[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #67

Surat Peringatan Pertama

Sore di Ginza selalu memiliki cara sendiri untuk membuat segala sesuatu tampak mahal.

Cahaya matahari yang mulai turun memantul pada kaca gedung-gedung tinggi, membelah jalan menjadi bidang-bidang keemasan dan bayangan panjang. Orang-orang dengan jas gelap keluar dari gedung perkantoran sambil memeriksa ponsel. Taksi berhenti di tepi jalan. Sepatu kulit berjalan cepat di atas trotoar yang baru saja terkena hujan tipis.

Di lantai enam sebuah gedung tua yang direnovasi menjadi ruang kantor, papan nama kecil bertuliskan Ootori Investigation Office menempel di samping pintu.

Tidak ada logo mencolok.

Tidak ada ruang tunggu mewah.

Hanya sebuah meja resepsionis, dua kursi kulit, dan ruangan konsultasi yang dindingnya dipenuhi lemari arsip.

Kenji Tachibana duduk sendirian di salah satu kursi.

Jas abu-abunya masih rapi meskipun perjalanan dari rumah memakan waktu hampir satu jam. Rambutnya tersisir sempurna. Jam tangan di pergelangan tangannya tidak pernah bergeser sedikit pun dari posisi semula.

Ia tidak melihat jam.

Ia tidak perlu.

Pintu di hadapannya terbuka.

Seorang pria berusia sekitar empat puluhan masuk membawa map hitam.

Tubuhnya biasa saja. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu besar. Wajahnya justru mudah dilupakan. Ia mengenakan setelan gelap tanpa aksesori mencolok dan membawa tas kerja sederhana.

"Ootori."

Kenji hanya mengangguk.

"Maaf membuat Anda menunggu."

"Berapa lama?"

"Enam belas hari sejak kami mulai mengamati pola rutinnya."

Ootori duduk di seberang.

Ia membuka map.

"Seperti yang Anda minta, saya fokus pada aktivitas Tachibana Ren setelah jam kuliah dan pola perpindahannya."

Kenji menatap map tersebut.

"Dan?"

Ootori mengeluarkan beberapa lembar laporan.

"Awalnya tidak ada sesuatu yang terlalu menonjol."

Satu lembar diletakkan di meja.

"Mahasiswa kedokteran. Jadwal kuliah relatif padat. Beberapa kali pulang terlambat. Beberapa ketidakhadiran yang sebelumnya sudah Anda ketahui."

Kenji membaca sekilas.

"Namun?"

"Setelah keluar dari lingkungan kampus, pola perjalanannya berubah."

Jari Kenji berhenti di atas kertas.

Ootori menunjuk bagian laporan.

"Beberapa kali dia bergerak menuju Shinjuku."

"Shinjuku?"

"Ya."

Kenji mengangkat mata.

"Untuk apa?"

"Kami belum bisa memastikan."

Jawaban itu membuat alis Kenji sedikit bergerak.

Ootori melanjutkan.

"Namun ada pola."

Ia menggeser beberapa lembar lain.

"Pada hari-hari tertentu, Tachibana keluar dari kampus, kemudian berhenti di sekitar kawasan Shinjuku sebelum kembali ke apartemennya. Ada juga beberapa kesempatan ketika dia tidak langsung kembali setelah kegiatan akademik."

Kenji membaca tabel waktu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pola yang berulang.

"Kampus kedokteran sampai sore."

"Benar."

"Kemudian Shinjuku."

"Benar."

"Dan pulang malam."

"Benar."

Kenji menutup map sementara.

"Dia tidak memiliki alasan akademik untuk berada di sana."

Ootori tidak menjawab.

Kenji menatapnya.

"Anda setuju?"

"Saya hanya bisa menyampaikan apa yang ditemukan."

Nada Ootori tetap datar.

"Kesimpulan mengenai alasannya berada di tangan Anda."

Kenji tidak menyukai jawaban itu.

Namun ia menghargainya.

Pria seperti Ootori tidak dibayar untuk memberikan pendapat.

Ia dibayar untuk menemukan sesuatu.

Ootori mengambil sebuah amplop tipis dari tasnya.

"Ini yang menurut saya lebih penting."

Ia mengeluarkan beberapa foto.

Foto pertama menunjukkan seorang pemuda berambut pendek keluar dari area kampus.

Kenji mengenalinya segera.

Ren.

Putranya.

Foto berikutnya memperlihatkan Ren berjalan di trotoar dengan tas hitam di bahunya.

Foto ketiga.

Ren memasuki sebuah gedung.

Kenji menyipitkan mata.

"Ini di mana?"

"Shinjuku."

"Jenis gedung apa?"

"Bangunan komersial yang digunakan beberapa penyewa."

Ootori menyerahkan satu lembar informasi.

"Di lantai atas terdapat kantor sebuah agensi hiburan independen."

Kenji menatap tulisan itu.

Vivid Prominence.

Wajahnya tidak berubah.

"Agensi hiburan?"

"Ya."

Kenji melihat kembali foto.

Ren sedang berjalan menuju pintu masuk gedung.

Di bahunya tergantung tas yang dikenali Kenji sebagai tas yang sering dibawa putranya.

Lihat selengkapnya