kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kenyamanan yang sebelumnya dianggap biasa.
Ia mengetahui semua itu secara rasional.
Justru karena itulah ia seharusnya tahu bahwa pagi ini bukan saat yang tepat untuk menganggap tubuhnya bisa dipaksa.
Tetapi jadwal syuting sudah dibuat.
Kamera sudah datang.
Puluhan orang sudah bangun sejak dini hari.
Dan lagu baru ECLIPSE akan membutuhkan adegan ini.
Tidak ada seorang pun yang boleh menunggu hanya karena tubuh Rin sedang bermasalah.
“Cantik,” kata stylist sambil mundur selangkah.
Rin tersenyum kepada cermin.
“Terima kasih.”
Pintu tenda terbuka.
Mei muncul dengan gaun serupa, kedua tangannya langsung masuk ke sela-sela lengan karena kedinginan.
“Rin, kamu sudah selesai?”
“Sudah.”
Mei menatap gaunnya, lalu mengangkat kedua alis.
“Ini serius?”
Rin tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Kita mau syuting MV atau mau membekukan lima orang?”
Yuka yang baru masuk langsung menyahut.
“Aku pilih opsi kedua kalau sutradara berani berdiri di depan kamera tanpa jaket.”
Beberapa staf tertawa.
Rin ikut tertawa.
Untuk beberapa detik, semuanya terasa normal.
Hanya pekerjaan.
Hanya sebuah pagi yang dingin.
Hanya lima gadis muda yang akan berdiri di depan kamera.
Namun ketika mereka keluar dari tenda, udara langsung menusuk.
Rin berhenti.
Tarikan napasnya tertahan sesaat.
Angin menyentuh kaki yang tidak tertutup kain tebal dan membuat seluruh kulitnya seperti mengerut. Ia memeluk tubuh sendiri secara refleks sebelum menyadari ada kamera behind-the-scenes di dekat mereka.
Tangannya segera turun.
Senyumnya kembali.
“Rin?”
Mei berdiri di sampingnya.
“Aku tidak apa-apa.”
Mei memandangnya beberapa detik.
“Kamu pucat.”
“Make-up-nya memang begitu.”
“Itu bukan jawaban.”
Rin tersenyum.
“Kalau aku benar-benar tidak kuat, aku bilang.”
Mei tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun sebentar ke tangan Rin.
Jari-jari itu bergetar.
Sangat halus.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi Mei melihatnya.
Ia membuka mulut, seolah hendak mengatakan sesuatu, namun sutradara sudah memanggil dari arah kamera.
“ECLIPSE! Blocking!”
Kelima anggota bergerak ke posisi.
Dan percakapan itu berakhir.
Adegan pertama mengambil latar di tepian danau.
Mereka harus berjalan perlahan menuju kamera dengan latar Fuji yang sebagian tertutup kabut. Angin bertiup dari arah air, membawa hawa lembap yang membuat dingin terasa lebih dalam daripada sekadar angka di termometer.
“Stand by!”
Rin berdiri di tengah.
Gaunnya bergerak sedikit diterpa angin.
Kakinya terasa dingin.
Tangannya dingin.
Ujung hidungnya mulai mati rasa.
Ia menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Rolling!”
Kamera bergerak.
Musik diputar.
Rin tersenyum.
Dalam hitungan satu detik, tubuh yang tadi gemetar berubah menjadi sesuatu yang lain.
Bahunya turun.
Dagunya terangkat.
Tatapan matanya menjadi lembut.
Senyumnya mengandung kehangatan yang tidak dimiliki udara pagi itu.
Ia berjalan bersama empat anggota lain.
Tidak ada Ren.
Tidak ada universitas.
Tidak ada ayah.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada Kazuma.
Hanya Rin.
Dan untuk beberapa menit, ia berhasil mempercayainya.
“Cut!”
Mereka berhenti.
Rin mengembuskan napas panjang.
“Bagus!” seru sutradara. “Kita ambil satu lagi dengan ekspresi lebih natural di bagian akhir.”
Mei segera mendekatinya.
“Masih kuat?”
Rin mengangguk.
“Masih.”
“Bener?”
“Bener.”
Kali ini Yuka ikut mendekat.
“Gigi kamu gemeretak.”
Rin tertawa kecil.
“Itu efek akting.”
“Akting dari gigi?”
“Improvisasi.”
Yuka tertawa, tetapi ekspresinya tidak benar-benar santai.
Rin tahu.
Mereka berdua mulai memperhatikannya.
Ia tidak boleh membuat mereka khawatir.
Ia tidak boleh membuat produksi berhenti.