[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #73

Ancaman Pemerasan Bertingkat

Bus tur ECLIPSE melaju meninggalkan Tokyo menjelang siang.

Deretan gedung perlahan berubah menjadi kawasan pinggiran kota, kemudian kembali dipenuhi gudang, papan iklan, dan jalan tol yang panjang. Langit musim itu berwarna putih pucat. Matahari ada di balik awan, tetapi cahayanya cukup untuk membuat kaca jendela bus memantulkan wajah orang-orang yang duduk di dalam.

Sebagian anggota ECLIPSE tidur.

Sebagian memakai earphone.

Sebagian lagi menatap layar ponsel sambil sesekali tertawa kecil.

Tur nasional baru saja dimulai.

Tujuan hari itu Nagoya.

Besok mereka tampil.

Dua hari berikutnya perjalanan akan berlanjut.

Di depan mereka ada panggung, hotel, latihan, wawancara, dan ribuan orang yang telah membeli tiket.

Di belakang mereka ada Tokyo.

Dan di dalam salah satu ruangan kantor Vivid Prominence yang jauh dari jalan tol itu, sebuah layar komputer menyala tanpa henti.

Ryuuto duduk di depannya.

Wajahnya pucat.

Ia menggulir layar.

Berhenti.

Menggulir lagi.

Kemudian berhenti pada sebuah utas anonim.

Judulnya tertulis besar.

「ECLIPSEの新人アイドル・リンって男じゃない?」

Apakah idol rookie Rin dari ECLIPSE adalah seorang pria?

Ryuuto menatap layar tanpa berkedip.

Di bawah judul itu terdapat sebuah foto buram.

Tidak jelas.

Tidak cukup tajam untuk mengenali wajah.

Namun bentuk tubuh seseorang terlihat sedang berdiri di dekat kendaraan.

Pakaian laki-laki.

Rambut pendek.

Postur tinggi.

Di bawah foto terdapat komentar.

“Bukannya bentuk tubuhnya mirip Rin?”

Komentar berikutnya muncul.

“Lihat bahunya.”

Kemudian.

“Ada mahasiswa kedokteran di daerah Shinjuku yang wajahnya mirip.”

Ryuuto menekan tombol refresh.

Jumlah balasan berubah.


Refresh.


Refresh.


"Brengsek."

Ia berdiri.

Kursinya terdorong ke belakang.

Ryuuto berjalan mondar-mandir di ruangan.

Ia tahu foto itu.

Tidak persis foto yang dikirim Kazuma kepadanya.

Tetapi cukup dekat.

Terlalu dekat.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.

Mulai sekarang jangan anggap aku sedang menunggu.

Ryuuto menatap layar.

Pesan berikutnya masuk.

Aku sudah mulai menunjukkan sedikit saja.

Ryuuto mengepalkan tangan.

"Dasar gila."

Ia kembali menatap monitor.

Jumlah balasan sudah lebih dari tiga ratus.

Beberapa pengguna mulai membuat kolase.

Satu foto Rin di atas panggung.

Satu foto siluet laki-laki.

Kemudian garis-garis merah yang menghubungkan bahu, tinggi badan, bentuk leher, dan postur.

Semuanya tampak seperti analisis.

Padahal tidak ada yang benar-benar tahu siapa orang di dalam foto itu.

Itulah yang membuatnya berbahaya.

Kebenaran tidak diperlukan untuk memulai rumor.

Cukup kemiripan.

Cukup rasa ingin tahu.

Cukup satu orang yang berkata, “Bagaimana kalau benar?”

Ryuuto mematikan monitor.

Dua detik kemudian ia menyalakannya lagi.

Tidak bisa.

Ia harus melihat.

Ia harus tahu seberapa jauh rumor itu bergerak.

Di bus tur, Rin tidak mengetahui semua itu.

Ia duduk di sisi kiri, dekat jendela.

Mei tertidur di kursi depan dengan kepala sedikit miring. Yuka sedang memakai earphone sambil mengetuk-ngetukkan ujung jarinya mengikuti musik. Aoi membaca jadwal pertunjukan melalui tablet.

Chino duduk dua baris di belakang.

Ponselnya berada di kedua tangan.

Ia menggulir sesuatu.

Berhenti.

Menggulir lagi.

Wajahnya perlahan berubah.

Keningnya berkerut.

Ia membaca judul utas sekali lagi.

Kemudian membuka salah satu foto.

Matanya membesar.

"Eh..."

Suara kecil itu membuat Yuka menoleh.

"Kenapa?"

Chino tidak langsung menjawab.

Ia menggeser layar.

"Aku menemukan sesuatu."

Yuka melepas satu earphone.

"Apa?"

Chino menelan ludah.

"Ini tentang Rin."

Mei yang tadi tertidur membuka mata.

"Ada apa?"

Chino berjalan menuju bagian depan bus.

Ia berhenti di dekat kursi Rin.

"Rin..."

Rin menoleh.

"Kenapa?"

Chino tidak langsung memberikan ponselnya.

Ia tampak ragu.

"Jangan kaget."

Kalimat itu saja sudah membuat dada Rin terasa dingin.

"Apa?"

Chino akhirnya menyerahkan ponsel.

Rin melihat layar.

Judul utas.

Foto buram.

Komentar.

Tangannya berhenti di udara.

Ia tidak menyentuh layar.

Matanya hanya membaca judul tersebut.

Sekali.

Kemudian sekali lagi.

Apakah Idol Rookie Rin dari ECLIPSE Adalah Seorang Pria?

Suara mesin bus masih terdengar.

Ban kendaraan menggilas aspal.

Orang-orang berbicara.

Musik dari earphone Yuka masih bocor samar.

Lihat selengkapnya