[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #82

Keheningan Empat Member

Pintu ruang istirahat itu sudah tertutup hampir sepuluh menit, tetapi tidak seorang pun tampak berniat membukanya.

Di luar, Osaka Grand Hall tetap bergerak seperti biasa. Kru berlari membawa kabel, staf produksi memeriksa urutan cue, suara monitor panggung sesekali meledak dari balik dinding, kemudian menghilang lagi. Tour nasional ECLIPSE masih berjalan. Konser masih beberapa jam lagi. Nama mereka masih tercetak besar di poster yang memenuhi lorong.

Namun di ruangan kecil itu, waktu seperti berhenti.

Yuka duduk di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Kedua lututnya ditekuk. Ia tidak lagi memegang kartu apa pun. Benda itu sudah dikembalikan ke tempatnya.

Aoi berdiri di dekat jendela kecil yang menghadap ke sisi belakang arena. Tirai hanya terbuka beberapa sentimeter. Cahaya sore masuk dalam garis tipis, jatuh di lantai vinyl.

Mei duduk di meja.

Chino berada di sudut sofa dengan kedua tangan memeluk lutut.

Tidak ada yang menangis sekarang.

Justru itu yang membuat suasananya terasa lebih berat.

"Aku enggak tahu harus ngomong apa," kata Yuka akhirnya.

Suaranya pelan.

Aoi masih menghadap jendela.

"Jangan ngomong dulu."

Yuka mengangkat wajah.

Aoi menutup tirai.

"Kalau kita bicara sekarang, kita mungkin mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita maksud."

Mei mengangguk.

"Itu benar."

Chino menatap lantai.

"Tapi kalau diam terus, aku takut malah makin kepikiran."

"Memang akan kepikiran," jawab Mei.

Ia menyandarkan kedua telapak tangannya di atas meja.

"Kita baru tahu sesuatu yang sangat besar tentang orang yang setiap hari bersama kita."

Yuka menarik napas panjang.

"Rasanya aneh."

"Aneh bagaimana?" tanya Mei.

Yuka berpikir cukup lama.

"Bukan karena dia ternyata..." Ia berhenti, mencari kata yang tepat. "Bukan itu."

Ia menatap tiga orang di hadapannya.

"Rasanya aneh karena tiba-tiba semua yang selama ini kita anggap biasa terasa punya arti lain."

Aoi akhirnya menoleh.

Yuka tidak meneruskan.

Ia tidak perlu.

Mei memahami maksudnya.

Selama ini mereka hidup bersama dalam ruang yang sangat sempit. Mereka tahu siapa yang bangun paling pagi, siapa yang paling lama memilih pakaian, siapa yang selalu menyimpan makanan ringan di tas, siapa yang paling sulit tidur setelah konser.

Hal-hal kecil.

Tidak ada yang terasa penting.

Sekarang setiap kebiasaan itu terasa seperti bagian dari kehidupan seseorang yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan.

Chino mengusap matanya.

"Aku merasa bodoh."

"Kenapa?" tanya Mei.

"Karena aku enggak pernah sadar."

Aoi menjawab sebelum Mei.

"Kamu tidak harus sadar."

Chino menatapnya.

Aoi berjalan menjauh dari jendela dan duduk di kursi.

"Kalau seseorang sengaja menyembunyikan sesuatu, berarti dia punya alasan untuk menyembunyikannya."

"Alasan yang mungkin tidak kita suka," kata Yuka.

Aoi mengangguk.

"Ya."

Ia terdiam sebentar.

"Tapi tetap alasan."

Chino menggigit bibir.

"Aku masih marah."

Tidak ada yang menyuruhnya berhenti.

"Aku tahu," kata Mei.

"Aku tahu kita bilang Rin sahabat kita, tapi..." Chino menarik napas yang tersendat. "Aku juga merasa seperti dia memilih untuk tidak percaya kepada kita."

Yuka menunduk.

"Perasaan itu valid."

Chino memandangnya.

"Tapi?"

"Tidak ada tapi."

Yuka mengusap telapak tangannya sendiri.

"Kamu boleh marah tanpa harus membencinya."

Kalimat itu membuat Chino diam.

Mei tersenyum tipis.

"Dan kita boleh merasa terluka tanpa harus membuat keputusan tentang Rin hari ini."

Aoi mengangguk.

"Konser tetap jalan."

Yuka menatapnya.

Aoi menghela napas.

"Aku bukan bicara soal pekerjaan."

Ia menatap tiga orang lainnya.

"Maksudku, hidup kita tetap jalan."

Di atas meja terdapat lima botol minuman yang tadi mereka ambil dari ruang makan. Salah satunya milik Rin.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Aoi memandang botol itu cukup lama.

"Besok kita masih harus bangun pagi."

Yuka tersenyum pahit.

"Dan Rin pasti masih akan mengeluh karena Chino mengambil selimutnya."

Chino langsung menatap Yuka.

"Dia yang selalu mengambil punyaku."

Mei tertawa kecil.

Tawa itu hanya berlangsung dua detik.

Kemudian mereka kembali diam.

Namun kali ini keheningannya sedikit berbeda.

Mereka mulai mengingat Rin bukan sebagai sebuah teka-teki, melainkan sebagai manusia.

Mei memandang botol minuman tadi.

Ia teringat malam ketika seluruh tubuhnya demam setelah latihan dan Rin duduk di samping tempat tidurnya sampai hampir pagi.

Rin tidak melakukan sesuatu yang dramatis.

Ia hanya mengganti air minum ketika habis.

Membuka tirai sedikit ketika kamar terasa pengap.

Mengingatkan Mei untuk makan ketika pagi tiba.

Lalu berangkat latihan seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

Lihat selengkapnya