Sore di Osaka Grand Hall dipenuhi suara persiapan.
Dari balik dinding ruang rias, dentuman bass dari soundcheck terdengar seperti denyut jantung raksasa. Setiap beberapa detik, suara teknisi muncul dari pengeras suara internal, disusul bunyi roda flight case yang didorong melewati lorong. Bau hairspray, foundation, kain kostum yang baru disetrika, dan kopi dari gelas kertas bercampur menjadi satu aroma khas backstage yang sudah mulai akrab bagi kelima anggota ECLIPSE.
Konser malam itu belum dimulai.
Tetapi Osaka sudah terasa seperti arena perang.
Sejak pagi, berita tentang Rin semakin liar.
Tidak ada satu artikel yang secara resmi menyatakan apa pun. Tidak ada bukti yang benar-benar dipublikasikan. Hanya potongan foto, forum anonim, pertanyaan media, dan nama Ren Tachibana yang mulai muncul berulang kali.
Rin sendiri belum berada di ruang rias.
Ia sedang melakukan soundcheck bersama Aoi dan staf teknis di panggung utama.
Yuka duduk di depan cermin sambil membiarkan penata rambut merapikan ujung rambutnya.
"Jangan gerak."
"Aku nggak gerak."
"Kamu baru saja bergerak."
"Itu refleks."
Penata rambut mendesah.
"Refleksmu menyusahkan."
Yuka tertawa kecil.
Di cermin besar di depannya, wajahnya perlahan berubah menjadi wajah panggung. Foundation diratakan. Rambut dibentuk. Cahaya lampu rias memantul pada kulit yang sudah diberi sedikit shimmer.
Mei sedang membaca rundown sambil meminum teh hangat.
Chino duduk di sudut ruangan sambil menghafal lirik bagian terakhir.
Rin seharusnya segera kembali.
Tasnya berada di atas meja rias.
Tas hitam sederhana yang hampir selalu dibawanya.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Sampai seorang staf lewat terlalu dekat.
Siku seseorang menyenggol ujung meja.
Tas itu bergeser.
Kemudian jatuh.
Bruk.
Ritsletingnya yang tidak tertutup sepenuhnya terbuka.
Isi tas berhamburan ke lantai.
"Ah!"
Yuka langsung berdiri.
"Astaga."
Lip balm menggelinding ke bawah kursi. Sebuah pouch kecil jatuh di dekat kaki meja. Charger dan beberapa benda pribadi berserakan.
"Ini punya Rin, kan?" tanya Chino.
Yuka berjongkok.
"Iya."
Ia mengambil satu per satu.
Lip balm.
Dompet.
Pouch kosmetik kecil.
Kunci.
Beberapa kartu.
"Jangan sampai ada yang hilang."
Mei menutup rundown.
"Aku bantu."
Yuka mengangguk.
Ia memungut dompet hitam yang terjatuh paling dekat dengan cermin.
Dompet itu terbuka.
Sebuah kartu meluncur keluar.
Yuka menangkapnya sebelum jatuh lagi.
Awalnya ia tidak membaca.
Tangannya hanya bergerak otomatis untuk memasukkan kembali kartu itu.
Namun ketika ia melihat tulisan di bagian atas, gerakannya berhenti.
大学生証
Kartu mahasiswa.
Yuka mengernyit.
"Rin..."
Ia membalik kartu itu.
Kemudian membaca nama di bawah foto.
TACHIBANA REN
Jari Yuka berhenti bergerak.
Ia mengira matanya salah membaca.
Ia mendekatkan kartu ke wajah.
Foto di kartu itu menampilkan seorang pemuda.
Rambut pendek.
Jas formal berwarna gelap.
Wajah lebih kaku daripada yang biasa Yuka lihat.
Tidak ada makeup.
Tidak ada senyum.
Tatapan lurus ke kamera.
Tetapi bentuk mata itu...
Yuka menelan ludah.
"Mei..."
Tidak ada jawaban.
Mei sedang berbicara dengan salah satu staf di dekat pintu.
Yuka kembali melihat kartu itu.
Tachibana Ren.
Nama lengkap.
Tanggal lahir.
Nama fakultas.
Fakultas Kedokteran.
Semuanya tercetak dengan format administratif yang terlalu sederhana untuk menjadi lelucon.
Ia membalik kartu sekali lagi.
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada nama Rin.
Tidak ada ECLIPSE.
Tidak ada penjelasan.
Hanya seorang pemuda bernama Ren Tachibana.
Yuka menatap foto itu.
Kemudian tanpa sadar melihat ke kursi rias di depan cermin.
Tempat Rin biasanya duduk.
Tempat wajah Rin dibentuk setiap hari.
Tempat rambut panjangnya disisir.
Tempat eyeliner ditarik dengan hati-hati.
Tempat senyum seorang idol lahir sebelum naik panggung.
Yuka kembali melihat foto.
Pemuda itu memiliki mata yang sama.
Bukan sekadar mirip.
Sama.
Bentuk kelopak.
Jarak mata.
Garis hidung.
Bahkan sedikit kecenderungan sudut bibir ketika wajah berada dalam posisi netral.
Yuka berdiri tanpa sadar.
"Enggak..."
Kata itu keluar sangat pelan.
Chino menoleh.
"Yuka?"
Yuka tidak menjawab.
Ia membuka dompet itu lebih lebar.
Ada satu kartu lain.
SIM.
Nama yang sama.
Tachibana Ren.
Foto yang sama.
Kali ini tanpa jas kampus.
Wajah pemuda itu terlihat lebih jelas.
Yuka merasa ujung jarinya dingin.
Ia melihat tanggal lahir.
Kemudian mengingat.
Tanggal yang sama.
Usia yang sama.
Sembilan belas tahun.
Tanggal yang pernah mereka rayakan bersama.
Tanggal yang pernah disebut Rin ketika mereka saling bercerita tentang ulang tahun.