Malam di Nagoya telah berubah menjadi lautan cahaya.
Dari belakang panggung, bahkan sebelum tirai terakhir terbuka, Rin bisa mendengar suara penonton yang memenuhi arena sampai ke celah-celah dinding. Ribuan suara bercampur menjadi satu dengung panjang yang terasa seperti gelombang. Sesekali terdengar teriakan nama ECLIPSE, lalu suara seseorang meneriakkan nama masing-masing anggota, tetapi ketika nama Rin terdengar paling keras, dadanya seperti menerima tekanan dari dalam.
Ia berdiri di ujung lorong backstage dengan mikrofon di tangan.
Lampu biru dari layar monitor memantulkan wajahnya yang sudah sepenuhnya menjadi Rin. Rambut panjangnya jatuh di sisi pipi, sedikit lembap karena keringat. Riasan di sekitar matanya mulai kehilangan kesempurnaan setelah hampir seluruh malam bergerak tanpa henti. Gaun panggung yang dikenakannya berkilau setiap kali tubuhnya bergeser sedikit di bawah lampu kerja.
Di sampingnya, Aoi melakukan peregangan kecil pada pergelangan kaki.
"Setelah ini lagu kesepuluh," katanya sambil melihat monitor panggung. "Dua lagu lagi."
Yuka mengangguk cepat. "Dua lagu lagi."
Chino memegang botol air dengan kedua tangan. "Aku masih nggak percaya ini penuh."
Mei tertawa kecil. "Jangan ngomong begitu sekarang. Nanti malah bikin aku nangis."
"Mei sudah hampir nangis dari lagu ketiga," kata Yuka.
"Aku cuma berkeringat dari mata."
Aoi menoleh.
"Keringat dari mata?"
"Jangan dipikirkan."
Mereka tertawa.
Rin ikut tersenyum.
Gerakan kecil itu terasa sangat mudah. Bibirnya terangkat, matanya menyipit sedikit, bahunya ikut bergoyang ketika Yuka tertawa lebih keras. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang perlu dicurigai.
Tetapi ketika ia menunduk sebentar, senyumnya menghilang.
Di layar monitor, lima bayangan ECLIPSE bergerak di tengah arena.
Mereka sudah membawakan sembilan lagu.
Sembilan.
Dari dua belas.
Rin menatap angka urutan lagu yang tertulis di lembar rundown di tangannya. Kertas itu sudah penuh bekas lipatan dan noda kecil dari keringat.
Dua belas lagu.
Satu malam.
Satu panggung.
Dan mungkin, untuk dirinya, satu kesempatan terakhir.
"Rin."
Ia mengangkat wajah.
Aoi sedang memandangnya.
"Giliran kita."
Rin mengangguk.
"Ya."
Suaranya sedikit lebih pelan daripada biasanya.
Aoi tidak bertanya.
Mereka berjalan menuju posisi masuk.
Begitu lampu backstage meredup, lima anggota ECLIPSE berdiri dalam satu garis. Musik intro lagu kesepuluh mulai terdengar dari monitor panggung. Dentuman bass merambat melalui lantai, masuk ke telapak kaki mereka.
Rin menarik napas.
Sekali.
Dalam.
Kemudian pintu panggung terbuka.
Cahaya putih langsung menyambar wajahnya.
Sorakan meledak.
Untuk sesaat, ia tidak melihat apa pun.
Bukan Kenji.
Bukan kamar apartemen yang berantakan setelah ayahnya menghancurkan barang-barangnya.
Bukan botol obat yang pecah di lantai.
Bukan pesan anonim Kazuma.
Bukan wajah Ryuuto yang menyembunyikan sesuatu di balik ekspresi tenangnya.
Bukan nama Ren Tachibana yang tertulis di kartu mahasiswa.
Yang ada hanya ribuan titik cahaya.
Light stick bergerak seperti bintang yang terpantul di permukaan laut.
"Nagoya!"
Suara Rin keluar melalui mikrofon.
Sorakan membalas.
"Kalian masih bersama kami?"
Jawaban penonton bahkan lebih keras.
Rin tertawa.
Tawa itu tidak dibuat-buat.
"Kalau begitu, dua lagu terakhir!"
Musik dimulai.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat mengikutinya.
Langkah pertama.
Putaran.
Perubahan formasi.
Tangan Aoi terangkat di sebelah kiri. Yuka bergeser setengah langkah. Mei menyelesaikan gerakan tepat pada ketukan berikutnya. Chino berputar dengan senyum yang begitu lebar sampai mata gadis itu hampir tertutup.
Rin mengikuti semuanya.
Tubuhnya lelah. Kepalanya masih menyisakan denyut sakit dari pagi. Kakinya terasa berat setelah latihan dan pertunjukan sepanjang hari. Setiap tarikan napas seperti harus diperoleh dengan sedikit usaha lebih besar.
Namun musik membuat rasa sakit itu kehilangan nama.
Ia bergerak.
Bernyanyi.
Tersenyum.
Melihat ke depan.
Memberikan semua yang tersisa.
Ketika lagu kesepuluh selesai, sorakan belum turun.
Ketika lagu kesebelas selesai, sebagian penonton sudah berdiri.
Lalu lampu arena padam.
Satu titik cahaya muncul di tengah panggung.
Rin berdiri sendirian.
Ini adalah lagu kedua belas.
Lagu terakhir.
Tidak ada koreografi pembuka. Tidak ada ledakan confetti. Tidak ada efek visual yang rumit.
Hanya piano.
Nada pertama terdengar pelan.
Rin menundukkan kepala.
Mikrofon berada beberapa sentimeter dari bibirnya.
Ia memejamkan mata.
Kemudian menyanyi.
Nada pertama keluar lembut.
Nada kedua sedikit bergetar.
Pada bait berikutnya, suaranya mulai terbuka.
Ada sesuatu yang berbeda malam itu.
Aoi yang berdiri di sisi panggung menyadarinya lebih dulu.