[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #79

Serbuan Paparazzi

Pagi di Nagoya datang tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bernapas.

Langit masih pucat ketika lobi hotel mulai dipenuhi suara roda koper. Staf ECLIPSE bergerak cepat dari lift menuju pintu depan, membawa garment bag, kotak perlengkapan panggung, tas kosmetik, dan koper-koper yang akan dimasukkan ke dalam bus. Beberapa anggota staf berbicara melalui headset dengan suara rendah, memeriksa daftar barang, memastikan tidak ada yang tertinggal dari malam sebelumnya.

Di balik kaca pintu utama, jalanan terlihat basah oleh sisa hujan dini hari.

Semuanya tampak normal.

Sampai seorang petugas keamanan berdiri di depan pintu dan menatap keluar terlalu lama.

Di seberang jalan, satu kamera tele terlihat.

Kemudian dua.

Lalu tiga.

Ryuuto keluar dari lift sambil memeriksa ponselnya. Wajahnya masih lelah setelah malam panjang, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat petugas keamanan yang tidak segera membuka jalur keluar.

"Ada apa?"

Petugas itu menoleh.

"Mereka sudah datang."

Ryuuto tidak perlu bertanya siapa.

Ia berjalan mendekati kaca.

Di luar hotel, belasan orang berdiri di belakang garis pembatas sementara. Sebagian memegang kamera dengan lensa panjang. Sebagian membawa mikrofon. Ada yang berbicara melalui telepon sambil terus mengarahkan pandangan ke pintu hotel. Beberapa kendaraan media terparkir tidak jauh dari trotoar.

Tidak banyak.

Belum.

Tetapi jumlahnya cukup untuk membuat satu hal menjadi jelas.

Mereka tidak datang untuk meliput konser.

Mereka datang untuk mencari Rin.

Ryuuto menatap layar ponselnya.

Sebuah artikel baru saja naik.

Judulnya menggunakan kata-kata yang sengaja dibuat menggantung.

MISTERI IDENTITAS CENTER ECLIPSE MAKIN MEMANAS SETELAH KONSER NAGOYA.

Di bawahnya ada foto Rin dari panggung malam sebelumnya.

Foto itu diambil ketika Rin menangis.

Ryuuto menggeser layar.

Komentar sudah bertambah ribuan.

Ia mengunci ponsel.

"Jangan buka pintu utama."

Petugas keamanan mengangguk.

"Bus sudah siap?"

"Sudah."

"Bagus."

Ryuuto menoleh ke arah lift.

"Jangan ada yang bicara dengan mereka."

Petugas itu mengangguk lagi.

"Termasuk member?"

"Terutama member."

Di lantai atas, Rin belum turun.

Ia duduk di tepi tempat tidur hotel dengan kedua tangan bertumpu di lutut.

Rambutnya sudah tidak lagi tertata seperti semalam. Sebagian jatuh ke depan wajah. Ia mengenakan pakaian sederhana untuk perjalanan, tetapi tas kecil di sampingnya masih berisi beberapa benda yang tidak pernah ia biarkan terpisah dari dirinya.

Ponselnya berada di atas meja.

Layarnya mati.

Rin tidak menyentuhnya.

Ia sudah tahu apa yang ada di sana.

Sejak bangun, notifikasi tidak berhenti.

Pesan dari penggemar.

Pesan dari akun resmi.

Pesan dari staf.

Potongan berita.

Tangkapan layar forum.

Nama Rin muncul terlalu sering.

Ia menatap layar tanpa menyalakannya.

Kemudian mengetuk meja dengan ujung jari.

Sekali.

Dua kali.

Berhenti.

Semalam ia menangis di antara Aoi, Mei, Yuka, dan Chino.

Mereka mengira itu air mata bahagia.

Ia membiarkan mereka percaya.

Sekarang ia harus turun dan berdiri di antara mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Ketukan terdengar.

"Rin?"

Suara Mei.

Rin langsung berdiri.

"Ya."

Ia berusaha membuat suaranya terdengar ringan.

Pintu terbuka.

Mei muncul dengan jaket perjalanan dan rambut yang masih sedikit berantakan.

"Kita turun lima menit lagi."

Rin mengangguk.

"Sudah siap."

Mei menatapnya beberapa detik.

"Kamu tidur?"

"Sedikit."

"Kamu bohong."

Rin tersenyum kecil.

"Ketahuan?"

"Matamu."

Rin mengusap sudut matanya.

"Masih kelihatan?"

"Sedikit."

Mei masuk dan membenarkan kerah jaket Rin yang miring.

Gerakan sederhana itu membuat Rin menahan napas.

"Semalam..." Mei berhenti.

Rin menunggu.

"Kamu bahagia, kan?"

Rin menatapnya.

Ada sesuatu yang bergerak di belakang matanya.

"Ya."

Mei tersenyum.

"Bagus."

Ia menepuk bahu Rin.

"Ayo. Osaka menunggu."

Rin menunduk sebentar.

"Ya."

Ketika pintu kamar tertutup, senyum itu hilang.

Lobi hotel sudah jauh lebih ramai.

Aoi berdiri dekat lift bersama Yuka dan Chino. Chino memeluk tasnya dengan kedua tangan.

"Ada apa di luar?"

Yuka berusaha melihat melalui celah tirai.

"Kayaknya wartawan."

"Wartawan?"

Chino mendekat.

Kemudian suara pertama terdengar.

"Rin!"

Semua orang di lobi menoleh.

Suara itu datang dari luar kaca.

Seseorang berteriak dari trotoar.

"Rin! Apakah kamu bersedia menjawab satu pertanyaan?"

Chino membeku.

Yuka segera menarik lengannya.

"Jangan ke sana."

"Tapi..."

"Jangan."

Aoi berdiri di depan mereka.

"Semua tetap di sini."

Ryuuto datang dari sisi lobi.

"Jangan lihat keluar."

Lihat selengkapnya