[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #64

Ujian Susulan dan Kebohongan Baru

Jarum jam di dinding laboratorium bergerak terlalu cepat.

Ren menatap lembar jawabannya tanpa berkedip.

Sisa waktu yang tertera pada jam digital di depan ruangan membuat dadanya terasa sempit. Di sekelilingnya, suara pena yang bergerak di atas kertas terdengar seperti hujan kecil yang tidak pernah berhenti. Bau bahan pengawet masih menempel di udara, bercampur dengan aroma sarung tangan sekali pakai dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Dosen pengawas berjalan perlahan di antara meja.

"Sepuluh menit."

Beberapa mahasiswa langsung membalik halaman.

Ren tidak.

Tangannya masih menulis.

Satu jawaban.

Kemudian satu lagi.

Ia sudah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memastikan setiap jawaban tidak sekadar benar, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia memahami apa yang ditanyakan. Ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan fakultas setelah rangkaian absensinya mulai menjadi masalah.

Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Tidak ada ruang untuk meminta tambahan waktu.

Dan tidak ada ruang untuk menjadi Rin.

Ponselnya berada di luar ruangan.

Di dalam tas.

Dibisukan.

Namun Ren tetap dapat membayangkan layarnya.

Pesan dari manajemen.

Pesan dari Aoi.

Pesan dari Ryuuto.

Jadwal siaran.

Pukul dua lewat empat puluh lima.

Studio televisi di Minato.

Check-in.

Make-up.

Sound check.

Siaran langsung.

Ia menghitung jarak dalam pikirannya.

Kemudian memaksa dirinya berhenti.

Sekarang ia Ren.

Hanya Ren.

"Ren."

Suara dosen membuat kepalanya terangkat.

"Ya?"

"Jangan terlalu lama pada satu soal."

Ren melihat jam.

"Tidak, Sensei."

Ia kembali menulis.

Kalimat terakhir selesai ketika angka pada jam digital berubah.

00:00:00.

"Berhenti menulis."

Suara dosen terdengar tegas.

Ren meletakkan pena.

Ujung jarinya masih menempel pada kertas.

Dosen mengambil lembar jawabannya.

"Ren Tachibana."

"Iya."

"Kamu tepat waktu."

Ren mengangguk.

Ia memasukkan alat tulis ke dalam tas dengan gerakan yang jauh lebih lambat daripada pikirannya.

Selesai.

Setidaknya satu masalah.

Ketika ia keluar dari laboratorium, cahaya siang langsung mengenai wajahnya.

Ia menyipit.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Aoi: Kamu sudah selesai?

Ren mengetik sambil berjalan.

Ren: Sudah. Aku sedang menuju studio.

Ia berhenti.

Menghapus kalimat terakhir.

Mengetik ulang.

Ren: Sudah. Aku akan segera tiba.

Ia menekan kirim.

Kemudian melihat jam.

Terlalu sedikit waktu.

Ren berlari.

Taksi berhenti di depan gedung fakultas dengan suara rem yang pendek.

Ren membuka pintu belakang sebelum kendaraan sepenuhnya berhenti.

"Minato. Stasiun televisi swasta yang di dekat—"

"Ya, saya tahu."

Sopir itu bahkan tidak menoleh lama.

Ren masuk dan menutup pintu.

"Secepat mungkin, tolong."

"Kalau lalu lintas memungkinkan."

Ren mengangguk.

Kendaraan mulai bergerak.

Baru setelah taksi masuk ke jalan utama, Ren membuka tasnya.

Wajahnya yang masih terlihat seperti mahasiswa kedokteran menatapnya dari pantulan kaca.

Rambut pendek.

Kemeja sederhana.

Jaket tipis.

Wajah tanpa riasan.

Ren menatap pantulan itu beberapa detik.

Kemudian membuka kantong lain.

Wig.

Pakaian panggung.

Tas kosmetik.

Semua sudah disiapkan sejak malam sebelumnya.

Ia tidak punya ruang untuk ragu.

Jarinya bekerja.

Satu demi satu.

Pakaian Ren menghilang di balik lapisan pakaian Rin.

Riasan dilakukan dengan gerakan yang hampir otomatis.

Tidak ada cermin besar.

Hanya kamera kecil di ponsel.

Taksi melewati lampu merah dan berbelok.

Tubuh Ren ikut bergeser.

Satu garis eyeliner melenceng.

Ia berhenti.

Mengusapnya.

Mengulang.

Tangannya bergetar.

Bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Justru karena ia telah melakukannya terlalu sering.

Ia dapat mengubah wajahnya hampir tanpa berpikir.

Itulah masalahnya.

Semua sudah menjadi prosedur.

Ren tidak lagi merasakan batas antara persiapan dan pergantian identitas. Tangannya bergerak sementara pikirannya tetap terperangkap di laboratorium.

Lembar ujian.

Jam digital.

Suara dosen.

Kemudian lampu studio.

"Sudah."

Ren memandang dirinya di layar ponsel.

Rin menatap balik.

Rambut panjang membingkai wajahnya.

Lihat selengkapnya