[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #65

Keraguan Aoi

Ruang penyimpanan kostum Vivid Prominence selalu terasa lebih sempit pada malam hari.

Lampu fluoresen di langit-langit hanya menyisakan warna putih pucat yang jatuh di antara rak-rak pakaian. Gaun panggung digantung rapat dalam plastik transparan, sebagian masih menyimpan kilau payet yang memantulkan cahaya setiap kali seseorang lewat. Bau kain baru bercampur dengan parfum, hairspray, sedikit keringat yang tertinggal setelah pertunjukan, dan aroma kardus dari kotak-kotak perlengkapan yang ditumpuk sampai mendekati langit-langit.

Malam itu ECLIPSE baru selesai latihan tambahan untuk persiapan tur.

Tidak ada musik.

Tidak ada suara penonton.

Hanya bunyi hanger yang beradu dengan batang besi dan gesekan sol sepatu di lantai vinyl.

Rin berdiri di antara dua rak sambil membawa tiga kostum yang sudah dilipat. Rambut panjang yang tadi digunakan untuk latihan masih tergerai melewati bahunya, jatuh rapi di atas jaket tipis yang ia kenakan. Wajahnya masih penuh riasan panggung meskipun sudah hampir satu jam sejak latihan berakhir.

Foundation masih menutupi kulitnya dengan sempurna. Garis mata masih tajam. Warna bibirnya belum pudar.

Ia sudah berkali-kali melakukan ini.

Setiap kali latihan selesai, ia akan mengganti pakaian, merapikan rambut, membersihkan bagian-bagian kecil yang berantakan, tetapi tidak pernah benar-benar menghapus seluruh wajahnya di depan anggota lain.

Jika mereka kembali ke asrama, Rin selalu menemukan alasan untuk masuk kamar lebih dahulu.

Jika mereka mandi bersama setelah jadwal yang melelahkan, ia selalu mengatakan ingin berendam sendiri.

Jika seseorang bertanya mengapa ia membutuhkan waktu lebih lama di kamar mandi, jawabannya selalu sederhana.

Kulit sensitif.

Tidak nyaman dengan air panas.

Riasan sulit dibersihkan.

Rin tahu semua alasan itu mulai menumpuk.

Dan malam itu, Aoi tampaknya sudah kehabisan kesabaran untuk berpura-pura tidak melihatnya.

"Yang ini masuk rak sebelah."

Suara Aoi terdengar dari belakang.

Rin menoleh.

Aoi sedang memegang dua jaket panggung berwarna hitam dan perak. Wajahnya masih menyisakan kelelahan setelah latihan, tetapi sorot matanya terlalu terjaga untuk seseorang yang hanya ingin menyelesaikan pekerjaan lalu pulang.

Mei berada di sisi lain ruangan, sedang memeriksa daftar kostum pada clipboard.

"Ini semua sudah lengkap?" tanya Mei.

"Sepertinya."

Aoi meletakkan jaket pada hanger.

"Rin, bisa ambil kotak aksesori yang bawah?"

"Un."

Rin berjongkok.

Ujung rambut palsunya menyentuh lantai.

Ia segera mengangkatnya dengan satu tangan.

Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Aoi.

Aoi diam.

Rin membuka kotak, mengeluarkan beberapa pita rambut, lalu memasukkannya ke wadah plastik. Jarinya bekerja otomatis. Bahkan ketika pikirannya tidak berada di tempat yang sama, tubuhnya tetap mengetahui apa yang harus dilakukan.

"Sudah."

Ia berdiri.

Mei melihat jam.

"Kalau begitu aku antar daftar ini ke ruang produksi dulu. Kalian selesaiin yang ini, ya?"

Aoi mengangguk.

"Ya."

Mei keluar sambil membawa clipboard.

Pintu tertutup.

Suara langkahnya perlahan menghilang di koridor.

Rin kembali menghadap rak.

Ia belum sempat mengambil kostum berikutnya ketika terdengar bunyi kecil.

Klik.

Rin berhenti.

Aoi baru saja memutar kunci pintu.

Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.

Rin menatap punggung Aoi.

Aoi memasukkan kunci ke sakunya.

"Jangan takut."

Nada suaranya datar.

Justru karena itu dada Rin terasa semakin berat.

"Aku tidak takut."

Jawaban Rin keluar terlalu cepat.

Aoi menoleh.

Mata mereka bertemu.

Rin masih tersenyum.

Senyum yang sama seperti yang biasa ia berikan kepada kamera. Lembut, sedikit miring, dengan mata yang tampak tenang.

Namun Aoi sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa senyum itu tidak sampai ke ujung matanya.

"Aku cuma mau bicara."

"Kalau begitu kita bicara."

Rin mencoba kembali pada pakaian di tangannya.

Aoi tidak bergerak.

"Kenapa?"

Tangan Rin berhenti.

"Kenapa apa?"

"Kenapa kamu selalu seperti ini?"

Rin mengerutkan kening kecil.

Aoi menunjuk rambutnya.

"Bahkan sekarang."

Rin secara refleks menyentuh rambut panjang di bahunya.

"Apa?"

"Kamu tidak pernah membiarkan kami melihat rambutmu yang sebenarnya."

Hening.

Kata-kata itu terdengar sederhana.

Terlalu sederhana untuk sesuatu yang selama ini menjadi salah satu dinding paling kokoh dalam hidup Rin.

Aoi melanjutkan.

"Setelah latihan kamu selalu masuk kamar duluan. Kalau kami mandi, kamu selalu punya alasan untuk mandi terakhir atau sendirian. Kalau tidur, kamu tetap memakai sesuatu di kepala. Bahkan ketika kita bangun pagi dan belum ada kamera sekalipun, rambutmu sudah seperti ini."

Jari Rin mencengkeram ujung hanger.

"Aku memang suka rambut panjang."

"Aku tahu."

"Jadi?"

"Jadi aku tidak sedang bertanya apakah kamu suka rambut panjang."

Nada Aoi sedikit naik.

Rin menelan ludah.

Lampu putih di atas mereka berdengung pelan.

"Kenapa kamu tidak pernah membiarkan rambut aslimu terlihat?"

Rin menundukkan kepala.

Beberapa detik berlalu.

Ia bisa menjawab dengan satu kebohongan lagi.

Kulit kepala sensitif.

Rambut asli rusak.

Tidak percaya diri.

Ada masalah keluarga.

Ia sudah memiliki begitu banyak jawaban sampai kadang sulit membedakan mana alasan yang pernah benar-benar ia katakan dan mana yang hanya hidup di dalam kepalanya.

Namun kali ini mulutnya tidak bergerak.

Aoi memperhatikannya.

"Rin."

"Aku dengar."

"Aku bukan sedang mencari-cari kesalahanmu."

Rin mengangkat mata.

"Aku tahu."

"Benarkah?"

Ada sesuatu dalam suara Aoi yang membuat dada Rin mengencang.

Bukan kemarahan.

Kekecewaan.

"Aku sudah mencoba tidak bertanya."

Aoi berjalan mendekat beberapa langkah, tetapi berhenti pada jarak yang tidak membuat Rin merasa terpojok secara fisik.

"Setelah kita mulai tur, semuanya akan jauh lebih besar. Lebih banyak orang. Lebih banyak kamera. Lebih banyak staf. Lebih banyak tempat yang harus kita datangi. Kalau ada sesuatu tentang dirimu yang bisa menjadi masalah, aku perlu tahu."

Lihat selengkapnya