[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #71

Celah PI Keluarga

Jam dinding di ruang kerja Kenji Tachibana menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh tujuh malam.

Rumah besar keluarga Tachibana sudah hampir sepenuhnya gelap. Lampu lorong lantai dua dimatikan. Para staf rumah tangga telah pulang ke kamar masing-masing. Hanya ruang kerja di ujung koridor yang masih menyala, dengan cahaya kuning pucat jatuh ke lantai kayu yang mengilap.

Kenji duduk sendirian di balik meja.

Di hadapannya terbuka beberapa dokumen akademik Ren yang belum sempat ia periksa kembali. Nilai, catatan kehadiran, jadwal praktikum. Semua tertata dalam map berwarna gelap dengan nama Tachibana tercetak kecil di bagian atas.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.

Sejak laporan pertama dari Ootori tiba, ada sesuatu yang mengganggunya.

Ren terlalu sering berada di Shinjuku.

Terlalu sering menghilang setelah kuliah.

Terlalu banyak alasan yang tidak cocok dengan kehidupan seorang mahasiswa kedokteran yang seharusnya sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia klinis.

Kenji tidak menyukai celah.

Dalam keluarganya, celah kecil selalu menjadi awal dari keruntuhan yang lebih besar.

Ketukan terdengar.

Dua kali.

Kenji mengangkat kepala.

"Masuk."

Pintu geser terbuka.

Ootori masuk dengan jas gelap dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan emosi. Usianya sekitar empat puluhan, rambutnya tertata rapi, tidak ada satu pun gerakan yang tampak tergesa. Ia membawa sebuah map tipis dan amplop cokelat berukuran besar.

"Maaf datang selarut ini."

"Anda bilang sudah mendapatkan sesuatu."

Ootori berhenti di depan meja.

"Ya."

Kenji menatap amplop itu.

"Seberapa pasti?"

Ootori tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan amplop di atas meja.

"Untuk laporan identitas, saya hanya akan menyampaikan apa yang dapat dibuktikan dari materi yang saya peroleh."

Kenji mengangguk.

"Baik."

Ootori membuka mapnya.

"Orang yang selama ini kami identifikasi sebagai Rin dari ECLIPSE memiliki pola pergerakan yang berkaitan dengan seseorang bernama Ren Tachibana."

Kenji mengerutkan kening.

"Itu sudah Anda laporkan."

"Benar."

Ootori mengeluarkan beberapa lembar foto.

"Karena itu saya melanjutkan observasi."

Foto pertama diletakkan di atas meja.

Seorang pemuda keluar dari kendaraan.

Rambut pendek.

Pakaian sederhana.

Postur yang Kenji kenal bahkan dari jarak jauh.

Kenji tidak perlu bertanya.

"Ren."

"Ya."

Foto kedua.

Pemuda yang sama berada di dalam kendaraan yang terparkir. Pintu tertutup. Bagian dalam kendaraan hanya terlihat sebagian dari sudut pengambilan gambar.

Foto ketiga menunjukkan siluet tubuh yang sama dengan pakaian berbeda.

Foto berikutnya memperlihatkan rambut yang sudah lebih panjang.

Kemudian kostum.

Kemudian wajah yang mulai berubah karena tata rias.

Kenji tidak bergerak.

Ootori menyusun foto-foto tersebut secara berurutan.

Tidak ada dramatisasi.

Tidak ada komentar.

Justru urutan benda-benda kecil itu yang membuat ruang kerja terasa semakin sempit.

Pada foto terakhir, seorang perempuan muda menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca kendaraan.

Rambut panjang.

Riasan panggung.

Pakaian pertunjukan ECLIPSE.

Wajah yang selama berbulan-bulan dilihat ribuan orang di layar ponsel.

Rin.

Kenji memandang foto itu cukup lama.

Tangannya yang tadi memegang pulpen perlahan turun ke meja.

"Ini..."

Suaranya rendah.

Ootori menunggu.

Kenji mengambil foto tersebut.

Jemarinya sedikit bergetar.

"Anda mengatakan ini Ren?"

"Kesimpulan berdasarkan rangkaian bukti visual yang saya kumpulkan."

"Anda yakin?"

"Ya."

Kenji menatap wajah dalam foto.

Ada sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin.

Ia mengenal bentuk mata itu.

Cara Ren menundukkan kepala ketika sedang membaca.

Garis rahang yang selama ini ia lihat sebagai milik putranya.

Bahkan dalam riasan dan rambut panjang, ada bagian kecil dari wajah itu yang tidak mungkin ia salah kenali.

Anaknya.

Putra tunggalnya.

Calon penerus kliniknya.

Mahasiswa kedokteran yang selama ini ia paksa berdiri tegak sebagai laki-laki Tachibana.

Orang yang sama sedang berdiri di foto sebagai seorang idol perempuan.

Kenji menutup mata.

Membuka lagi.

Foto itu masih ada.

Tidak berubah.

"Sejak kapan?"

Ootori menjawab datar.

"Saya tidak dapat menentukan kapan transformasi itu dimulai hanya dari foto."

Kenji menatapnya.

"Bukan itu."

Suaranya meninggi sedikit.

"Sejak kapan dia melakukan ini?"

"Saya tidak memiliki informasi yang cukup untuk memastikan."

Kenji membalik foto lain.

Ada Ren.

Kemudian Rin.

Kemudian Ren lagi.

Dua nama.

Dua penampilan.

Satu wajah.

Untuk beberapa detik, Kenji hanya mendengar suara pendingin ruangan.

Lalu ia tertawa pendek.

Bukan tawa karena lucu.

Lebih seperti suara seseorang yang tidak tahu bagaimana tubuhnya harus bereaksi terhadap sesuatu yang terlalu absurd menurut dunianya sendiri.

"Jadi selama ini..."

Ia berhenti.

"Selama ini dia melakukan ini di belakang keluarga."

Ootori tidak menjawab.

Kenji berdiri.

Kursinya bergeser cukup keras hingga membentur meja belakang.

"Dia mahasiswa kedokteran."

Tangannya mencengkeram foto.

"Mahasiswa kedokteran."

Kertas itu berkerut di antara jemarinya.

"Putra keluarga Tachibana."

Napasnya semakin berat.

"Dan dia berpakaian seperti ini?"

Ootori tetap diam.

Kenji melempar foto itu ke meja.

"Untuk menjadi idol?"

"Ya."

Satu kata.

Cukup.

Kenji berjalan menjauh dari meja.

Ia berdiri di depan rak buku yang berisi buku-buku kedokteran lama milik ayah dan kakeknya. Beberapa sampul sudah pudar karena usia. Di antara buku-buku itu terdapat foto keluarga lama dalam bingkai kayu.

Tiga generasi Tachibana.

Lihat selengkapnya