Cahaya matahari menembus jendela tinggi ruang latihan dan jatuh di atas lantai kayu yang penuh bekas langkah. Pendingin ruangan bekerja terus-menerus, tetapi udara tetap terasa hangat karena lima orang sudah hampir dua jam bergerak tanpa jeda.
Rin berdiri di depan cermin.
Musik berhenti.
"Ulang dari chorus."
Suara Aoi terdengar tegas dari belakang.
Rin mengangguk.
"Ya."
Ia mengangkat tangan.
Gerakannya tepat.
Setidaknya seharusnya tepat.
Namun sejak pagi ada sesuatu yang mengganggunya.
Bukan rasa sakit.
Bukan kelelahan biasa.
Sebuah sensasi samar yang sulit dijelaskan.
Setiap kali melihat bayangannya sendiri di cermin, perhatian Rin tertahan sedikit lebih lama pada bentuk tubuhnya. Bahu. Pinggang. Wajah. Rambut.
Kemudian pikiran yang sama muncul.
Bagaimana kalau semua ini berhenti?
Ia tahu perubahan tubuh tidak akan menghilang hanya dalam satu malam.
Ia tahu tubuh tidak bekerja sesederhana itu.
Ia tahu.
Sebagai mahasiswa kedokteran, Ren mengetahui terlalu banyak hal untuk bisa sepenuhnya ditipu oleh ketakutannya sendiri.
Namun pengetahuan dan ketakutan tidak selalu berada di sisi yang sama.
Setelah percakapan dengan Aoi malam sebelumnya, pikirannya semakin sulit tenang.
Setelah mengetahui bahwa keluarganya mulai mencari tahu aktivitasnya, rasa aman yang selama ini dibangun Rin terasa seperti permukaan kaca tipis.
Satu retakan lagi.
Satu pemeriksaan lagi.
Satu orang lagi yang bertanya.
Dan semuanya bisa berubah.
"Rin?"
Ia tersentak.
Yuka sedang menatapnya dari depan cermin.
"Kamu dengar?"
"Maaf."
Rin tersenyum.
"Aku tadi melamun."
Aoi menghela napas.
"Minum dulu."
Rin mengambil botol air.
Tangannya tidak gemetar.
Belum.
"Aku ke toilet sebentar."
Aoi mengangguk.
Rin keluar dari ruang latihan.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyumnya hilang.
Koridor Vivid Prominence jauh lebih sunyi.
Langkahnya cepat.
Ia masuk ke toilet, mengunci pintu bilik, lalu berdiri diam beberapa detik.
Tidak ada suara selain dengung ventilasi.
Rin membuka tas kecil yang dibawanya.
Matanya tertuju pada obat hormon yang selama ini ia simpan secara pribadi.
Ia menatapnya lama.
Ada suara kecil di kepalanya.
Jangan.
Lalu suara lain.
Kalau berhenti, tubuhmu akan berubah.
Ren mengusap wajah.
"Jangan bodoh."
Ia mengucapkannya kepada dirinya sendiri.
Namun tangannya tetap bergerak.
Hari itu ia mengambil lebih banyak daripada yang seharusnya ia konsumsi menurut rutinitas pribadinya.
Bukan karena ia memiliki dasar medis yang kuat.
Bukan karena ia memiliki hasil pemeriksaan terbaru.
Bukan karena dokter menyarankannya.
Hanya karena takut.
Ia menelan tablet itu dengan air.
Beberapa detik kemudian ia masih berdiri di depan cermin toilet.
Wajahnya tampak sama.
Tidak ada perubahan ajaib.
Tidak ada jawaban.
Hanya seorang anak berusia sembilan belas tahun yang baru saja membuat keputusan medis sendirian karena takut kehilangan dirinya sendiri.
Ren menutup botol air.
Tangannya berhenti di atas wastafel.
"Ini terakhir."
Ia berbisik.
"Setelah ini aku akan cari jalan lain."
Namun kalimat itu terdengar seperti janji yang pernah ia buat sebelumnya.
Ia keluar dari toilet.
Latihan vokal dimulai empat puluh menit kemudian.
Ruang rekaman kecil di ujung koridor terasa jauh lebih dingin daripada ruang tari. Dindingnya dilapisi material peredam suara. Mikrofon berdiri di tengah ruangan, kabel melingkar di lantai, dan sebuah monitor kecil menampilkan lirik lagu baru ECLIPSE.
Aoi berdiri di balik kaca ruang kontrol.
Mei duduk di sofa.
Yuka dan Chino berada di dekat meja.
Rin memakai headphone.
"Mulai dari bagian kedua."
Suara pelatih vokal terdengar melalui monitor.
Musik masuk.
Rin mengambil napas.
Nada pertama keluar bersih.
Nada kedua juga.
Ia mengikuti melodi.
Sampai bagian yang lebih rendah.
Satu nada meleset.
Tidak banyak.
Hanya sedikit turun dari posisi yang seharusnya.
Musik berhenti.
"Ulang."
Rin mengangguk.
"Maaf."
Musik kembali.
Ia mencoba lagi.
Nada yang sama.
Sedikit terlalu rendah.
"Stop."
Rin menutup mata.
Tidak apa-apa.
Hanya satu nada.
Ia tahu itu.
Namun ketika suara pelatih mengatakan, "Coba dengarkan titik masuknya lebih jelas," sesuatu di dalam dirinya tiba-tiba terasa retak.
Napasnya tersangkut.
Ia membuka mata.
Lantai di bawah kakinya terlihat terlalu terang.
"Rin?"
Ia mengangkat tangan.
"Tunggu."
Suaranya bergetar.
Pelatih mematikan musik.
Rin mencoba menarik napas.
Sekali.
Dua kali.
Tidak berhasil.