Malam sudah lewat pukul sebelas ketika lantai bawah tanah gedung studio hampir sepenuhnya kosong.
Lampu fluoresen memanjang di langit-langit beton, beberapa di antaranya berkedip pelan sehingga bayangan mobil di lantai tampak terputus-putus. Udara membawa bau oli, debu, dan kelembapan yang tertahan terlalu lama di ruang tanpa jendela. Dari lantai atas, suara bass dari studio yang belum sepenuhnya dimatikan terdengar seperti denyut jauh di balik dinding.
Ryuuto berdiri di dekat sebuah pilar beton dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket.
Ia sudah menunggu hampir dua puluh menit.
Matanya berkali-kali berpindah ke pintu akses menuju tangga darurat.
Di tangannya ada ponsel yang layarnya sudah mati sejak beberapa menit lalu.
Dua pria berdiri tidak jauh darinya.
Mereka bukan petugas keamanan resmi Vivid Prominence. Tidak mengenakan seragam. Tidak membawa identitas perusahaan. Ryuuto menemukan mereka melalui seseorang yang dikenalnya dari jaringan industri malam, orang-orang yang biasa digunakan ketika seseorang membutuhkan tenaga tambahan tanpa terlalu banyak pertanyaan.
Ryuuto tahu persis betapa buruk keputusan itu.
Ia tetap melakukannya.
"Dia pasti datang?"
Salah satu pria bertanya.
Ryuuto mengangkat mata.
"Dia akan datang."
"Kartu memorinya?"
"Ambil."
Pria itu menatap Ryuuto beberapa detik.
"Kalau dia melawan?"
Ryuuto diam.
Ia kemudian menjawab dengan suara rendah.
"Jangan bunuh siapa pun."
Kedua pria itu saling berpandangan.
Ryuuto memalingkan wajah.
Kalimat tersebut terdengar lebih buruk daripada yang ia maksudkan.
Ia tidak ingin memikirkan apa yang sedang ia lakukan. Ia hanya memikirkan satu hal.
Foto-foto itu.
Foto Ren.
Foto Rin.
Dua kehidupan dalam satu bingkai.
Jika Kazuma mengunggahnya, Vivid Prominence bukan satu-satunya yang akan jatuh.
ECLIPSE akan ikut terseret.
Sponsor bisa menarik diri. Kontrak dapat ditinjau ulang. Media akan menggali identitas Rin sampai ke keluarga Tachibana. Dan jika keluarga itu benar-benar sebesar yang selama ini Ryuuto duga, agensi kecilnya mungkin bahkan tidak sempat menjelaskan apa pun sebelum dihancurkan.
Tetapi di antara semua perhitungan itu, ada satu ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
Rin akan lepas dari tangannya.
Selama ini rahasia Ren adalah sesuatu yang membuat Ryuuto merasa memiliki kartu terakhir.
Sekarang Kazuma memegang kartu yang sama.
Itulah yang tidak bisa diterimanya.
Suara langkah terdengar.
Ryuuto langsung menoleh.
Kazuma muncul dari balik sudut koridor parkir.
Pria itu mengenakan jaket gelap dan berjalan tanpa terburu-buru. Satu tangan berada di saku celana. Wajahnya tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang telah mengancam sebuah agensi dan meminta uang dalam jumlah besar.
Ryuuto memberi isyarat kecil.
Kedua pria di belakangnya bergerak.
Kazuma berhenti.
Tatapannya berpindah dari Ryuuto ke dua orang asing tersebut.
Lalu ia tersenyum.
"Jadi begini?"
Ryuuto melangkah maju.
"Serahkan kartunya."
Kazuma tertawa kecil.
"Kau benar-benar putus asa."
"Serahkan."
"Dan setelah itu?"
"Aku akan menyelesaikan urusanmu."
"Urusanku?"
Kazuma memiringkan kepala.
"Ini bukan urusanku lagi. Ini urusanmu."
Ryuuto mengepalkan tangan.
"Kau sudah menerima uang muka."
"Uang?"
Kazuma memasukkan tangan ke saku jaketnya.
"Kau masih berpikir ini tentang uang?"
Ryuuto tidak menjawab.
Kazuma mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Bukan kartu memori.
Sebuah ponsel.
Ia mengangkatnya sedikit.
"Semua yang kau inginkan ada di sini."
Ryuuto menatap benda itu.
"Serahkan."
Kazuma tersenyum.
"Datang sendiri kalau mau."
Ryuuto memberi isyarat.
Salah satu pria bergerak lebih dahulu.
Kazuma mundur satu langkah.
Gerakan berikutnya berlangsung terlalu cepat untuk menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan Ryuuto. Tangan saling meraih, tubuh bergeser di antara dua mobil yang terparkir, suara sepatu menghantam lantai beton. Salah satu pria mencoba memotong jalan Kazuma, tetapi Kazuma berhasil menyelinap melewati celah di antara kendaraan.
"Kejar!"
Ryuuto berteriak.
Ia sendiri ikut bergerak.
Namun di parkiran sempit itu, semua orang bergerak tanpa koordinasi. Sebuah pintu mobil terbuka akibat benturan. Seseorang terjatuh ke sisi kap. Suara benda logam menghantam beton memantul berkali-kali.
Kazuma berlari menuju jalur keluar.
Ryuuto mengejarnya.
"Berhenti!"
Kazuma menoleh.
Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Ada sesuatu di wajah Kazuma yang membuat Ryuuto berhenti.
Bukan takut.
Bukan panik.
Kemarahan.
Kazuma berbalik dan kembali mendekat.
Ryuuto baru sempat mengangkat tangan ketika pukulan mengenai sisi wajahnya.
Dunia seakan miring.
Suara benturan terdengar lebih dulu daripada rasa sakit.
Ryuuto kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
Pelipisnya membentur permukaan beton.
Semuanya menjadi kabur.
Ia mendengar seseorang berteriak.
Kemudian langkah kaki.
Ketika Ryuuto membuka mata, Kazuma sudah berdiri beberapa meter darinya.
Ada darah tipis mengalir dari pelipis Ryuuto.
Kazuma mengusap napasnya yang berat dan menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau benar-benar tidak mengerti."
Ryuuto mencoba bangkit.
Tangannya terpeleset sedikit di lantai.