[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #76

Teror Telepon Malam

Pukul dua lewat tiga menit.

Hotel sudah berubah menjadi tempat yang berbeda dari beberapa jam sebelumnya.

Lorong yang sore tadi dipenuhi anggota kru, suara koper, percakapan, dan bunyi pintu kamar yang dibuka-tutup kini hampir sepenuhnya sunyi. Lampu-lampu koridor menyala dalam interval yang sama, meninggalkan bayangan lembut di sepanjang karpet gelap. Pendingin udara berdengung rendah dari langit-langit.

Rin belum tidur.

Ia sudah berbaring hampir satu jam, tetapi setiap kali matanya terpejam, pikirannya kembali ke panggung.

Tiga ribu kursi.

Lampu.

Suara Aoi.

Tangan Mei.

Berlima.

Ia membalik tubuh.

Selimut bergeser sampai pinggang.

Ponsel pribadinya berada di meja samping tempat tidur. Bukan ponsel yang biasa digunakan untuk pekerjaan grup. Ponsel ini hanya diketahui oleh beberapa orang.

Layar menunjukkan pukul 02.03.

Rin menarik napas dan mencoba memejamkan mata lagi.

Kemudian ponsel itu berdering.

Suara deringnya terdengar terlalu keras di kamar yang sunyi.

Rin membuka mata.

Tangannya bergerak ke arah meja.

Nomor tidak dikenal.

Ia tidak langsung mengangkat.

Dering berhenti.

Kamar kembali sunyi.

Rin menatap layar.

Satu detik.

Dua.

Lima.

Kemudian telepon masuk lagi.

Nomor yang sama.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia duduk.

Rambutnya jatuh ke depan bahu. Pakaian tidurnya longgar dan sederhana, sama sekali tidak menyerupai Rin yang berdiri di atas panggung. Tidak ada riasan. Tidak ada sepatu. Tidak ada lampu.

Hanya dirinya.

Atau setidaknya begitu seharusnya.

Rin mengangkat telepon.

"Hallo?"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas.

Pelan.

Sengaja dibiarkan terdengar.

Rin menegang.

"Siapa?"

Suara laki-laki terdengar.

Tenang.

Terlalu tenang.

"Selamat malam, Rin."

Darah seperti turun dari wajahnya.

Rin tidak menjawab.

Suara itu kembali terdengar.

"Aku membangunkanmu?"

Rin berdiri.

"Siapa kamu?"

Tawa pendek terdengar dari ujung sambungan.

"Kamu tahu."

Jari Rin mencengkeram ponsel.

Ia mengenal suara itu.

Kazuma.

Ruangan terasa tiba-tiba menyempit.

"Apa yang kamu mau?"

"Aku cuma ingin mengucapkan selamat malam."

"Jangan hubungi aku lagi."

Rin hendak memutus sambungan.

"Jangan."

Satu kata.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat jarinya berhenti.

Kazuma melanjutkan.

"Aku sedang membayangkan wajahmu sekarang."

Rin tidak menjawab.

"Rambutmu pasti masih terurai."

Napas Rin tertahan.

"Dan kamu belum memakai pakaian panggung."

Tangannya membeku.

Kazuma tertawa pelan.

"Kamu memakai pakaian tidur warna terang, bukan?"

Rin menatap tubuhnya sendiri.

Kaus longgar.

Celana panjang.

Ia berdiri perlahan.

Matanya bergerak menuju pintu.

"Bagaimana kamu..."

"Jangan terlalu tegang."

Suara Kazuma tetap datar.

"Aku tidak sedang masuk ke kamarmu."

Rin menelan ludah.

"Tapi kamu bisa melihatku?"

"Anggap saja begitu."

Rin berjalan mundur satu langkah.

Punggungnya hampir menyentuh dinding.

"Di mana kamu?"

Kazuma tidak menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya, ia berkata,

"Kamu kelihatan berbeda ketika tidak ada lampu panggung."

Rin merasakan telapak tangannya mulai basah.

"Berhenti."

"Di panggung kamu selalu tersenyum."

"Berhenti."

"Padahal sekarang kamu bahkan tidak bisa bernapas dengan tenang."

Rin menekan ponsel lebih erat ke telinga.

"Kalau kamu punya sesuatu untuk dikatakan, katakan."

Suara Kazuma berubah sedikit.

Bukan lebih keras.

Justru lebih dingin.

"Nikmati konsermu besok di Nagoya, Rin cintaku, karena di Osaka, dunia akan melihat siapa yang ada di balik rokmu. Semua ini harusnya tidak terjadi kalau manajermu menurutiku."

Rin tidak langsung memahami kalimat itu.

Bukan karena tidak mengerti.

Karena otaknya seperti menolak memprosesnya.

Osaka.

Lihat selengkapnya