[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #70

Pelukan Mei

Gerimis turun sejak lewat tengah malam.

Bukan hujan yang cukup deras untuk mengusir orang dari jalanan, hanya butiran air kecil yang terbawa angin dan menempel di pagar besi balkon lantai atas asrama ECLIPSE. Lampu-lampu apartemen di kejauhan tampak seperti titik-titik kabur di balik tirai air. Sesekali cahaya kendaraan bergerak di jalan bawah, memanjang sebentar di aspal basah sebelum menghilang di tikungan.

Rin berdiri sendirian di balkon.

Ia tidak membawa payung.

Rambutnya sudah sedikit lembap di ujung, beberapa helai menempel di pipi. Ia mengenakan hoodie longgar dan celana panjang rumah. Wajahnya sudah bersih dari riasan. Tidak ada bulu mata palsu, tidak ada lip tint, tidak ada kontur yang membuat garis wajahnya tampak lebih lembut.

Hanya wajah yang lelah.

Tangannya bertumpu pada pagar.

Tidak erat.

Tidak pula santai.

Jari-jarinya hanya diletakkan di sana seperti tubuhnya membutuhkan sesuatu untuk mengingatkan bahwa ia masih berdiri.

Di dalam kamar, layar ponsel masih menyala.

Potongan siaran langsung malam itu sudah beredar.

Dua detik.

Suara rendah.

Kemudian tawa Aoi.

Lalu suara Rin kembali.

Beberapa penggemar menganggapnya lucu.

Beberapa menganggapnya sekadar akting.

Sebagian lain bertanya-tanya.

Rin tidak perlu membaca semuanya untuk tahu bahwa ada sesuatu yang sudah berubah.

Sebuah retakan kecil.

Cukup kecil untuk diabaikan.

Namun cukup besar untuk membuatnya takut menatapnya.

Ia menatap langit.

Tidak ada bintang.

"Kalau besok..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Kalau besok mereka bertanya lagi..."

Kalimat itu berhenti.

Ia mencoba membayangkan panggung tur nasional.

Ribuan orang.

Lampu.

Nama ECLIPSE diteriakkan dari seluruh arena.

Rin seharusnya membayangkan kegembiraan.

Namun yang muncul justru satu pikiran.

Bagaimana kalau mereka tahu?

Bagaimana kalau seseorang menemukan nama Ren Tachibana?

Bagaimana kalau seseorang menemukan foto lama?

Bagaimana kalau rekaman suara itu dibandingkan dengan rekaman lain?

Bagaimana kalau pertanyaan malam ini bukan pertanyaan acak?

Bagaimana kalau seseorang memang sudah mulai menyusun potongan-potongan itu?

Rin menarik napas.

Dadanya terasa kosong.

Bukan sesak.

Bukan nyeri.

Kosong.

Ia menatap tangannya sendiri.

Tangan yang sama pernah memegang buku anatomi.

Tangan yang sama pernah menulis nama Ren Tachibana di lembar ujian.

Tangan yang sama pernah menggenggam mikrofon di depan ribuan orang.

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.

Memperhatikan jemari itu.

"Ren."

Nama itu keluar begitu saja.

Ia terdiam.

Kemudian berbisik lagi.

"Rin."

Dua nama.

Satu suara.

Namun malam itu keduanya terasa seperti berada di tempat yang berbeda.

Pintu balkon bergeser pelan.

Rin tidak menoleh.

Mei muncul di ambang pintu.

Ia masih mengenakan pakaian tidur dan cardigan tipis. Rambutnya berantakan karena baru bangun. Tangannya memegang gelas air.

Ia berhenti ketika melihat Rin.

Tidak langsung memanggil.

Mei sudah cukup lama mengenal Rin untuk tahu kapan seseorang hanya ingin udara segar dan kapan seseorang sedang terlalu jauh masuk ke dalam pikirannya sendiri.

Ia meletakkan gelas di meja kecil dekat pintu.

Kemudian berjalan keluar.

Lantai balkon dingin.

"Rin."

Tidak ada jawaban.

Mei berdiri di sampingnya.

"Kamu belum tidur?"

Rin menggeleng kecil.

"Aku cuma mau udara."

Mei melihat rambutnya yang basah.

"Udara sampai harus membasahi rambut?"

Rin tersenyum tipis.

Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Gerimisnya kecil."

"Ya."

Mei menatap langit.

"Kecil."

Mereka berdiri dalam diam.

Beberapa detik.

Kemudian satu menit.

Mei tidak memaksa percakapan.

Ia hanya berdiri di sana.

Rin kembali menatap jalan.

"Aku tadi melihat rekamannya."

"Yang siaran?"

Rin mengangguk.

Mei tidak berkata apa-apa.

"Aneh."

"Apa?"

"Suara itu."

Rin menelan ludah.

"Aku bahkan tidak merasa sedang mengeluarkannya."

Mei menatap wajah Rin.

"Karena kamu kaget."

"Mungkin."

Rin mengusap lengan sendiri.

"Atau karena aku terlalu lama berusaha menahannya."

Mei diam.

Rin tersenyum kecil.

"Lucu, ya?"

"Menurutku tidak."

"Semua orang menganggapnya lucu."

"Orang yang menonton tidak berada di dalam tubuhmu."

Rin menunduk.

Lihat selengkapnya