Sore turun perlahan di Nagoya ketika truk-truk produksi terakhir berhenti di sisi belakang arena. Dari luar, bangunan pertunjukan itu tampak hampir biasa. Dinding beton, pintu logistik yang terbuka lebar, beberapa papan penunjuk arah, serta barisan kendaraan kru yang masih menurunkan peralatan. Namun begitu melewati pintu belakang, dunia berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah disentuh ECLIPSE selama masa debut mereka.
Bau kabel panas, kain hitam, logam, dan kopi dari gelas kertas bercampur di udara. Kru panggung bergerak cepat dengan headset menempel di telinga. Beberapa teknisi mengangkat flight case besar melewati lorong. Dari balik tirai hitam yang memisahkan backstage dari arena utama, cahaya putih menyelinap masuk melalui celah-celah kecil.
Rin berhenti sesaat sebelum melewati tirai itu.
Di depannya terbentang panggung yang beberapa minggu lalu hanya hidup di atas kertas dan layar komputer.
Sekarang panggung itu benar-benar ada.
Lebarnya membuat lima orang yang berdiri di atasnya terlihat kecil. Puluhan lampu bergerak tergantung dari rigging di atas kepala, sebagian masih mati, sebagian lain menyala dalam mode pengujian. Panel LED raksasa berdiri di belakang panggung dengan layar hitam yang sesekali memunculkan pola geometris untuk menguji resolusi. Di sisi kanan dan kiri, speaker line array menjulang seperti dinding hitam yang diarahkan ke lautan kursi penonton.
Tiga ribu kursi.
Kosong.
Rin menarik napas pelan.
"Rin."
Suara Aoi membuatnya menoleh.
Aoi sudah mengenakan pakaian latihan hitam, rambut diikat tinggi, tablet produksi berada di tangan kirinya. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kegembiraan seperti yang biasanya muncul ketika mereka mendapatkan panggung besar. Saat bekerja, Aoi berubah menjadi orang lain. Matanya bergerak dari panggung ke layar monitor, kemudian ke posisi teknisi, lalu kembali kepada anggota ECLIPSE.
"Kita mulai dari blocking pembuka," katanya. "Jangan langsung full power. Sound engineer masih menyesuaikan monitor."
Rin mengangguk.
"Okay."
Satu kata itu keluar dengan suara Rin. Ringan, jernih, dan terkendali.
Tidak ada jejak suara Ren yang biasa terdengar di ruang kuliah.
Namun di dalam dadanya, sesuatu bergerak jauh lebih kasar.
Pesan-pesan yang belum ia hapus.
Foto-foto yang mungkin masih disimpan seseorang.
Kenji.
Kazuma.
Forum anonim.
Aoi yang sudah tahu terlalu banyak untuk disebut tidak tahu, tetapi belum cukup banyak untuk disebut memahami.
Dan besok.
Rin menelan ludah.
Besok adalah hari pertunjukan.
Besok ribuan orang akan datang bukan untuk melihat rumor, bukan untuk melihat Ren Tachibana, bukan untuk mencari jawaban tentang siapa yang sebenarnya berada di balik nama Rin.
Mereka datang untuk ECLIPSE.
Untuk musik.
Untuk panggung.
Untuk lima orang yang berdiri di bawah cahaya.
"Rin?"
Kali ini suara Mei.
Rin berkedip.
Mei berdiri beberapa meter di belakangnya sambil memegang botol air. Yuka sedang mengatur sepatu panggungnya. Chino berbicara dengan salah satu staf kostum sambil sesekali melihat ke arah layar besar.
"Aku baik-baik saja," kata Rin sebelum Mei sempat bertanya.
Mei mengangkat alis.
"Aku belum tanya."
Rin tersenyum kecil.
"Makanya."
Mei mendengus pelan.
"Kalau begitu jangan jawab pertanyaan yang belum keluar."
Yuka tertawa dari belakang.
"Itu berarti dia memang kelihatan mencurigakan."
"Hei."
Rin menoleh dan memasang ekspresi pura-pura tersinggung.
Chino ikut tertawa.
Untuk beberapa detik, semuanya terasa normal.
Hanya lima gadis muda yang akan naik panggung.
Tidak ada Kenji.
Tidak ada Kazuma.
Tidak ada forum.
Tidak ada nama Ren.
Hanya ECLIPSE.
Aoi menepuk tangannya dua kali.
"Posisi."
Suasana langsung berubah.
Musik pembuka terdengar dari speaker.
Bukan versi final. Hanya track latihan dengan beberapa lapisan suara yang sengaja dikurangi. Namun ketika dentuman pertama memenuhi arena, udara seperti ikut bergetar.
Rin melangkah ke posisi Center.
Sol sepatu latihannya menyentuh permukaan panggung yang dingin dan keras.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Tubuhnya mengingat lebih cepat daripada pikirannya.
Formasi pertama.
Putaran.
Pergantian posisi.
Tangan kanan naik pada hitungan tertentu. Bahu bergerak mengikuti aksen musik. Kaki bergeser setengah langkah. Aoi berada di sisi kiri. Mei dan Yuka bergerak mengikuti pola silang. Chino mengambil posisi belakang sebelum kembali masuk ke formasi utama.
"Stop."
Suara Aoi terdengar dari headset.
Musik mati.
Semua berhenti hampir bersamaan.
Aoi melihat monitor panggung.
"Rin, kamu terlalu maju sekitar sepuluh sentimeter di transisi kedua."
Rin melihat tanda kecil di lantai.
"Benar."
"Kalau lampu belakang masuk dari sudut kanan, bayanganmu bakal bertabrakan dengan formasi."
Rin mengangguk.
"Ulang."
Tidak ada protes.
Musik kembali.
Mereka mengulang.
Kali ini Rin berhenti tepat pada tanda.
Lampu dari atas bergerak mengikuti cue. Satu sorot putih memotong panggung. Kemudian dua lampu biru menyapu sisi arena. Panel LED di belakang mereka berubah dari hitam menjadi pola cahaya yang bergerak cepat.
Semuanya bekerja dalam hitungan detik.
Satu kesalahan kecil dapat membuat seluruh gambar terlihat berantakan.
Aoi mengangkat tangan.
"Bagus. Lanjut."
Rin menarik napas.
Dadanya naik turun.
Aneh.
Semakin banyak pikirannya terpecah, semakin mudah tubuhnya masuk ke mode kerja.
Mungkin karena tubuh tidak punya ruang untuk takut ketika setiap detik sudah memiliki tugas.
Hitungan empat.
Langkah.
Putar.
Tatapan ke depan.
Senyum.
Vokal.
Gerakan.
Pergantian formasi.
Semua tersusun seperti sesuatu yang sudah ditanam jauh ke dalam tubuh.
Mereka masuk ke bagian lagu pertama.
Rin mengambil mikrofon.
"Check."
Suara kecil itu memantul ke seluruh arena.
Teknisi audio langsung menjawab melalui komunikasi internal.
"Center mic, sedikit terlalu terang."
"Naikkan monitor vokal dua."
"Copy."
Rin mengangkat mikrofon lagi.
"Check. One, two."
Suara vokalnya terdengar melalui speaker.
Jernih.
Bahkan terlalu jernih untuk ruangan sebesar itu.
Seorang staf produksi yang sedang berdiri dekat FOH menoleh.
Rin tidak memperhatikannya.
Ia hanya menunggu.
"Masuk chorus."
Aoi memberi aba-aba.