[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #72

Kemurkaan Patriark

Pagi di Shinjuku datang bersama suara kereta yang bergetar jauh di antara gedung-gedung.

Ren terbangun sebelum alarm.

Bukan karena suara.

Ada sesuatu yang membuat tubuhnya terjaga lebih dahulu daripada pikirannya.

Ia membuka mata dalam kamar sempit yang masih diselimuti cahaya pucat. Tirai belum dibuka. Udara pagi masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa hawa dingin dan suara kendaraan dari jalan utama.

Ren meraih ponsel di samping bantal.

06.42.

Ada pesan dari Mei.

Jangan lupa sarapan. Hari ini latihan jam sepuluh.

Pesan dari Aoi menyusul beberapa menit kemudian.

Jangan datang terlambat.

Ren tersenyum tipis.

Jarinya hendak membalas ketika terdengar suara dari luar.

Ketukan.

Tiga kali.

Ren berhenti.

Ketukan itu tidak terdengar seperti tetangga.

Terlalu tegas.

Ia duduk di tepi kasur.

Menunggu.

Tidak ada suara lagi.

Ren berdiri, mengenakan kaus dan celana panjang rumah, lalu berjalan menuju pintu.

Tangannya baru saja menyentuh gagang ketika suara berat terdengar dari luar.

"Ren."

Seluruh tubuhnya membeku.

Suara itu.

Ayahnya.

"Ren, buka pintunya."

Jantung Ren langsung berdetak lebih keras.

Ia mundur satu langkah.

Pikirannya bergerak cepat.

Bagaimana dia tahu?

Tidak ada waktu untuk menjawab.

Kunci belum sempat diputar ketika gagang pintu bergerak keras.

"Ren!"

Pintu bergetar.

Ren mundur lagi.

"Ayah, tunggu."

Benturan berikutnya membuat pintu terbuka paksa.

Kenji berdiri di luar.

Jas gelap.

Mantel panjang.

Wajah yang biasanya selalu tertata kini kaku dengan kemarahan yang nyaris tidak disembunyikan.

Ren menatapnya.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Kenji masuk tanpa meminta izin.

Matanya bergerak menyapu ruangan.

Meja belajar.

Buku-buku kedokteran.

Laptop.

Pakaian.

Rak kecil.

Kemudian lemari di sudut kamar yang pintunya belum tertutup sempurna.

Kenji berjalan ke sana.

"Jangan."

Suara Ren keluar lebih cepat daripada pikirannya.

Kenji membuka pintu lemari.

Beberapa pakaian panggung tergantung di dalam.

Kain berwarna hitam.

Putih.

Beberapa kostum pertunjukan dengan detail kecil yang tidak pernah akan digunakan seorang mahasiswa kedokteran laki-laki.

Di bagian bawah terdapat kotak penyimpanan.

Kenji menariknya keluar.

Wig panjang.

Sepasang sepatu panggung.

Aksesori rambut.

Tas kosmetik.

Semua benda yang selama ini hanya hidup di bagian tersembunyi kamar Ren kini berada di depan mata ayahnya.

Kenji terdiam.

Tangannya meraih salah satu wig.

Ia memegangnya seperti benda asing.

Kemudian melemparkannya ke lantai.

"Jadi ini."

Ren tidak menjawab.

"Ini yang kau lakukan selama ini?"

"Berikan kepadaku."

Kenji menoleh.

"Diam."

Ren melangkah mendekat.

"Itu barangku."

Kenji tertawa pendek.

"Barangmu?"

Ia menunjuk lemari.

"Semua ini dibeli dengan uang siapa?"

Ren berhenti.

Kenji mengambil pakaian lain dan menjatuhkannya ke lantai.

"Ini yang kau lakukan setelah kuliah?"

"Ini bukan urusan—"

"Ini urusan keluarga Tachibana."

Suara Kenji menggema di kamar kecil itu.

Ren mengepalkan tangan.

"Aku tidak melakukan kejahatan."

"Kau menyamar sebagai perempuan."

"Aku tidak menyamar."

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Kenji menatapnya.

Ren menyadari kesalahannya.

Namun kali ini ia tidak menarik kembali kata-kata itu.

"Aku tampil sebagai Rin."

"Rin."

Kenji mengucapkan nama itu dengan nada merendahkan.

"Nama palsu."

Ren diam.

Kenji berbalik menuju meja.

Di sana terdapat beberapa lembar dokumen penelitian yang sedang dikerjakan Ren. Catatan kuliah, artikel yang dicetak, kerangka penelitian, dan beberapa halaman penuh tulisan tangan.

Kenji mengambil salah satunya.

"Ini apa?"

"Riset."

"Riset?"

Kenji merobek kertas itu menjadi dua.

Suara sobekan terdengar jelas.

Ren langsung bergerak.

"Ayah."

Kertas kedua ikut disobek.

Kemudian ketiga.

"Berhenti."

Kenji menjatuhkannya ke lantai.

"Semua ini tidak ada gunanya jika kau sudah memilih menghancurkan masa depanmu sendiri."

Ren mengambil salah satu halaman yang masih utuh.

Tangannya gemetar.

"Itu hasil kerjaku."

"Kerja?"

Kenji menatapnya tajam.

"Seorang calon dokter tidak menghabiskan waktunya memakai wig dan menari di atas panggung."

Ren menunduk.

Napasnya semakin cepat.

Kenji membuka laci meja.

Ia menemukan kotak kecil yang selama ini Ren gunakan untuk menyimpan barang-barang medis pribadinya.

Wajah Kenji berubah ketika melihat isinya.

Botol-botol obat.

Beberapa kemasan.

Dokumen medis.

Kenji mengambil salah satu botol.

Ren langsung mengenalinya.

"Jangan."

Lihat selengkapnya