[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #69

Glitch Siaran Langsung

Lampu LED di studio streaming terlalu terang untuk ukuran ruangan sekecil itu.

Empat panel cahaya diarahkan ke meja bundar di tengah ruangan, membuat wajah kelima anggota ECLIPSE terlihat lebih bersih dan cerah daripada biasanya. Kamera utama berdiri tepat di depan mereka. Dua kamera kecil ditempatkan di sisi kiri dan kanan untuk mengambil sudut berbeda. Sebuah monitor besar di belakang kamera menampilkan jumlah penonton yang terus berubah.

18.742

Angka itu naik lagi.

18.915

Yuka melihat monitor dan matanya membesar.

"Serius sebanyak ini?"

Mei tertawa.

"Jangan lihat terus. Nanti kamu malah salah bicara."

"Aku tidak akan salah bicara."

Aoi menoleh.

"Kamu baru saja salah menyebut nama sponsor sepuluh menit lalu."

"Itu sekali."

"Dua kali."

Chino menahan tawa.

Rin ikut tersenyum.

Ia duduk di tengah.

Gaun sederhana berwarna putih dengan aksen hitam membuatnya terlihat lebih ringan dibandingkan kostum panggung. Rambut panjangnya jatuh melewati bahu. Riasan dibuat lebih natural agar sesuai dengan konsep siaran malam.

Di depan kamera, semuanya terasa terkendali.

Rin tahu kapan harus tersenyum.

Kapan menatap kamera.

Kapan sedikit memiringkan kepala.

Kapan tertawa.

Kapan memberikan jawaban pendek.

Semuanya sudah menjadi refleks.

Namun sejak pagi, tubuhnya terasa sedikit aneh.

Sisa ketegangan dari kejadian kemarin belum sepenuhnya hilang.

Ia beberapa kali menarik napas lebih panjang dari biasanya.

Aoi menyadarinya.

"Rin."

"Hm?"

"Minum."

Rin melihat botol air di depan tangannya.

"Oh."

Ia tersenyum.

"Terima kasih."

Aoi hanya mengangguk.

Siaran kembali berjalan.

Moderator dari tim media duduk di luar kamera dan membaca beberapa pertanyaan dari tablet.

"Baik, kita masuk ke sesi pertanyaan penggemar."

Yuka langsung mendekat ke meja.

"Akhirnya."

Komentar bergerak terlalu cepat untuk dibaca.

Nama-nama pengguna muncul dan menghilang dalam hitungan detik.

ECLIPSE最高!

Rin-chan kawaii!

Tur kapan diumumkan kota berikutnya?

Aoi rambutnya bagus!

Chino tertawa ketika melihat komentar tentang gaya rambutnya.

Moderator membaca satu pertanyaan.

"Pertanyaan pertama. Apa hal yang paling kalian sukai dari kota tempat tur nanti?"

Mei menjawab lebih dahulu.

"Kalau aku makanan."

Yuka langsung menyela.

"Sudah kuduga."

"Kamu juga."

"Aku pemandangan."

"Kamu cuma ingin foto."

"Memangnya salah?"

Tawa memenuhi studio.

Rin ikut tertawa.

Siaran terasa ringan.

Aman.

Komentar terus bergerak.

Kemudian moderator mengangkat satu tangan.

"Ini pertanyaan untuk Rin."

Rin menoleh.

"Untuk aku?"

"Ya."

Moderator membaca layar.

"Katanya penggemar ingin tahu..."

Ia berhenti sebentar.

"Apakah Rin pernah masuk SMA khusus pria?"

Rin membeku.

Hanya sepersekian detik.

Namun bagi dirinya sendiri, rasanya seperti seluruh ruangan berhenti.

Suara pendingin ruangan hilang.

Suara kamera hilang.

Suara anggota lain hilang.

Yang tersisa hanya satu kalimat.

SMA khusus pria.

Jantungnya berdetak keras.

Tangannya mencengkeram ujung meja.

Dari sudut matanya, ia melihat layar komentar.

Pertanyaan itu sudah mendapatkan beberapa reaksi.

Beberapa tanda tanya.

Beberapa emoji tertawa.

Sebagian lain meminta penjelasan.

Tidak ada yang tahu mengapa pertanyaan itu muncul.

Tetapi Rin tahu persis mengapa tubuhnya bereaksi.

Ia pernah sekolah di sana.

Seragam.

Lorong.

Sepatu dalam ruangan.

Suara guru.

Teman sekelas.

Nama Ren Tachibana tercetak di daftar siswa.

Semuanya muncul dalam waktu kurang dari satu detik.

"Eh..."

Rin membuka mulut.

Dan refleks lama mengambil alih.

"Kenapa kau—"

Suara yang keluar berat.

Dalam.

Jauh lebih rendah daripada suara Rin.

Dua detik.

Hanya dua detik.

Namun dua detik itu cukup untuk membuat studio seolah kehilangan udara.

Rin langsung berhenti.

Matanya melebar.

Ia menutup mulut dengan tangan.

Monitor komentar berubah liar.

??????

今の何?

え?

声??

Rin?

????????

Itu suara siapa?

Jumlah komentar bergerak terlalu cepat.

Rin merasakan dingin menjalar dari tengkuk ke punggung.

Lihat selengkapnya