[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #75

Pengakuan Setengah Hati

Malam telah menutup Nagoya ketika pintu kamar hotel ECLIPSE akhirnya tertutup.

Suara langkah kaki kru yang sejak sore memenuhi lorong perlahan menghilang. Sesekali masih terdengar roda koper didorong melewati karpet, suara pintu kamar dibuka lalu ditutup, atau percakapan pendek para staf yang kembali ke kamar masing-masing setelah seharian bekerja.

Di dalam kamar, Rin tidak menyalakan lampu utama.

Hanya lampu kecil di dekat meja yang menyala, memberikan warna kekuningan pada dinding dan permukaan meja yang dipenuhi botol air mineral, handuk kecil, kartu akses hotel, serta beberapa lembar rundown konser.

Rin duduk di tepi tempat tidur.

Rambut panjangnya masih terurai dari penampilan gladi. Ia sudah membersihkan sebagian riasan, tetapi garis tipis eyeliner masih tersisa di sudut matanya. Kostum latihan telah diganti dengan pakaian hotel yang sederhana. Kaus longgar dan celana panjang membuat tubuhnya terlihat jauh lebih biasa dibandingkan sosok Center yang beberapa jam lalu berdiri di tengah ribuan kursi kosong.

Di tangannya ada ponsel.

Layar menyala.

Satu pesan.

Kemudian satu lagi.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya nomor yang tidak dikenalnya.

Rin membaca kalimat yang sama untuk ketiga kalinya.

Jangan pikir besok akan berjalan seperti biasa.

Jarinya berhenti di atas layar.

Ia mematikan ponsel.

Lalu menyalakannya lagi.

Kebiasaan buruk.

Seolah dengan melihat layar sekali lagi, ia bisa menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat.

Tidak ada.

Rin menekan tombol mati.

Napasnya keluar perlahan.

Ia sudah memutuskan.

Malam ini ia akan bicara.

Bukan semuanya.

Belum.

Tetapi cukup untuk membuat dua orang lain tahu bahwa apa yang sedang terjadi bukan sekadar rumor internet.

Ia mengambil ponsel sekali lagi dan mengetik pesan.

Aoi, Mei. Bisa ke kamarku sebentar? Aku perlu bicara.

Pesan terkirim.

Tiga titik muncul.

Lalu balasan dari Mei.

Sekarang?

Rin mengetik.

Iya, tolong jangan ajak yang lain dulu

Beberapa detik kemudian.

Oke.

Rin meletakkan ponsel di atas meja.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia menatap pintu.

Untuk pertama kalinya sejak ancaman Kazuma dimulai, ia akan membuka sebagian pintu itu kepada orang lain.

Hanya sebagian.

Ketukan terdengar.

Tok.

Tok.

Rin berdiri terlalu cepat.

Kepalanya sempat terasa ringan.

Ia berhenti, menarik napas, lalu berjalan ke pintu.

Ketika dibuka, Aoi berdiri di depan bersama Mei.

Aoi masih mengenakan pakaian latihan. Rambutnya sudah dilepas dari ikatan panggung dan jatuh sedikit berantakan di sekitar wajah. Mei membawa dua botol teh hangat dari mesin penjual otomatis hotel.

Mei mengangkat salah satunya.

"Aku tidak tahu ini percakapan macam apa, jadi aku bawa minuman."

Rin hampir tertawa.

"Hanya kamu yang bisa membawa teh ke situasi seperti ini."

"Kalau ternyata tidak serius, berarti kita minum teh."

Aoi melirik Rin.

"Tapi dari wajahmu, sepertinya serius."

Senyum Rin hilang.

Ia membuka pintu lebih lebar.

"Masuk."

Keduanya masuk.

Rin menutup pintu.

Klik.

Suara kunci terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.

Aoi langsung memperhatikan.

"Kamu takut ada yang mendengar?"

Rin tidak menjawab.

Ia berjalan ke meja, mengambil botol air, lalu duduk.

Aoi dan Mei saling pandang.

Mereka kemudian duduk di kursi dan ujung tempat tidur.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Televisi hotel menyala tanpa suara.

Lampu kota Nagoya terlihat melalui celah tirai.

Rin menatap meja.

"Aku perlu mengatakan sesuatu."

Aoi tidak menyela.

Mei menaruh botol tehnya di samping lutut.

Rin menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Ada seseorang yang mengawasi aku."

Mei mengerutkan dahi.

"Maksudmu paparazzi?"

"Lebih dari itu."

Aoi langsung berubah.

"Siapa?"

"Aku tidak tahu nama aslinya."

"Dia menghubungimu?"

Rin mengangguk.

"Sudah beberapa waktu."

Aoi bersandar sedikit ke depan.

"Seberapa jauh?"

Rin menarik napas.

"Dia punya foto-fotoku."

"Foto panggung?"

"Foto pribadi."

Ruangan menjadi sunyi.

Mei menatap Rin.

"Foto pribadi seperti apa?"

Rin menurunkan pandangan.

"Foto saat aku tidak sedang bekerja."

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Namun perubahan kecil di wajah Aoi sudah cukup menunjukkan bahwa ia memahami tingkat bahayanya.

"Dia mengancammu?"

"Iya."

"Uang?"

Rin diam sebentar.

"Awalnya."

Aoi mengernyit.

"Awalnya?"

Rin mengangguk pelan.

"Kemudian tuntutannya berubah."

"Menjadi apa?"

Rin menggigit bagian dalam pipinya.

"Dia ingin punya akses kepadaku."

Mei langsung menegakkan tubuh.

"Akses bagaimana?"

"Aku tidak tahu persis."

Rin menggeleng.

"Yang jelas, dia ingin aku memenuhi keinginannya secara pribadi. Bukan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan."

Aoi berdiri.

Kursi di belakangnya bergeser dan kakinya menggesek lantai.

"Dia memerasmu."

Rin mengangguk.

"Ya."

"Dan kamu selama ini menghadapi ini sendirian?"

Nada Aoi meninggi.

Rin tidak menjawab.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aoi berjalan dua langkah ke arah jendela, lalu berhenti. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Kenapa kamu tidak bilang?"

"Karena aku takut."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tidak dihias.

Tidak dipoles.

Lihat selengkapnya