[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #80

Pengorbanan yang Manipulatif

Kantor sementara Vivid Prominence di Osaka tidak memiliki apa pun yang menyerupai kantor agensi yang biasa dilihat publik.

Bangunannya berada di lantai tiga sebuah gedung komersial tua yang disewa untuk kebutuhan tur. Dindingnya putih kusam, karpet lorongnya terlalu tipis, dan pendingin ruangan mengeluarkan suara dengung yang konstan. Beberapa poster ECLIPSE ditempel di dinding menggunakan perekat sementara. Salah satu sudut bahkan masih memiliki kardus perlengkapan konser yang belum sempat dibongkar.

Pagi yang seharusnya digunakan untuk persiapan jadwal Osaka berubah menjadi pagi yang penuh telepon.

Sejak bus tiba, ponsel para staf tidak berhenti bergetar.

Media menunggu di luar hotel.

Forum anonim dipenuhi spekulasi.

Nama Rin mulai muncul bersamaan dengan nama Ren Tachibana.

Investor mengirim pertanyaan.

Sponsor meminta penjelasan.

Satu stasiun televisi menghubungi agensi dan menanyakan apakah ECLIPSE akan tetap tampil di Osaka.

Ryuuto duduk di ujung meja konferensi kecil.

Di hadapannya terdapat lima lembar laporan.

Ia tidak membacanya lagi.

Ia sudah tahu apa yang tertulis.

Kebocoran informasi internal.

Jadwal perjalanan.

Rute promosi.

Informasi hotel.

Beberapa dokumen administratif.

Dan sebuah daftar yang membuat wajah investor utama mereka berubah sejak pagi.

Nama lengkap anggota ECLIPSE.

Ryuuto mengangkat pandangan.

"Siapa yang punya akses?"

Tidak ada yang menjawab.

Enam orang staf duduk mengelilingi meja.

Sato berada di sisi kanan.

Usianya baru dua puluh tiga tahun dan ia adalah salah satu asisten termuda di agensi. Pekerjaannya tidak pernah terlihat oleh publik. Ia mengurus jadwal kendaraan, mencetak dokumen, memeriksa kebutuhan ruang ganti, memastikan member menerima makanan setelah latihan, dan menjadi orang yang biasanya masih berada di kantor ketika semua orang lain sudah pulang.

Tangannya menggenggam pulpen.

"Aku sudah memeriksa log dokumen yang dibagikan minggu ini," kata salah satu staf senior.

Ryuuto menatapnya.

"Dan?"

"Ada beberapa akses dari akun internal."

"Siapa?"

Staf itu ragu.

"Sato."

Sato langsung mengangkat kepala.

"Aku?"

"Akunnya tercatat mengakses folder tersebut."

Sato menggeleng cepat.

"Aku memang membuka folder jadwal. Tapi aku tidak pernah mengirimkannya ke siapa pun."

Ryuuto menyandarkan tubuh.

"Berarti seseorang menggunakan akunmu."

"Aku tidak tahu."

"Atau kamu yang mengirimnya."

Sato menatapnya.

Wajahnya perlahan berubah.

"Saeki-san..."

Ryuuto mengetuk meja sekali.

"Kita tidak punya waktu untuk permainan."

"Aku tidak bermain-main."

Suara Sato bergetar.

"Aku tidak pernah menjual data member."

Ruangan menjadi sunyi.

Di sisi lain meja, Rin duduk bersama Aoi, Mei, Yuka, dan Chino. Mereka tidak seharusnya berada di dalam rapat internal tersebut. Namun karena seluruh jadwal hari itu berubah mendadak, mereka diminta menunggu di ruang konferensi sampai situasi dengan media ditangani.

Rin sejak tadi tidak banyak bicara.

Ia hanya memperhatikan.

Cara Ryuuto memandang Sato.

Cara staf lain menghindari mata pemuda itu.

Cara dokumen dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain.

Dan terutama cara Ryuuto memilih kalimatnya.

"Data internal keluar."

Ryuuto menggeser salah satu lembar kertas.

"Media sudah mendapatkan informasi yang seharusnya hanya berada di dalam sistem kita."

Ia berhenti.

"Dan akses terakhir yang tercatat berasal dari akun Sato."

Sato berdiri.

"Aku bisa menjelaskan."

"Duduk."

"Aku bisa menjelaskan, Saeki-san."

"Duduk."

Nada Ryuuto menjadi dingin.

Sato perlahan duduk kembali.

Rin merasakan ujung jarinya dingin.

Ada sesuatu yang sangat familiar dari adegan itu.

Bukan karena ia pernah melihat Sato dituduh sebelumnya.

Karena ia mengenali pola.

Seseorang memiliki masalah.

Seseorang harus disalahkan.

Orang yang paling mudah dikorbankan dipilih.

Kemudian semua orang lain bisa kembali bekerja seolah masalah telah selesai.

Ryuuto mengambil napas.

"Kita akan menyampaikan kepada pihak investor bahwa kebocoran terjadi akibat pelanggaran prosedur oleh staf."

Sato menatapnya.

"Saeki-san?"

"Dan kamu akan dibebastugaskan mulai hari ini."

Ruangan seketika terasa lebih kecil.

Sato tidak langsung memahami kalimat itu.

"Apa?"

"Kamu tidak perlu datang lagi ke kantor."

"Tapi saya tidak melakukan itu."

Ryuuto menatapnya datar.

"Keputusan sudah dibuat."

"Saya tidak menjual data siapa pun."

Suaranya semakin tinggi.

"Saya bahkan tidak tahu bagaimana data itu bisa keluar."

Ryuuto tidak berkedip.

"Kalau begitu kamu seharusnya menjaga akunmu dengan lebih baik."

Sato terdiam.

Kalimat itu seperti pukulan yang tidak meninggalkan suara.

Ia menatap layar laptop di depannya, kemudian kembali menatap Ryuuto.

"Saya bekerja di sini hampir dua tahun."

"Aku tahu."

"Saya pernah tidur di kantor ketika jadwal tur kacau."

"Aku tahu."

"Saya pernah mengantar member ke rumah sakit ketika mereka sakit."

Ryuuto tidak menjawab.

Air mata mulai menggenang di mata Sato.

"Dan sekarang saya dijadikan orang yang menjual mereka?"

Tidak ada yang bergerak.

Sato mengusap matanya dengan punggung tangan.

"Saya tidak melakukan itu."

Ryuuto berdiri.

"Pertemuan selesai."

"Saeki-san."

"Keluar."

Sato berdiri dengan lutut gemetar.

Ia mencoba mempertahankan wajah profesional, tetapi air mata akhirnya jatuh.

"Saya tidak melakukan itu."

Ryuuto membalikkan badan.

"Saya bilang keluar."

Pintu ruangan terbuka.

Sato berjalan keluar.

Begitu pintu tertutup, tidak ada yang langsung berbicara.

Rin masih menatap pintu itu.

Ia mendengar langkah Sato menjauh di lorong.

Kemudian suara seseorang yang mencoba menahan tangis.

Langkah itu berhenti.

Lalu terdengar suara napas panjang.

Kemudian menghilang.

Lihat selengkapnya