Malam Akihabara selalu terasa seperti kota yang menolak tidur.
Papan-papan elektronik berwarna terang berkedip di antara gedung-gedung sempit. Suara kereta dari kejauhan bercampur dengan musik yang keluar dari toko elektronik dan percakapan orang-orang yang berjalan cepat di trotoar. Di sela bangunan yang dipenuhi cahaya itu, terdapat restoran ramen kecil yang nyaris tidak menarik perhatian siapa pun.
Papan namanya sudah kusam.
Tirai noren di depan pintu bergerak setiap kali seseorang keluar.
Uap kuah, minyak, dan aroma bawang putih memenuhi udara.
Ryuuto Saeki datang sendirian.
Ia mengenakan jaket gelap dan topi yang ditarik rendah. Tidak ada pakaian yang menunjukkan bahwa ia seorang produser. Tidak ada tanda Vivid Prominence. Tidak ada satu pun benda yang menghubungkannya dengan ECLIPSE.
Ia memilih tempat itu justru karena tidak ada yang akan mencarinya di sana.
Atau setidaknya, itulah yang ia harapkan.
Ryuuto masuk.
Restoran itu hanya memiliki beberapa kursi di depan meja panjang. Seorang pria tua berdiri di belakang mesin kasir, sementara suara air mendidih dan bunyi mangkuk yang diletakkan di atas meja mengisi ruang sempit tersebut.
Ryuuto memilih kursi paling ujung.
Ia tidak memesan apa pun.
Ponselnya berada di atas meja.
Layar mati.
Tangannya beberapa kali bergerak menuju benda itu, lalu berhenti.
Dua minggu.
Itulah batas waktu yang diberikan Kazuma.
Dua minggu untuk membayar sepuluh juta yen.
Jumlah yang terlalu besar untuk Vivid Prominence.
Agensi mereka bukan perusahaan besar dengan cadangan kas yang dapat dipindahkan begitu saja. Uang yang ada sudah tersebar untuk produksi, tempat latihan, biaya tur nasional, transportasi, promosi, dan pembayaran berbagai vendor.
Dan sekarang seseorang memegang satu benda yang jauh lebih berharga daripada uang.
Identitas Rin.
Ryuuto menatap pantulan wajahnya sendiri pada layar ponsel yang gelap.
Ia tidak takut kehilangan agensi.
Ia takut kehilangan kendali.
Pintu restoran terbuka.
Seorang pria masuk.
Rambutnya sedikit berantakan. Mantelnya panjang dan sederhana. Usianya sekitar tiga puluhan. Wajahnya tidak tampak seperti seseorang yang datang untuk melakukan transaksi besar.
Kazuma.
Ia melihat sekeliling sebentar sebelum tersenyum.
“Saeki-san.”
Ryuuto tidak membalas senyum itu.
“Kau terlambat.”
“Dua menit.”
“Dua menit tetap terlambat.”
Kazuma menarik kursi di seberangnya.
“Berarti Anda masih punya kesabaran.”
Ryuuto menatapnya.
“Aku tidak datang untuk bercanda.”
“Aku juga.”
Kazuma duduk santai.
Ia bahkan tidak melihat menu.
“Rin tidak datang?”
Ryuuto langsung mengangkat mata.
“Jangan sebut namanya di sini.”
Kazuma tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu siapa yang sedang mendengar.”
“Bukankah itu justru yang membuat pembicaraan ini menarik?”
Ryuuto mengepalkan tangan di bawah meja.
Pelayan datang.
Kazuma memesan ramen.
Ryuuto tetap tidak memesan apa pun.
Beberapa menit kemudian, mangkuk panas diletakkan di depan Kazuma. Uap mengepul di antara mereka.
Kazuma mengambil sumpit.
“Kita bicara sambil makan?”
“Lakukan sesukamu.”
Kazuma mengaduk kuah dengan santai.
“Sepuluh juta.”
“Aku tahu.”
“Dua minggu.”
“Aku tahu.”
“Dan saya ingin memastikan Anda tidak mencoba mengulur waktu.”
Ryuuto membuka tas kecil yang diletakkan di samping kakinya.
Sebuah amplop tebal dikeluarkan.
Ia meletakkannya di atas meja.
Tidak terlalu keras.
Namun cukup untuk membuat Kazuma berhenti mengaduk kuah.
“Uang muka.”
Kazuma memandang amplop tersebut.
“Berapa?”
“Satu juta.”
Kazuma menatap Ryuuto beberapa detik.
Kemudian ia tertawa.
Pendek.
Tanpa humor.
“Satu juta?”
“Anggap sebagai bukti bahwa aku serius.”
“Sepuluh persen dari tuntutan.”
“Dan sisanya akan kubayar.”
“Bagaimana?”
“Itu bukan urusanmu.”
Kazuma menyandarkan punggung.
“Justru itu urusanku.”
Ryuuto mendorong amplop sedikit lebih dekat.
“Ambil.”
Kazuma tidak menyentuhnya.
“Tidak.”
Ryuuto mengernyit.
“Kau meminta uang.”
“Aku meminta sepuluh juta.”
“Aku memberimu satu juta sekarang.”
“Aku tidak membutuhkannya.”
Ryuuto menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak Kazuma datang, ekspresinya berubah.