[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #62

Tatapan Ibu

Pagi di Shinjuku belum benar-benar terang ketika suara roda koper kecil melewati lorong apartemen terdengar samar dari balik pintu. Cahaya matahari musim gugur menyusup melalui sela bangunan tinggi, jatuh dalam garis-garis pucat ke lantai kamar Ren yang belum sempat dibersihkan sejak dua hari terakhir. Tirai masih tertutup separuh. Di atas meja belajar, buku fisiologi terbuka pada halaman yang sama sejak malam sebelumnya, sementara beberapa lembar catatan terlipat di bawah laptop yang sudah masuk mode tidur.

Ren sendiri terbaring miring di atas kasur sempitnya. Tidurnya terlalu dalam untuk ukuran seseorang yang biasanya terbangun hanya karena suara kereta pertama dari kejauhan. Malam sebelumnya ia pulang setelah latihan yang berakhir terlalu larut, kemudian duduk di depan meja sampai hampir pukul tiga untuk menyelesaikan bagian terakhir makalah kompensasi yang diminta fakultas. Tubuhnya akhirnya menyerah sebelum pikirannya sempat berhenti.

Ponsel di lantai sudah beberapa kali bergetar tanpa respons.

Di luar pintu, Shizuka berdiri sambil memegang dua tas belanja.

"Ren?"

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu beberapa detik, lalu mengetuk lagi.

"Ren, Ibu masuk, ya."

Tetap sunyi.

Shizuka mengembuskan napas kecil. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan putranya yang kadang terlalu tenggelam dalam belajar sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar. Sejak kunjungan mendadak beberapa waktu lalu, ia juga merasa kamar ini semakin berantakan. Bukan kotor dalam arti yang mengkhawatirkan, tetapi terlalu banyak benda yang tidak berada pada tempatnya.

Sebagai seseorang yang terbiasa mengatur rumah hampir secara otomatis, Shizuka tidak pernah benar-benar mampu melihat tumpukan pakaian di kursi tanpa merasa harus merapikannya.

Kunci cadangan berputar di lubang pintu.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

"Ren?"

Aroma sup miso yang masih hangat keluar dari salah satu tas. Shizuka melepas sepatunya dengan hati-hati, menaruh kantong makanan di meja dapur kecil, lalu memandang sekeliling.

"Ya ampun..."

Nada suaranya hampir seperti teguran, tetapi tidak ada kemarahan di sana.

Ada handuk yang belum dilipat. Dua kemeja tergantung di sandaran kursi. Kotak makanan kosong berada di dekat wastafel. Sebuah jaket tergeletak begitu saja di lantai.

Shizuka langsung bekerja.

Ia menggantung jaket, melipat handuk, memindahkan gelas ke wastafel, lalu membuka sedikit jendela untuk membiarkan udara pagi masuk. Tangannya bergerak seperti seseorang yang telah melakukan hal yang sama ribuan kali di rumah.

Baru setelah semuanya tampak sedikit lebih teratur, ia membawa wadah makanan ke meja.

"Supnya masih hangat. Nanti bangun, makan."

Tidak ada jawaban.

Shizuka mengernyit.

Ia berjalan menuju kamar tidur.

Pintu kamar tidak tertutup sepenuhnya.

"Ibu masuk sebentar."

Tangannya menyentuh daun pintu dan mendorongnya perlahan.

Kemudian langkahnya berhenti.

Ren tertidur membelakanginya. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya karena udara kamar terasa hangat. Ia tidur tanpa atasan, sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi seorang anak yang tinggal sendirian. Tetapi perhatian Shizuka tertahan pada sesuatu yang lain.

Ia tidak langsung memahami apa yang dilihatnya.

Matanya bergerak dari bahu Ren menuju bagian dadanya, lalu kembali lagi.

Untuk beberapa detik, otaknya menolak menyusun apa yang ada di hadapannya.

Kontur tubuh Ren telah berubah.

Tidak drastis. Tidak seperti sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam satu malam. Justru perubahan itu tampak seperti hasil dari sesuatu yang berlangsung perlahan selama berbulan-bulan, sampai akhirnya menjadi cukup nyata untuk terlihat bahkan ketika Ren sedang tertidur dan tidak berusaha menyembunyikannya.

Shizuka berdiri kaku di ambang pintu.

Tangannya yang tadi hendak mengambil pakaian kotor berhenti di udara.

"Ren..."

Suara itu nyaris tidak terdengar.

Ia melangkah setengah langkah ke dalam.

Baru sekarang Shizuka menyadari bahwa beberapa hal yang selama ini ia anggap sebagai akibat kelelahan mungkin bukan sekadar kelelahan. Wajah Ren memang tampak semakin halus. Tubuhnya terlihat lebih ringan. Ia sering mengeluh kedinginan. Beberapa kali Shizuka melihat perubahan yang sulit ia jelaskan, tetapi selalu ada alasan yang bisa dipakai untuk menutupinya.

Kali ini tidak ada alasan yang langsung tersedia.

Shizuka menutup mulut dengan satu tangan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Ini apa..."

Ren bergerak sedikit dalam tidurnya.

Shizuka mundur refleks.

Namun sebelum ia sempat keluar, matanya kembali tertuju pada putranya.

Ada sesuatu dalam cara Ren tidur yang membuatnya tiba-tiba terlihat jauh lebih muda daripada sembilan belas tahun. Bukan mahasiswa kedokteran yang setiap kali pulang ke rumah berusaha duduk tegak di hadapan ayahnya. Bukan anak laki-laki yang selalu menjawab pertanyaan Kenji dengan kalimat pendek dan sopan.

Hanya anaknya.

Anak yang pernah ia peluk ketika demam.

Anak yang dulu menangis karena lututnya terluka saat belajar bersepeda.

Anak yang sekarang tidur sendirian di apartemen kecil, terlalu lelah untuk menyadari bahwa ibunya sedang berdiri beberapa langkah darinya.

Air mata jatuh ke pipi Shizuka.

Ia buru-buru mengusapnya.

"Ren."

Kali ini suaranya lebih tegas.

Ren mengerang pelan.

"Hm..."

"Ren."

Kelopak mata Ren bergerak.

Beberapa detik kemudian ia membuka mata.

Pandangan pertamanya kosong, masih tertahan di antara mimpi dan kenyataan. Ia memandang langit-langit, kemudian ke sisi tempat tidur, lalu perlahan mengangkat kepala.

"Ibu...?"

Suara paginya serak.

Shizuka berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

Ren langsung terjaga.

Ia mengikuti arah tatapan ibunya.

Kemudian tubuhnya membeku.

Darah seperti berhenti mengalir ke wajahnya.

Tangannya bergerak refleks menarik selimut lebih tinggi.

"Ibu?"

Shizuka tidak menjawab.

Ren duduk terlalu cepat. Kepalanya berdenyut sesaat, tetapi ia bahkan tidak memperhatikannya. Ia meraih kaus yang tergeletak di samping bantal dan mengenakannya dengan gerakan terburu-buru. Jarinya salah memasukkan kepala ke lubang pakaian dan kain itu tersangkut di wajahnya.

"Ibu, kenapa datang pagi-pagi?"

Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat.

Shizuka menatapnya.

"Ibu bawa makanan."

Ren berhasil menarik kaus sampai ke bahunya.

"Oh."

Satu kata.

Terlalu datar.

Shizuka menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Ren."

Nada itu membuat Ren berhenti.

"Iya?"

"Apa kamu sakit?"

Ren tidak langsung menjawab.

Shizuka menunjuk dadanya dengan gerakan kecil yang kemudian ia tarik kembali, seolah merasa bersalah karena menunjuk tubuh anaknya sendiri.

"Itu..."

Napasnya bergetar.

Lihat selengkapnya