Malam sudah melewati pukul sebelas ketika latihan terakhir akhirnya selesai.
Ruang tengah asrama ECLIPSE berubah seperti ruang tunggu setelah badai. Botol minum berserakan di dekat sofa, handuk latihan menggantung di sandaran kursi, beberapa jaket dilempar begitu saja ke lantai sebelum pemiliknya cukup sadar untuk mengambilnya kembali. Udara masih menyimpan panas tubuh lima orang yang baru saja menghabiskan berjam-jam mengulang koreografi.
Rin duduk di lantai dengan kedua kaki diluruskan ke depan. Punggungnya bersandar pada sofa. Napasnya sudah kembali teratur, tetapi bahunya terasa berat. Setiap kali ia mengangkat lengan, ada tarikan halus di sepanjang punggung dan bahu yang membuatnya ingin kembali berbaring.
Aoi sudah masuk kamar lebih dahulu setelah memastikan catatan koreografi besok selesai.
Chino sedang mandi.
Tinggal Mei, Yuka, dan Rin di ruang tengah.
Mei muncul dari kamar sambil membawa sebuah tas kain kecil.
"Aku punya ide."
Yuka yang sedang tengkurap di sofa langsung mengangkat kepala.
"Kalau idenya adalah latihan tambahan, aku pindah asrama."
Mei tertawa.
"Bukan."
Ia meletakkan tas itu di meja.
"Massage."
Yuka langsung duduk.
"Serius?"
"Serius."
Dari dalam tas, Mei mengeluarkan beberapa botol kecil minyak pijat, sebuah lilin aromaterapi, dan dua matras tipis yang biasanya digunakan untuk stretching.
Rin menatap benda-benda itu.
"Sejak kapan kita punya semua itu?"
"Sejak aku sadar kita semua akan mati sebelum tur selesai kalau terus latihan seperti ini."
Yuka tertawa.
"Mei, kamu penyelamat."
"Aku tahu."
Mei menyalakan lilin kecil di atas tatakan keramik. Aroma lembut lavender dan kayu memenuhi ruangan secara perlahan, menggantikan bau keringat dan udara pengap setelah latihan.
Rin memandang nyala api itu.
Kecil.
Tenang.
Berbeda sekali dengan isi kepalanya sejak percakapan dengan Aoi beberapa jam lalu.
Tunggu sampai tur selesai.
Kalimat itu masih melekat.
Ia belum mengatakan apa pun kepada yang lain.
Dan sekarang, bahkan ketika semua orang hanya ingin bersantai, tubuh Rin terasa seperti sedang menunggu pemeriksaan.
Yuka menepuk matras.
"Ayo."
Rin menoleh.
"Aku?"
"Siapa lagi?"
"Aku baik-baik saja."
"Kalimat itu justru alasan kamu harus dipijat."
Yuka bangkit dan berjalan ke arahnya.
Rin segera mengangkat kedua tangan.
"Aku serius. Bahuku cuma sedikit pegal."
"Sedikit?"
Yuka menunjuk bahu Rin.
"Setelah latihan tadi kamu bahkan tidak bisa mengangkat tangan untuk mengambil botol tanpa meringis."
Rin refleks menurunkan bahunya.
"Aku tidak meringis."
"Barusan kamu melakukannya."
"Itu ekspresi normal."
Mei tertawa kecil sambil menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya.
"Rin, menyerah saja."
Rin melihat kedua perempuan itu.
Satu tersenyum sambil menghangatkan tangannya.
Satu lagi sudah berdiri di samping matras dengan ekspresi kemenangan.
Tidak ada jalan keluar yang masuk akal.
"Baik."
Rin bangkit.
Ia meletakkan rambut panjangnya ke depan bahu, lalu berbaring tengkurap di atas matras.
Gerakannya sedikit kaku.
Ia menarik ujung kaus longgar yang dikenakannya agar tetap menutupi tubuhnya dengan baik.
Yuka duduk di samping matras.
"Bahumu?"
"Ya."
"Kalau sakit bilang."
"Aku tahu."
Yuka mulai dengan tekanan ringan di sekitar bahu.
Rin mengembuskan napas.
Ternyata sentuhan itu memang terasa nyaman.
Otot yang sejak sore menegang perlahan mengendur. Suara televisi yang dimatikan, dengung pendingin ruangan, aroma lilin, dan bunyi kecil tangan Yuka yang bergerak membuat ruang tengah terasa jauh lebih tenang.
"Enak?"
"Sedikit."
"Sedikit?"
"Ya."
"Berarti enak."
Rin tersenyum ke matras.
"Logikamu buruk."
"Tapi benar."
Yuka berpindah sedikit ke arah punggung atas.
Tekanannya tetap ringan dan berhati-hati.
Rin mulai menutup mata.
Untuk beberapa menit, tidak ada yang perlu dipikirkan.
Tidak ada panggung.
Tidak ada kamera.
Tidak ada Ryuuto.
Tidak ada Kazuma.
Tidak ada Aoi yang menunggu jawaban.
Hanya ruangan hangat dan dua orang yang memperlakukannya seperti anggota keluarga.
Kemudian tangan Yuka berhenti.
"Hm?"
Rin membuka mata.
"Apa?"
Yuka menatapnya dengan alis sedikit berkerut.
"Ini apa?"
Jantung Rin langsung berdetak lebih keras.
Tangan Yuka baru saja menyentuh bagian kain yang terasa lebih kencang di bawah pakaian Rin.
"Bukan apa-apa."
Jawabannya terlalu cepat.
Yuka menarik tangannya sedikit.
"Penutupnya kencang sekali."
Rin membeku.
Seluruh tubuhnya menegang kembali.
Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Penutup?"
Yuka menunjuk secara samar ke arah bagian atas punggung.
"Yang kamu pakai di balik baju."
Rin menelan ludah.
"Oh."
Ia memaksa tertawa.
"Itu."
Yuka mengangguk.