[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #61

Bayangan di Luar Asrama

Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh malam ketika Rin mematikan lampu kamar.

Asrama ECLIPSE akhirnya sunyi setelah seharian dipenuhi suara pengering rambut, musik latihan, pintu kamar yang dibuka-tutup, tawa Yuka dari ruang tengah, dan suara Mei yang berkali-kali mengingatkan semua orang untuk tidak meninggalkan gelas minuman di atas meja.

Bangunan itu tidak pernah benar-benar tenang.

Pipa air kadang berbunyi dari balik dinding.

Lantai kayu berderit ketika seseorang berjalan di lantai atas.

Dari jalan raya yang tidak terlalu jauh, suara kendaraan sesekali menembus kaca jendela yang tipis.

Tetapi malam itu semuanya terasa berbeda.

Rin berbaring telentang.

Matanya terbuka.

Sudah hampir dua puluh menit sejak ia mematikan lampu, tetapi pikirannya tidak ikut padam.

Ia mengubah posisi.

Menarik selimut.

Membalik bantal.

Memejamkan mata.

Membukanya lagi.

Bayangan Kazuma muncul tanpa diminta.

Bukan wajahnya.

Bukan kata-katanya.

Melainkan foto.

Ren di stasiun.

Rin di atas panggung.

Dua gambar yang seharusnya tidak pernah berada dalam satu bingkai.

Rin menarik napas panjang.

Dia tahu.

Pikiran itu datang lagi.

Ia mencoba mengusirnya.

Dia tahu, tapi belum melakukan apa-apa.

Itu tidak membantu.

Karena justru bagian terakhir itulah yang paling mengganggu.

Belum.

Kata itu terus berada di kepalanya.

Rin akhirnya duduk.

Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menyibakkannya dengan satu tangan, kemudian menatap jam digital di meja.

23.59.

Ia menghela napas.

Kemudian berdiri.

Kamar gelap.

Ia berjalan menuju jendela.

Tangannya menyentuh tirai.

Hanya ingin melihat apakah hujan turun.

Hanya itu.

Ia menyibakkan tirai beberapa sentimeter.

Lampu jalan memantul pada kaca.

Jalan di depan asrama terlihat hampir kosong.

Satu mobil melintas.

Kemudian sebuah sepeda.

Kemudian tidak ada apa-apa.

Rin hendak menutup tirai ketika sesuatu menangkap cahaya.

Sangat singkat.

Sebuah titik putih.

Seperti kilatan kecil.

Rin membeku.

Tangannya masih memegang tirai.

Ia tidak bergerak.

Tidak bernapas selama beberapa detik.

Kemudian titik itu menghilang.

Rin menatap seberang jalan.

Gelap.

Ada beberapa bangunan.

Tiang lampu.

Pagar.

Bayangan pohon.

Tidak ada wajah.

Tidak ada sosok yang jelas.

Ia perlahan melepaskan tirai.

Menutupnya.

Jantungnya berdetak terlalu cepat.

“Tidak mungkin.”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia membuka tirai lagi.

Tidak ada apa-apa.

Kali ini ia langsung menutupnya.

Langkahnya mundur satu.

Kemudian dua.

Ponsel di atas meja bergetar.

Rin tersentak.

Ia meraih benda itu.

Pesan dari Mei.

Rin menatap pesan tersebut.

Kemudian layar mati.

Ia tidak menjawab.

Pukul 00.16.

Rin masih belum tidur.

Pukul 00.43.

Masih terjaga.

Pukul 01.12.

Ia keluar kamar.

Lampu ruang tengah hanya menyala satu. Cahaya kuning redup jatuh ke sofa, meja kecil, dan beberapa tas yang belum dibereskan.

Rin mengambil air.

Ketika gelas menyentuh bibirnya, terdengar suara dari arah tangga luar.

Langkah.

Satu.

Kemudian satu lagi.

Rin berhenti minum.

Suara itu tidak berasal dari dalam unit.

Tangga darurat berada di sisi luar bangunan dan dapat terdengar cukup jelas ketika seseorang menggunakannya.

Langkah tersebut berhenti.

Rin menunggu.

Tidak ada apa-apa.

Ia menurunkan gelas.

Kemudian terdengar bunyi lain.

Tok.

Seperti sepatu menyentuh anak tangga.

Rin menoleh ke arah pintu.

Dadanya mengencang.

Ia meletakkan gelas di meja.

“Rin?”

Suara Chino membuatnya berbalik.

Chino berdiri di ujung koridor dengan rambut sedikit berantakan.

“Kamu belum tidur?”

Rin menggeleng.

“Kamu?”

“Aku haus.”

Chino berjalan mendekat.

Kemudian terdengar langkah dari luar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Chino berhenti.

Wajahnya berubah.

“Kamu dengar?”

Rin mengangguk.

Mereka saling memandang.

Langkah itu berhenti tepat di bawah lantai mereka.

Chino menelan ludah.

“Siapa?”

Lihat selengkapnya