Rin terbangun sebelum alarm berbunyi.
Bukan karena suara.
Bukan karena mimpi.
Rasa sakitlah yang membangunkannya.
Sebuah denyut berat berpusat di belakang mata kirinya, menjalar perlahan ke pelipis dan sisi kepala. Ketika ia mencoba membuka mata, cahaya tipis yang masuk dari sela tirai kamar hotel terasa terlalu tajam.
Rin langsung menutup mata lagi.
Napasnya tertahan.
"Ah..."
Suara kecil itu keluar tanpa sengaja.
Tangannya meraba meja di samping tempat tidur sampai menemukan ponsel.
Pukul 07.18.
Ia seharusnya sudah bersiap.
Rin mencoba bangun.
Kesalahan.
Dunia bergerak.
Bukan kamar yang benar-benar berputar, tetapi sensasi seperti lantai kehilangan posisi tetap selama beberapa detik. Ia kembali menjatuhkan tubuh ke bantal.
Matanya terpejam rapat.
Kemarin malam.
Kazuma.
Koridor.
Aoi dan Mei.
Osaka.
Kemudian sesuatu yang lain muncul di benaknya.
Botol-botol kecil yang pecah di lantai apartemennya.
Tangan Kenji.
Suara kaca.
Dan setelah itu, tidak ada lagi persediaan yang bisa ia gunakan.
Empat puluh delapan jam.
Rin menghitungnya tanpa sadar.
Empat puluh delapan jam sejak tubuhnya menerima terapi terakhir.
Ia menarik napas.
Sebagai mahasiswa kedokteran, ia tahu tubuh tidak bekerja seperti jam yang langsung berhenti ketika sesuatu dihentikan. Ia juga tahu bahwa perubahan gejala tidak dapat disederhanakan menjadi satu mekanisme tunggal.
Namun pengetahuan itu tidak membuat kepalanya terasa lebih ringan.
Ia membuka mata.
Cahaya pagi masuk melalui celah tirai.
Terlalu terang.
Rin bangkit perlahan, duduk di tepi tempat tidur, lalu menekan kedua telapak tangan ke pelipis.
Keringat dingin muncul di garis rambut.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Rasa sakit tidak hilang.
Justru berdenyut lebih dalam.
"Bagus..."
Ia tertawa kecil tanpa humor.
"Timing-nya bagus sekali."
Ia berdiri.
Kakinya terasa lemah.
Ia sempat memegang ujung meja.
Hari ini adalah konser.
Nagoya.
Tur nasional pertama ECLIPSE.
Tidak ada ruang untuk sakit.
Tidak ada ruang untuk tubuh yang menolak bekerja.
Ia berjalan menuju kamar mandi.
Tiga langkah.
Empat.
Pada langkah kelima, pandangannya kembali bergetar.
Rin berhenti.
Tangannya mencengkeram kusen pintu.
Napasnya menjadi pendek.
"Jangan sekarang."
Ia menunggu sampai keseimbangannya kembali.
Kemudian masuk.
Dua jam kemudian, ruang rias arena jauh lebih ramai.
Lampu-lampu besar mengelilingi cermin. Kotak kosmetik terbuka di meja. Kabel hair dryer bersilangan di lantai. Penata rambut berjalan dari satu kursi ke kursi lain sambil membawa sisir dan alat styling.
Di luar ruangan, suara kru semakin ramai.
Hari konser akhirnya tiba.
Yuka masuk sambil membawa dua botol air.
"Rin, kamu..."
Kalimatnya berhenti.
Rin sedang duduk di depan cermin.
Wajahnya sudah diberi dasar riasan, tetapi warna kulitnya tetap terlihat lebih pucat daripada biasanya. Kedua tangannya berada di pangkuan. Jari-jarinya sesekali bergerak kecil seperti sedang mencari sesuatu untuk digenggam.
Yuka menaruh botol air.
"Kamu sakit?"
Rin menoleh.
Senyumnya muncul.
Terlalu cepat.
"Aku cuma kurang tidur."
Yuka mengernyit.
"Kurang tidur tidak biasanya bikin kamu seperti ini."
Rin ingin menjawab.
Namun ketika ia berdiri, lututnya kehilangan tenaga.
Tubuhnya miring.
Yuka langsung menangkap lengannya.
"Hei!"
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bilang tidak apa-apa."
Yuka menopang bahunya.
"Pelan."
Rin membiarkan dirinya dibawa kembali ke kursi.
Ia malu.
Bukan karena Yuka melihat kelemahannya.
Karena tubuhnya sendiri terasa seperti sedang mengkhianatinya.
"Sejak kapan?"
Yuka berjongkok di depannya.
"Sejak bangun."
"Sakit kepala?"
Rin mengangguk.
"Parah?"
"Sedang."
Yuka menatapnya tanpa percaya.
"Rin."
Rin menghela napas.
"Parah."
Yuka mengambil handuk kecil dari meja, meminta es kepada staf, lalu beberapa menit kemudian kembali dengan kompres dingin.
"Angkat kepala."
Rin menurut.
Es yang dibungkus kain ditempelkan ke dahinya.
Sensasi dingin membuatnya mengerang pelan.